Film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ Lolos Sensor, Disokong Pemkot, Diijinkan Kepolisian, Tidak Lolos di Mata FPI – Warta Batavia

Kucumbu Tubuh Indahku. Foto: Istimewa.

Islam Nusantara – Film ‘Kucumbu Indah Tubuhku’ yang diputar di acara Pasar Sentiling, Kota Semarang, Jawa Tengah, ditolak oleh Front Pembela Islam (FPI), Ahad (15/09/2019). FPI meminta pemutaran film garapan sutradara Garin Nugroho tersebut dihentikan karena mengandung unsur LGBT.

Padahal, film tersebut akan mewakili Indonesia dalam seleksi Komite Oscar 2020 berbarengan Ave Maryam dan 27 Steps of May. Komite akan memilih 1 dari 3 film untuk dikirim ke seleksi The Academy Awards dalam kategori The Oscars Foreign Language Film.

Kecuali itu, film ini sudah lolos sensor dari pihak berwenang yang juga perwakilan dari institusi keagamaan. Sementara Festival Kota Lama Semarang telah Disokong Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dan sudah memperoleh izin dari kepolisian.

“Lembaga Sensor Film telah melakukan dialog dan pertimbangan untuk meloloskan sensor film ini. Festival Kota Lama Semarang ialah festival yang Disokong oleh pemerintah Kota Semarang dan izin acara sudah diberikan oleh kepolisian setempat, maka tindakan membubarkan secara sepihak ini Ialah tindakan yang tidak menghormati prosedur hukum,” ujar Garin Nugroho, dikutip dari Medcom.id.

Walaupun begitu, ternyata Film tersebut tidak lolos di mata FPI.

dilansir dari Tirto.id, Film ‘Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body)’ bercerita Soal hal penari Lengger Lanang. Film tersebut berkisah Soal hal perjalanan Juno (Muhammad Khan) dari kecil sampai dewasa.

Juno kecil lahir di sebuah desa kecil di daerah Jawa yang terkenal dengan penari Lengger Lanang atau penari laki-laki yang menari tarian perempuan. Kesanggupan alami tersebut didapat dari lingkungan desa dan keluarganya yang sering meleburkan tubuh maskulin dan feminin.

Aksi anarkis akibat keadaan politik membuatnya hidup sendiri, menjadikan ayah dan ibu dari dirinya sendiri. Juno sering melihat aksi anarkis di lingkungannya.

FPI Tolak Film The Santri
Di lain pihak, menantu Imam Besar FPI, Hanif Alathas Tidak mau penayangan film The Santri yang diinisiasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan disutradarai Livi Zheng.

“Front Santri Indonesia Tidak mau film The Santri karena tidak mencerminkan akhlak dan tradisi santri yang sebenarnya,” kata Hanif dikutip dari CNNIndonesia.com.

Film The Santri sedianya akan tayang di Bioskop Oktober 2019 yang akan Hadir. [Islam Nusantara/pin]



Film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ Lolos Sensor, Disokong Pemkot, Diijinkan Kepolisian, Tidak Lolos di Mata FPI – Warta Batavia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *