hti.jpg

HTI Memframe Seakan Demokrasi Tidak Ada Nilai Keislaman

Diposting pada
©2018 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Orang-orang HTI (eks) sangat fatal alur logikanya, ketika menversuskan Islam dan demokrasi. HTI (eks) memframe seakan demokrasi itu bukan Islam. Ketika memilih demokrasi, otomatis telah meninggalkan Islam dan sebaliknya jika memilih Islam ya harus meninggalkan demokrasi. Inilah asal muasal kesalahan yang mendasar dari alur logika (ejs) HTI-er. Diawali dari kesalahan-kesalahan ini akan membikin logika-logika salah selanjutnya secara terus menerus.

Coba pahami maksud demokrasi berikut. Terkait ini sebenarnya sudah saya terangkan panjang dalam tulisan saya sebelumnya. Namun akan saya ulas ulang. Begini, demokrasi itu tidak bisa diversuskan dengan Islam, tidak bisa dibanding-bandingkan, tidak bisa dikomparasikan dengan Islam, karena memang tidak setara, tidak apple to apple.

Demokrasi itu sebuah ikhtiar, sebuah metode pengambilan keputusan sedangkan Islam adalah agama. Jika ingin membandingkan, Islam ya disandingkan dengan Kristen misalnya. Hal itu memang “setara”. Atau Islam diversuskan Hindu. Nah kalau Islam dibanding-vabdingkan dengan demokrasi ya nggak nyambung. Metode kok dibandingkan dengan agama. Metode itu ya harus dibandingkan dengan metode, agama ya dibandingkan dengan agama.

Ketahuiah demokrasi itu adalah metode (cara) pengambilan keputusan oleh dua orang atau lebih. Sedangkan jika pengambilan keputusan oleh satu orang, itu dinamakan monokrasi. Jadi selain demokrasi itu ya monokrasi, bukan dengan istilah Islam.

Baca Juga :  Alhamdulillah! Puluhan Anggota Banser Cirebon Fokus Jihad Bantu Warga Korban Banjir

Sistem pemerintahan atau sistem pengambilan keputusan oleh satu orang itu bisa dan cocok diterapkan oleh orang yang suci, wira’i, ikhlas, sidiq, amanah, tabligh, fathonah dan sifat/karakter terpuji lainnya. Hal seperti ini ketika itu dipakai oleh para Rasul. Mengapa Nabi/Rasul memakai sistem monokrasi? Ya karena beliau-beliau itu mengemban RISALAH, yang mana risalah itu harus tersampaikan kepada umatnya tanpa campur tangan manusia lain. Dan memang Nabi/Rasul itu mempunyai sifat yang terpuji.

Rasulullah, Muhammad shallallahu alaihi wasallam itu termasuk Nabi dan Rasul. Beliau pemimpin agama sekaligus pemimpin umat. Jadi dua kapasitas kepemimpinan yang diembannya. Rasulullah SAW mampu berijtihad jika ada permasalahan-permasalahan yang perlu diijtihadi.

Pertanyaannya adalah sepeninggal Rasulullah apakah ada seseorang yg punya kedudukan sebagaimana Rasulullah, yaitu sebagai pemimpin agama sekaligus pemimpin umat? Sebagai pemimpin agama (Nabi), Rasulullah adalah Nabi terakhir, dan tidak ada Nabi lain setelahnya.

Karena tidak ada manusia yang sekualitas Rasulullah SAW maka posisi Abubakar, Umar, Utsman dan Ali itu pengganti (khalifah) yang bermetode sebagaimana Rasulullah (nubuwwah), sehingga disebut khilafah ala minhajin nubuwwah. Beliau-beliau bukan nubuwwah tapi ala manhaj saja.

Baca Juga :  Trump Tak Hadiri Pelantikan, Cederai 150 Tahun Tradisi Suksesi Damai

Apa ini artinya, kualitas kepemimpinan agama dan umat sudah agak berkurang dibanding kualitas Rasulullah SAW. Apalagi sepeninggal para khulafaur rasyidin, sungguh benar-benar berkurang kualitasnya. Ingat masa bani Umayyah, bani Abbasiyah, Usmaniyah, bagaimana kehidupan “para khalifah” pada sistem khilafah? Ternyata tidak semua sesuai dengan jalan Islam.

Perlu diketahui bahwa pada sistem itu (khalifah) metode pengambil keputusannya (sistem pemerintahannya) itu monokrasi, artinya segala apa-apa, yang memutuskan perkara satu orang yaitu khalifah. Apa yang terjadi? Ternyata tidak sedikit model pemutus satu orang tsb (khalifah) keluar dari rel Alquran dan hadits.

Lihat bagaimana Khalifah Yazid bin Muawiyah memutuskan untuk membunuh Sayidina Husein di Karbala. Ingat ini yang memutuskan satu orang (monokrasi) yaitu khalifah. Apakah ini sesuai jalan Islam, sesuai syariat Islam?

Lihat bagaimana perilaku khalifah Abdul Malik, Al-Walid, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, Khalifah AL-Walid bin Yazid yang disebut Fir’aunnya umat Islam, Khalifah Mawan II yang dijuluki sang keledai.

Lihat juga Khalifah pertama Bani Abbasiyah, As-Saffah yang dijuluki sang penumpah darah. Khalifah al-Qahir yang akhirnya menjadi pengemis dan matanya dicongkel, dan sebagainya. Apa arti semua itu? Artinya metode MONOKRASI (yang diperankan khalifah) juga juga banyak yg keluar dari Alquran hadits.

Baca Juga :  Calon Kapolri Komjen Listyo Sigit Jalani Fit and Proper Test Hari Ini

Jika seperti itu kejadiannya bisa disimpulkan bhw baik MONOKRASI maupun DEMOKRASI bisa juga keluar dari aturan syariat Islam. Semua itu tergantung personnya. Jika monokrasi personnya tunggal sementara jika demokrasi personnya banyak (lebih dari satu orang).

Mengapa harus demokrasi, karena untuk saat ini pengambilan keputusan bisa bisa (untuk tidak bilang sulit) diemban oleh satu orang, tapi “beban keputusan itu” harus dibagi dgn banyak orang. Nah inilah yg disebut DEMOKRASI.

Jadi salah jika demokrasi itu selalu disalahkan, salah jika demokrasi itu selalu salah. Buktinya monokrasi juga banyak yang salah. Untuk itulah janganlah memakai simbol istilah Islam jika mempropagandakan agenda HTI. Bilang saja ingin menegakkan khilafah ala HTI yang model MONOKRASI. Jangan bilang Islam versus demokrasi. Jujur saja bilang, monokrasi (khilafah ala HTI) versus demokrasi (Pancasila).

Nun Alqolam

Sumber: https://web.facebook.com/nun.alqolam.3/posts/240356277598251

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *