Fondasi Keberagamaan ialah Keberagaman – Aspiratif News

Views: 13
Read Time:7 Minute, 13 Second

Fondasi Keberagamaan ialah Keberagaman – Aspiratif News

Agama di Indonesia memegang peranan penting dalam kehidupan masarakat. Hal ini dinyatakan dalam dasar negara Indonesia, Pancasila: “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sejumlah agama di Indonesia berpengaruh secara kolektif ke politik, ekonomi, dan budaya.


Dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa “tiap-tiap masyarakat diberikan kebebasan untuk memilih dan mempraktikkan kepercayaannya” dan “menjamin semuanya akan kebebasan untuk menyembah, menurut agama atau kepercayaannya”. Pemerintah, bagaimanapun, secara legal cuma mengakui enam agama, yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu.


Dengan banyaknya agama maupun aliran kepercayaan yang ada di Indonesia, konflik antar-agama seringkali tidak terelakkan. Lebih dari itu, kepemimpinan politis Indonesia memainkan peranan penting dalam hubungan antar-kelompok maupun golongan. Program transmigrasi secara tidak langsung telah menyebabkan sejumlah konflik di wilayah timur Indonesia.

Peran Kaum Pendatang


Sejarah mecatat, kaum pendatang telah jadi pendorong Utama multi agama dan kultur di dalam negeri dengan pendatang dari India, Tiongkok, Portugis, Arab, dan Belanda.  Bagaimana pun, hal ini sudah berubah semenjak beberapa Pergantian telah dibuat untuk menyesuaikan kultur di Indonesia. Di sini kelihatan bahwa keberagaman mendasari praktik keberagamaan di Indonesia sehingga tidak argumentasi bagi saban warga negara bersikap intoleran ke perbedaan.


Hindu dan Buddha telah dibawa ke Indonesia kisaran abad ke-2 dan abad ke-4 Masehi waktu pedagang dari India Datang ke Sumatera, Jawa dan Sulawesi, membawa agama mereka. Hindu mulai berkembang di pulau Jawa pada abad ke-5 Masehi dengan kasta Brahmana yang memuja Dewa Siva.


Pedagang juga mengembangkan ajaran Buddha pada abad berikut lebih detail dan sejumlah ajaran Buddha dan Hindu telah mempengaruhi kerajaan-kerajaan kaya, seperti Kutai, Sriwijaya, Majapahit dan Syailendra. Sebuah candi Buddha terbesar di dunia, Borobudur yang terletak di Magelang, Jawa Tengah telah dibangun oleh Kerajaan Syailendra. Pada waktu yang bersamaan dibangun pula candi Hindu, Prambanan di Yogyakarta. ujung tertinggi kejayaan Hindu-Jawa, Kerajaan Majapahit, terjadi pada abad ke-14 M yang juga jadi zaman keemasan dalam sejarah Indonesia.


Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-14 M.  Berasal dari Gujarat, India, Islam menyebar sampai pantai barat Sumatera dan lalu berkembang ke timur pulau Jawa. Pada periode ini Ada beberapa kerajaan Islam, yaitu kerajaan Demak, Pajang, Mataram, dan Banten. Pada akhir abad ke-15 M, sebanyak 20 kerajaan Islam telah dibentuk, mencerminkan dominasi Islam di Indonesia. Kristen Katolik dibawa masuk ke Indonesia oleh bangsa Portugis, khususnya di pulau Flores dan Timor, Nusa Tenggara Timur.

READ  Hizbut Tahrir Goyah, Gus Nadir Ungkap Pemimpinnya Tidak Al-Alim Al-Jalil Tetapi Insinyur Teknik Sipil


Kristen Protestan ke-1 kali diperkenalkan oleh bangsa Belanda pada abad ke-16 M dengan pengaruh ajaran Calvinis dan Lutheran. Wilayah penganut animisme di wilayah Indonesia bagian Timur, dan bagian lain, Ialah target Utama orang-orang Belanda, termasuk Maluku, Nusa Tenggara, Papua dan Kalimantan. Lalu, Kristen menyebar melalui pelabuhan pantai Borneo, kaum misionaris pun tiba di Toraja, Sulawesi. Wilayah Sumatera juga jadi target para misionaris waktu itu, khususnya ialah orang-orang Batak, dimana banyak waktu ini yang jadi pemeluk Protestan.


Pergantian penting ke agama-agama juga terjadi sejauh era Orde Baru. Antara tahun 1964 dan 1965, ketegangan antara PKI dan pemerintah Indonesia pimpinan Soekarno, bareng dengan beberapa organisasi, mengakibatkan terjadinya konflik dan tindakan mematikan terburuk di abad ke-20. Atas dasar kejadian itu, pemerintahan Orde Baru mencoba untuk menindak para penyokong PKI, dengan menerapkan suatu keputusan taktik yang mengharuskan semua untuk memilih suatu agama, karena kebanyakan penyokong PKI ialah ateis.


Sebagai hasilnya, tiap-tiap warga negara Indonesia diharuskan untuk membawa kartu identitas pribadi yang menandakan agama mereka. Keputusan taktik ini mengakibatkan suatu perpindahan agama secara massal, dengan sebagian besar berpindah agama ke Kristen Protestan dan Kristen Katolik. Karena Konghucu bukanlah bagian dari status pengenal agama, banyak orang Tionghoa juga berpindah ke Kristen atau Buddha.


Pada masa kehadiran dan penyebaran Islam di Indonesia Ada beraneka ragam suku bangsa, organisasi pemerintahan, struktur ekonomi, dan sosial budaya. Suku bangsa Indonesia yang bertempat tinggal di daerah-daerah pedalaman. Jika dilihat dari sudut antropologi budaya, belum banyak mengalami percampuran jenis-jenis bangsa dan budaya dari luar, seperti dari India, Persia, Arab, dan Eropa.


Struktur sosial, ekonomi, dan budayanya agak statis dibandingkan dengan suku bangsa yang mendiami daerah pesisir. Mereka yang berdiam di pesisir, lebih-lebih di kota pelabuhan, memperlihatkan ciri-ciri fisik dan sosial budaya yang lebih berkembang akibat percampuran dengan bangsa dan budaya dari luar.

Penyebaran Agama Islam


Dalam masa kehadiran dan penyebaran Islam di Indonesia, Ada negara-negara yang bercorak Indonesia-Hindu. Di Sumatera Ada kerajaan Sriwijaya dan Melayu; di Jawa, Majapahit; di Sunda, Pajajaran; dan di Kalimantan, Daha dan Kutai. Agama Islam yang Datang ke Indonesia memperoleh perhatian spesial dari kebanyakan rakyat yang telah memeluk agama Hindu. Agama Islam dipandang lebih baik oleh rakyat yang awalnya menganut agama Hindu, karena Islam tidak mengenal kasta, dan Islam tidak mengenal perbedaan golongan dalam masarakat.

READ  Lakpesdam NU Mesti Fokus pada Bidangnya - Aspiratif News


Daya penarik Islam bagi pedagang-pedagang yang hidup di bawah kekuasaan raja-raja Indonesia-Hindu agaknya ditemukan pada pemikiran orang kecil. Islam memberikan sesuatu persamaan bagi pribadinya sebagai anggota masarakat Muslim. Adapun menurut alam pikiran agama Hindu, ia hanyalah makhluk yang lebih rendah derajatnya daripada kasta-kasta lain. Di dalam Islam, ia merasa dirinya sama atau bahkan lebih tinggi daripada orang-orang yang bukan Muslim, walaupun dalam struktur masarakat menduduki kedudukan bawahan.


Proses Islamisasi di Indonesia terjadi dan dipermudah karena adanya sokongan 2 pihak: orang-orang Muslim pendatang yang mengajarkan agama Islam dan golongan masarakat Indonesia sendiri yang menerimanya. Dalam masa-masa kegoncangan politik, ekonomi, dan sosial budaya, Islam sebagai agama dengan mudah dapat masuk dan mengisi masarakat yang tengah mencari pegangan hidup, lebih-lebih cara yang ditempuh oleh orang-orang Muslim dalam menyebarkan agama Islam, yaitu menyesuaikan dengan kondisi sosial budaya yang telah ada.


Dengan seperti ini, pada tahap permulaan Islamisasi ditunaikan dengan saling pengertian akan kebutuhan dan disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya. Pembawa dan penyebar agama Islam pada masa-masa permulaan ialah golongan pedagang, yang sesungguhnya menjadikan faktor ekonomi perdagangan sebagai pendorong Utama untuk berkunjung ke Indonesia.


Hal itu bersamaan waktunya dengan masa Kemajuan pelayaran dan perdagangan internasional antara negeri-negeri di bagian barat, tenggara, dan timur Asia. Kehadiran pedagang-pedagang Muslim seperti halnya yang terjadi dengan perdagangan semenjak zaman Lautan Pasai dan Malaka yang Ialah pusat kerajaan Islam yang berhubungan erat dengan daerah-daerah lain di Indonesia, maka orang-orang Indonesia dari pusat-pusat Islam itu sendiri yang jadi pembawa dan penyebar agama Islam ke seluruh wilayah kepulauan Indonesia.


Tata cara islamisasi melalui media perdagangan dapat ditunaikan secara lisan dengan jalan menggelar kontak secara langsung dengan penerima, serta dapat pula terjadi dengan lambat melalui terbentuknya sebuah perkampungan masarakat Muslim terlebih dahulu. Para pedagang dari bermacam daerah, bahkan dari luar negeri, berkumpul dan menetap, baik untuk sementara maupun untuk selama-lamanya, di suatu daerah, sehingga terbentuklah suatu perkampungan pedagang Muslim.

READ  Humor Sarkub: Susah Sinyal - Aspiratif News


Dalam hal ini orang yang bermaksud hendak belajar agama Islam dapat Datang atau memanggil mereka untuk mengajari masyarakat pribumi. Kecuali itu, penyebaran agama Islam ditunaikan dengan cara perkawinan antara pedagang Muslim dengan bocah kecil dari orang-orang pribumi, khususnya nasab bangsawannya. Dengan perkawinan itu, terbentuklah ikatan kekerabatan dengan Famili Muslim.

Media Seni


Media seni, baik seni bangunan, pahat, ukir, tari, sastra, maupun musik, serta media lainnya, dijadikan pula sebagai media atau Sarana dalam proses islamisasi. menurut bermacam peninggalan seni bangunan dan seni ukir pada masa-masa penyeberan agama Islam, terbukti bahwa proses islamisasi ditunaikan dgn cara damai.


Kecuali itu, dilihat dari segi ilmu jiwa dan taktik, penerusan tradisi seni bangunan dan seni ukir pra-Islam Ialah alat islamisasi yang amat bijaksana dan dengan mudah menarik orang-orang non-Muslim untuk dengan lambat-laun memeluk Islam sebagai pedoman hidupnya.


Dalam Kemajuan seterusnya, golongan penerima dapat jadi pembawa atau penyebar Islam untuk orang lain di luar golongan atau daerahnya. Dalam hal ini, kontinuitas antara penerima dan penyebar terus terpelihara dan dimungkinkan sebagai sistem pembinaan calon-calon pemberi ajaran tersebut.


Biasanya santri-santri pandai, yang telah lama belajar seluk-beluk agama Islam di suatu tempat bernama pondok pesantren dan lalu kembali ke daerahnya, akan jadi pembawa dan penyebar ajaran Islam yang telah diperolehnya. Mereka lalu mendirikan pondok-pondok pesantren. Pondok pesantren Ialah lembaga yang penting dalam penyebaran agama Islam.


Agama Islam juga membawa Pergantian sosial dan budaya, yaitu memperhalus dan memperkembangkan budaya Indonesia. Penyesuaian antara adat dan syariat di bermacam daerah di Indonesia selalu terjadi. Walaupun kadang-kadang dalam taraf permulaan mengalami proses pertentangan dalam masarakat.


walaupun seperti ini, proses islamisasi di bermacam tempat di Indonesia ditunaikan dengan cara yang dapat diterima oleh rakyat setempat. Sehingga kehidupan keagamaan masarakat pada umumnya memperlihatkan unsur campuran antara Islam dengan kepercayaan sebelumnya. Inilah akulturasi. Hal tersebut ditunaikan oleh penyebar Islam, yaitu Wali Songo karena di Indonesia telah semenjak lama Ada agama (Hindu-Budha) dan kepercayaan animisme.

 

Fathoni Ahmad, Redaktur Aspiratif News

Fondasi Keberagamaan ialah Keberagaman – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *