FPI..-696x464.jpg

Ideologi Islamisme Itu Tidak Cocok untuk Indonesia

Diposting pada
Ilustrasi

Negara yang didirikan atas fondasi Islamisme tak bisa dan tak akan pernah bisa maju. Hal itu karena Islamisme dibangung atas dasar nalar, rationale, persepsi dan argumen yang lemah, letoy, keliru, parsial dan bias.

Bagaimana mungkin mau membangun sebuah negara yang super-kompleks di abad modern dengan “logika” dan premis-premis kuno yang dalam banyak hal sudah tak relevan lagi?

Bagaimana mungkin membangun sebuah negara yang penduduknya sangat plural / majemuk dari aspek agama dan etnisitas dengan logika dan premis-premis spesifik dan partikular (misalnya, konteks kearaban)?

Bagaimana mungkin mau membangun sebuah negara melalui jalan pikiran sempit, kaku-njeku, dan saklek dan tak mau menerima perubahan dan pluralitas pemikiran?

Islamisme belum siap menjadi sebuah “ideologi politik” untuk memimpin sebuah negara modern yang kompleks dan majemuk. Islamisme juga masih terlalu prematur untuk “mengambil alih” ideologi-ideologi yang ada yang sudah sangat mapan dan mengakar.
Mengapa demikian?

Karena Islamisme dalam sejarahnya lahir sebagai “bayi prematur” yang belum siap dalam segala aspek. Ideologi Islamisme itu laksana “ejakulasi dini” yang muncrat keluar karena pelakunya terlalu bersemangat untuk “mengeksekusi.” Ia lahir terlalu buru-buru untuk merespons tumbangnya Ottoman atau Turki Usmani (untuk kasus Ikhwanul Muslimin), kolonialisme Barat (misalnya Inggris untuk kasus Islamisme di Indo-Pakistan), agresi asing (misalnya Israel untuk kasus Hizbut Tahrir), konflik internal antar faksi umat Islam (misalnya kasus rezim Taliban di Afghanistan), rezim pro-Barat (misalnya Iran era Khumaini), rezim lokal otoriter (misalnya kasus Mujahidin Irak di zaman Saddam), dlsb.

Baca Juga :  Alhamdulillah! Ini Kata PBNU Soal Tersingkirnya Komplotan 212 dari MUI

Karena sebagai respons kasus dan fenomena partikular yang mendesak dan memerlukan solusi cepat-saji, para aktivis dan ideolog Islamisme pun tanpa persiapan matang dan memadai dalam merumuskan dan menyiapkan ideologi Islamisme sebagai “ideologi tandingan” atau “ideologi alternatif” sebagai solusi untuk menyelesaikan problem keterpurukan umat Islam.

Akibatnya, dalam banyak hal Islamisme hanya sebatas “jargon kampanye” untuk menggaet massa awam agama dan Muslim fanatik tapi miskin wawasan. Tetapi sebetulnya isinya atau “daleman” Islamisme itu dikit, sudah begitu sangat lembek dan rapuh, dan karena itu sangat mudah dipatahkan basis rationale, argumen dan logikanya.

Karena lemah itulah mengapa ideologi Islamisme dalam sejarahnya tak pernah mendulang sukses alias selalu terpuruk. Di Timur Tengah juga tidak laku dan nyaris selalu gagal dalam upaya mengambil alih kekuasaan. Para pengusungnya kini banyak yang ngumpet atau bermimikri atau mengalami proses bunglonisasi pura-pura tidak mendukung Islamisme.

Sebagian kecil masih berusaha teriak-teriak menyerukan Islamisme dan ndoboli generasi muda. Tapi hasilnya nihil alias nol-jumbo karena masyarakat lebih berpikir rasional, realistis dan pragmatis misalnya tentang mengatasi pengangguran dan keterpurukan ekonomi; meningkatkan kemakmuran, kesejahteraan, kemajuan industri dan teknologi; dan seterusnya.

Baca Juga :  Wow! Iran Kembangkan Jet Perang Berat Buatan Sendiri

Di Indonesia, sekelompok umat Islam “terkentu” berusaha jualan ideologi Islamisme dan ndoboli publik Muslim untuk mengganti ideologi & konstitusi negara yang mereka anggap sebagai “barang sekuler”. Padahal Islamisme sendiri adalah “barang sekuler” karena diciptakan oleh sekelompok ideolog dan aktivis politik Muslim, dengan begitu Islamisme (sebagaimana Pancasila dan ideologi politik-negara lain) adalah produk kebudayaan manusia.

Demikian sekelumit kuliah virtual kali ini. Semoga bermanfaat dan semoga bangsa dan rakyat Indonesia tetap diberi akal-sehat dan waras nalar-hatinya sehingga terhindar dari propaganda dan kampanye politik terselubung yang dibungkus dengan jargon-jargon agama. Ideologi eksklusif Islamisme jelas sangat tidak cocok dan tidak pas dengan karakter, watak, dan fakta kemajemukan bangsa Indonesia.

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

Sumanto Al Qurtuby

Sumber: https://www.facebook.com/762670522/posts/10164550265350523/

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *