Hukum Menghadiahkan Pahala Kurban untuk Orang Lain  – Aspiratif News

Hukum Menghadiahkan Pahala Kurban untuk Orang Lain 
Views: 1317
Read Time:5 Minute, 3 Second

Hukum Menghadiahkan Pahala Kurban untuk Orang Lain  – Aspiratif News

Hari raya kurban sebentar lagi Hadir mendekati kita seluruh selaku ummat Muslim, sebuah bentuk syi’ar agung Islam yang di dalamnya tertanam nilai hikmah saling berbagi di antara sesama.


Problem tahunan perihal fiqih kurban senantiasa menarik untuk diperbincangkan, di antaranya masalah menghadiahkan pahala kurban untuk orang lain. Tradisi di kalangan Nahdliyin ibadah kurban tidak cuma berhubungan dengan pengamalan sunnah Nabi, tapi juga disertai solidaritas berbagi pahala untuk Famili, sanak famili, dan sebagainya, baik yang masih hidup atau telah meninggal.


Berlatar belakang rasa kasih dan cinta kepada kerabat, seorang yang dianugerahi harta lebih ingin mengikutsertakan orang yang ia sayangi dalam pahala haewan kurbannya. Hal ini tidak lain agar orang yang ia sayangi dapat memperoleh pahala dari haewan yang ia jadikan kurban. Praktiknya semisal mudlahhi (pekurban) berkata/berdoa, “Ya Allah sampaikanlah pahala kurbanku untuk saya dan ke-2 orang tua saya”, “Saya sertakan anak dan istriku dalam pahala kurbanku,” dan lain-lain.


Pertanyaannya ialah, bagaimana hukum menghadiahkan pahala kurban untuk orang lain? Apakah pahalanya dapat sampai?


Syariat memberikan ketentuan kurban menyaksikan kategori hewannya, yaitu kambing untuk 1 orang, sapi dan unta untuk tujuh orang. Bila melebihi kemampuan yang sudah ditetapkan, semisal kurban kambing untuk 2 orang, sapi untuk delapan orang, maka tidak sah. 


Masalah menghadiahkan kurban untuk orang lain tak sama dari kurban berbarengan (patungan). Kurban patungan status mudlahhi-nya ialah semua member yang tergabung dalam iuran haewan kurban. Sementara perihal memberikan hadiah kurban, status mudlahhi cuma yang mengeluarkan biaya, orang lain cuma diikutsertakan dalam pahala kurbannya, bukan diikutkan dalam status mudlahhi-nya. Oleh karena itu, perihal menghadiahkan pahala kurban, tidak ada pembatasan hitungan total orang yang diikutsertakan dalam pahala kurbannya mudlahhi, semisal 1 orang berkurban 1 ekor kambing, pahalanya dihadiahkan untuk tujuh orang keluarganya.

READ  Bagaimana Derajat Wali di antara Para Nabi? - Aspiratif News


Oleh karena itu, ulama menerangkan bahwa doa Nabi waktu beliau berkurban, “Ya Allah kurban ini untuk Muhammad dan ummat Muhammad” konteksnya ialah menghadiahkan pahala kurban untuk orang lain, bukan mengikutkan orang lain dalam status selaku mudlahhi.


Dalam pandangan fiqih Syafi’iyyah, menghadiahkan kurban diperinci jadi 2 bagian. Ke-1, menghadiahkan pahala kurban untuk orang mati. Ke-2, menghadiahkan pahala kurban untuk orang hidup.


Adapun yang ke-1, ulama setuju hukumnya boleh, dan pahala kurban dapat sampai dan didapatkan seluruh orang mati yang diikutsertakan dalam pahala kurban. Sementara Perkara ke-2, ulama tak sama pandangan. Menurut Imam al-Ramli dan Khathib al-Syarbini hukumnya diizinkan, pahala kurban dapat sampai dan didapatkan seluruh orang hidup yang diikutkan dalam pahala berkurban. Adapun menurut Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, hukumnya tidak diizinkan. Menurut Syekh Ibnu Hajar, kebolehan menghadiahkan pahala kurban cuma berlaku untuk orang yang sudah mati, karena dianalogikan dengan kebolehan bersedekah untuk orang mati.


Syekh Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin Umar al-Masyhur bi Ba’lawi berkata:

قال الخطيب و (م ر) وغيرهما : لو أشرك غيره في ثواب أضحيته كأن قال عني وعن فلان أو عن أهل بيتي جاز وحصل الثواب للجميع، قال ع ش ولو بعد التضحية بها عن نفسه ، لكن قيد في التحفة جواز الإشراك في الثواب بالميت قياساً على التصدق عنه ، قال بخلاف الحيّ


“Imam Al-Khathib, Imam al-Ramli dan selainnya berkata; Kalau seseorang mengikutsertakan orang lain dalam pahala kurbannya seperti perkataannya “kurbanku untuk saya dan untuk si fulan atau untuk Famili saya”, maka diizinkan dan pahalanya hasil untuk semuanya. Syekh Ali Syibromalisi berkata “walaupun sesudah ia berkurban atas nama dirinya”. Akan tetapi Syekh Ibnu Hajar dalam kitab al-Tuhfah membatasi kebolehan menyertakan pahala kurban cuma untuk orang mati, sebab disamakan dengan Perkara bersedekah untuk mayit, beliau berkata; tak sama dengan orang hidup” (Syekh Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin Umar al-Masyhur bi Ba’lawi, Bughyah al-Mustarsyidin, Al-Hidayah, hal. 257)

READ  Sidang Sengketa Pemilihan presiden Dilanjut 2 Pemaparan Ahli


Dalam kitab al-Tuhfah disebutkan:

(و) تجزئ (الشاة) الضائنة والماعزة (عن واحد) فقط اتفاقا لا عن أكثر بل لو ذبحا عنهما شاتين مشاعتين بينهما لم يجز؛ لأن كلا لم يذبح شاة كاملة وخبر اللهم هذا عن محمد وأمة محمد محمول على التشريك في الثواب وهو جائز ومن ثم قالوا له أن يشرك غيره في ثواب أضحيته وظاهره حصول الثواب لمن أشركه وهو ظاهر إن كان ميتا قياسا على التصدق عنه


“Dan kambing domba dan kambing kacang cukup untuk 1 orang saja sesuai Komitmen ulama, tidak untuk lebih dari 1, bahkan apabila ada 2 orang yang berkurban dengan 2 kambing dengan kepemilikan berbarengan untuk mereka berdua, maka tidak diizinkan, sebab saban individu di antara mereka berdua tidak memotong 1 kambing secara sempurna. Adapun hadits “Ya Allah kurban ini untuk Muhammad dan ummat Muhammad” diarahkan untuk mengikutsertakan orang lain dalam pahala kurban, dan hal tersebut boleh. Oleh karenanya para ulama berkata “Bagi orang yang berkurban boleh untuk mengikutsertakan orang lain dalam pahala kurbannya. Ungkapan para ulama tersebut secara literal menyimpulkan hasilnya pahala untuk orang yang diikutsertakan, dan hal tersebut ialah pandangan yang gamblang menurutku bila pihak yang diikutkan dalam pahala kurban ialah orang mati, sebab dianalogikan dengan Perkara bersedekah untuk mayit”. (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 12, hal. 255).

READ  Prof Quraish Shihab: Penafsiran Tidak sama-Beda, Akhlak Titik Temunya


Dalam komentar atas rujukan di atas, Syekh Abdul Hamid al-Syarwani menerangkan:

 (قوله: له أن يشرك غيره إلخ) أي كأن يقول أشركتك أو فلانا في ثوابها وظاهره ولو بعد نية التضحية لنفسه وهو قريب اهـ ع ش


“Perkataan Syekh Ibnu Hajar ‘boleh mengikutsertakan orang lain dst’, yaitu seperti mengucapkan ‘saya mengikutsertakan kau atau fulan dalam pahala kurban saya”, secara literal walaupun ujaran tersebut ditunaikan sesudah niat kurban untuk dirinya sendiri dan pandangan ini ialah pandangan yang mendekati kebenaran. (Syekh Abdul Hamid al-Syarwani, Hasyiyah ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, juz 12, hal. 255).

 

 

 

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa menghadiahkan pahala kurban untuk orang lain hukumnya diizinkan dan pahala dapat sampai kepadanya, sebagian ulama memutlakkan kebolehan tersebut baik untuk orang hidup dan mati, sebagian ulama membatasi cuma boleh untuk orang yang sudah wafat. Semoga berguna. Wallahu a’lam.


 
Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.

 

 


Baca juga artikel seputar kurban lainnya di Kumpulan Artikel mengenai hal Ibadah Kurban

Hukum Menghadiahkan Pahala Kurban untuk Orang Lain  – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *