Imam Abu Hasan asy-Syadzili, Pembesar Tasawuf dari Maroko – Aspiratif News

Imam Abu Hasan asy-Syadzili, Pembesar Tasawuf dari Maroko
Views: 185
Read Time:8 Minute, 55 Second

Imam Abu Hasan asy-Syadzili, Pembesar Tasawuf dari Maroko – Aspiratif News

Imam Abu Hasan asy-Syadzili, pendiri tarekat Syadziliyyah ialah seorang wali agung yang namanya selalu dikaitkan dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Hal ini dikarenakan keduanya mempunyai derajat kewalian yang sama, sebagaimana yang diungkapkan oleh al-Qarasyi:

 

قال القرشي إذا ذكرت سيدي أبا الحسن الشاذلي ذكرت فقد ذكرت سيدي عبد القادر الجيلاني وإذا ذكرت سيدي عبد القادر الجيلاني فقد ذكرت سيدي أبا الحسن الشاذلي لتوحد المقام فيهما ولأن سرهما واحد وهما لا يفترقان

 

Al-Qarasyi menerangkan, “Tatkala saya menyebut tuanku Syekh Abu Hasan asy-Syadzili, maka saya telah menyebut tuanku Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Dan waktu saya menyebut tuanku Syekh Abdu Qadir al-Jailani, maka saya telah menyebut tuanku Syekh Abu Hasan asy-Syadzili, karena keduanya mempunyai dejarat yang sama, dan sirr (rahasia Allah) di dalam keduanya juga sama, dan keduanya tidak dapat dipisahkan.”

 

Pada tahun 593 H, lahirlah seorang nasab Rasulullah di desa Ghumarah, sebuah perkampungan dekat dengan kota Ceuta di negara Maroko. Orang tuanya memberikan ia nama Ali, kelak ia akan lebih dikenal dengan julukan Abu Hasan asy-Syadzili. Ali tumbuh dalam lingkungan yang amat patuh beragama. Ayahnya bernama Abdulah bin Abdul Jabbar. Para ahli sejarah setuju bahwa beliau ialah nasab dari Sayyidina Hasan, cucu Rasulullah .

 

Menurut Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Lathaif al-Minan, leluhur Imam Abu Hasan asy-Syadzili ialah Isa bin Muhammad bin Sayyidina Hasan. Adapun menurut Ibnu ‘Iyadh dalam kitab al-Mafakhir al-‘Ulya fi al-Ma’atsir asy-Syadziliyyah, leluhur Imam Abu Hasan asy-Syadzili ialah Isa bin Idris bin Umar bin Idris bin Abdullah bin al-Hasan al-Mutsanna bin Sayyidina Hasan.

 

Imam Abu Hasan asy-Syadzili mempunyai postur tubuh yang kurus, jari-jemari yang panjang, kelir kulit yang bagus.Ia amat fasih berbicara, ucapannya amat halus. Kecuali itu, ia selalu mempergunakan pakaian yang indah dan menunggangi haewan tunggangan yang gagah. Terkadang Ia juga tidak segan untuk mempergunakan pakaian sederhana, akan tetapi beliau tidak mempergunakan pakaian yang ditambal sebagaimana beberapa kaum sufi lainnya.

 

Perjalanan Keilmuan

Awalnya, Imam Abu Hasan asy-Syadzili mengambil sanad ilmu tasawuf untuk Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Harazim (w. 633 H) di negara Maroko. Dari guru pertamanya inilah, Imam Abu Hasan asy-Syadzili memperoleh pengesahan sebagai pengikut ajaran tasawuf. Kemudian, Imam Abu Hasan asy-Syadzili berkelana ke negara Tunisia. Di negara Tunisia inilah, ia meneruskan berguru untuk Syekh Abu Sa’id Khalaf bin Yahya at-Tamimi al-Baji (w. 628 H). Ke-2 guru agung Imam Abu Hasan asy-Syadzili ini ialah 2 murid kesayangan Syekh Abu Madyan al-Maghrabi.

 

Seterusnya, pada tahun 618 H Imam Abu Hasan asy-Syadzili berguru untuk Abu al-Fath Najmuddin Muhammad al-Wasithi (w. 632 H), seorang murid dari Syekh Ahmad ar-Rifa’i. Diakhir perjumpaan guru dan murid inilah, Syekh Abu al-Fath Najmuddin Muhammad al-Wasithi berpesan “Engkau mencari seorang wali quthb di negara Iraq, padahal wali quthb tersebut menetap di negaramu di Maroko, kembalilah ke negara asalmu niscaya engkau akan berjumpa dengan wali quthb di sana”.

 

READ  Planning Pemindahan Ibu Kota Wajib Dikaji Komprehensif

Atas pesan gurunya, Imam Abu Hasan asy-Syadzili pun bertandang ke negara asalnya untuk mencari sang wali quthb.

 

Imam Abu Hasan asy-Syadzili menceritakan pengalaman spiritualnya berguru untuk sang wali quthb yang bernama Syekh Abdus Salam bin Masyisy sebagaimana yang dicatat oleh Ibnu ‘Iyadh dalam kitab al-Mafakir al-‘Aliyyah fi al-Ma’atsir asy-Syadziliyyah,

 

“Saya berjumpa dengannya waktu ia menetap di pucuk gunung. Tatkala saya melihatnya saya pun bergegas untuk mandi seraya berniat dalam hati bahwa saya ialah seorang yang tidak memiiki ilmu sedikit pun agar ia mau mengajarkan ilmu tasawuf kepadaku. Tatkala saya mendatanginya ia berkata, ‘Selamat Datang wahai Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar’. Kemudian, ia menyebutkan silsilah nasabku sampai Rasulullah seraya berkata, ‘Wahai Ali, engkau Datang kepadaku dengan hati yang butuh ke ilmu dan amal, maka engkau berhak untuk memperoleh dariku ilmu dunia dan akhirat.’ Saya terkejut dengan apa yang saya alami, saya pun berguru kepadanya selama beberapa hari sampai saya sampai pada derajat futuh (terbuka mata hati). Selama saya berguru kepadanya, saya menemukan banyak keramat dan khariqul ‘adat yang keluar darinya”.

 

“Suatu waktu saya duduk bersamanya dan waktu itu ada seorang anak kecil yang duduk di sisi Syekh Abdus Salam bin Masyisy. Terbesit dalam benakku untuk menanyakan kepadanya soal Asma’ Allah al-Mu’adzam. Anak kecil itu pun berkata, ‘Wahai Abu Hasan, engkau ingin menanyakan untuk Syekh soal Asma’ Allah al-Mu’adzam, sungguh di dalam hatimu telah Ada sirr (rahasia) dari Asma’ Allah al-Mu’adzam. Kemudian, Syekh Abdus Salam bin Masyisy tersenyum seraya menerangkan, ‘Itulah respon yang engkau dapatkan.’ Syekh Abdus Salam bin Masyisy berkata, ‘Wahai Ali, berjalanlah menyusuriluasnya benua Afrika, kemudian menetaplah di sebuah desa bernama Syadzilah, niscaya kelak Allah akan memberikanmu gelar asy-Syadzili’.”

 

Fitnah dari Abu Qasim bin Barra’

Dalam perjalanannya berdakwah, tidak jarang Imam Abu Hasan asy-Syadzili menemukan banyak rintangan. Di antara rintangan terberatnya ialah fitnah dari Abu Qasim bin Barra’. Awalnya, ia memulai berdakwah di ibu kota negara Tunisia dengan menetap di sebuah rumah di dekat masjid al-Bilath. Ia banyak berkumpul dengan ulama besar Tunisia seperti Abu Hasan Ali bin Makhluf as-Shaqli, Abu Abdullah as-Shabuni, dan sesamanya. Dalam waktu yang singkat, berbondong-bondonglah para ulama untuk belajar untuk Imam Abu Hasan asy-Syadzili.

 

Sampai berita ketenaran Imam Abu Hasan asy-Syadzili menimbulkan kedengkian di hati Abu Qasim bin Barra’ yang waktu itu menjabat sebagai ahli ahli fiqih kenaman di negara Tunisia. Abu Qasim bin Barra’ pun mengadu untuk Sultan Abu Zakaria, “Sungguh di daerah kita ada seseorang dari desa Syadzilah yang mengakui nasab Rasulullah dan ia diikuti oleh banyak orang, ia akan mengacaukan negaramu.”

 

READ  Eks Hakim MK Menyebut Legislator Tidak Dapat Dituntut karena Pernyataannya

Abu Qasim bin Barra’ lalu mengumpulkan seluruh ulama ahli fiqih untuk berdebat dengan Imam Abu Hasan asy-Syadzili sedangkan di waktu yang sama Sultan Abu Zakaria mengawasi dari balik tirai. Perdebatan pun diawali, seluruh ulama ahli fiqih yang Hadir terdiam membisu sesudah mendengarkan seluruh pertanyaan mereka dijelaskan dengan mudah oleh Imam Abu Hasan asy-Syadzili. Maka kedengkian kian membara, beberapa oknum yang dengki waktu itu mengusulkan untuk Menyuruh berangkat Imam Abu Hasan asy-Syadzili dari negara Tunisia.

 

Sampai beberapa waktu kemudian tersiar berita bahwa selir sang sultan wafat akibat sebuah penyakit. Maka, sang sultan beserta seluruh pelayannya bergegas untuk memakamkannya. Tatkala mereka tengah sibuk dengan urusan pemakaman, tidak disangka kebakaran terjadi di rumah sang sultan. Sampai, api berhasil melahap banyak harta dan barang berharga di rumah sang sultan. Melihat hal tersebut, sang sultan pun merasa bahwa ini semua terjadi akibat perbuatan buruknya untuk Imam Abu Hasan asy-Syadzili. Sultan Abu Zakaria pun bergegas meminta maaf dan mencium tangan Imam Abu Hasan asy-Syadzili. setelah kejadian tersebut, Imam Abu Hasan asy-Syadzili memilih untuk berpindah ke negara Mesir. Adapun kelak Abu Qasim bin Barra’ pada akhir hayatnya ditimpa musibah berupa sia-sia seluruh ilmunya, durhaka anak-anaknya dan merasakan kezaliman di masa senjanya. Ini semua terjadi karena ia telah memusuhi Imam Abu Hasan asy-Syadzili yang juga seorang kekasih Allah semasa hidupnya.

 

Kedekatannya dengan Syekh Izzudin bin Abdissalam

Kehadiran Imam Abu Hasan asy-Syadzili di kota Alexandria telah jadi lentera ilmu yang tidak kunjung padam. Duduk bersimpuh di majelis ilmunya beberapa ulama besar di zamannya, di antaranya ialah Syekh Izzudin bin Abdissalam, Syekh Taqiyuddin bin Daqiq al-‘Aid dan sesamanya.

 

Di antara cerita menarik dari Imam Abu Hasan asy-Syadzili dengan Syekh Izzudin bin Abdissalam ialah suatu waktu Imam Abu Hasan asy-Syadzili menghendaki untuk berangkat haji bareng pengikutnya. Adapun waktu itu tengah terjadi penyerbuan bangsa Tartar di Timur Tengah. Oleh karena itu, Syekh Izzudin bin Abdissalam memfatwakan untuk menunda keberangkatan haji. Imam Abu Hasan asy-Syadzili mendatangi Syekh Izzudin bin Abdissalam, “Wahai Syekh, seandainya dunia dijadikan cuma sejengkal tanah dan diberikan untuk seseorang, apakah boleh ia bepergian ke tempat yang dikhawatirkan?” Maka Syekh Izzudin bin Abdissalam menjawab, “Sesiapa saja yang diberikan anugerah seperti ini maka ia terbebas dari fatwa (larangan berhaji)”.

 

“Sungguh saya bareng Allah, dzat yang tiada tuhan selain Dia. Dan Dia telah menjadikan dunia sebagai sejengkal tanah, waktu saya melihat hal yang berbahaya bagi seseorang saya akan menolongnya dan memberinya rasa aman, dan wajib adanya maqam sederajat di antara kita dihadapan Allah agar engkau memahami apa yang saya maksudkan” ujar Imam Abu Hasan asy-Syadzili. Kemudian, para pengikutnya pun berbondong-bondong untuk berhaji bareng Imam Abu Hasan asy-Syadzili.

 

READ  Lantik Pengurus KKSMB, Syafruddin Ingatkan Problem Persatuan

Akhir hayat Imam Abu Hasan asy-Syadzili

Semenjak kedatangannya di negara Mesir, Imam Abu Hasan asy-Syadzili telah memperoleh isyarat Masalah tempat wafatnya. Suatu waktu ia bermunajat, “Duhai tuhanku, engkau telah menempatkanku di negara bangsa Koptik, semoga engkau wafatkan saya di antara mereka, sehingga dagingku bercampur dengan daging mereka serta tulangku berkumpul dengan tulang mereka”. Kemudian terdengarlah sebuah suara, “Wahai Ali, sungguh kelak engkau akan diwafatkan di tempat yang tidak pernah dipakai untuk bermaksiat untuk Allah”.

 

Di akhir hayatnya, Imam Abu Hasan asy-Syadzili berangkat untuk menunaikan haji. Akan tetapi di tengah perjalanan ia mengalami sakit parah. Sebelum wafatnya, Imam Abu Hasan asy-Syadzili berwasiat untuk istiqamah membaca Hizb Bahr, “Jagalah Hizb Bahr untuk anak kecil Anda seluruh, sungguh di dalamnya Ada Asma’ al-Mu’adzam”.

 

Sebelum wafatnya, Imam Abu Hasan asy-Syadzili menyuruh muridnya untuk mengambilkan air di sumur terdekat. Akan tetapi, muridnya menerangkan, “Wahai tuanku, air di daerah ini asin sedangkan air yang kita bawa terasa segar”.

 

“Bawakan air sumur kepadaku, sungguh apa yang saya inginkan tidak sama dengan yang Anda seluruh persangkakan” jawab Imam Abu Hasan asy-Syadzili.

 

Maka, Imam Abu Hasan asy-Syadzili berkumur dengan air sumur tersebut dan ia mendoakan air bekas berkumurnya. Kemudian, air bekas berkumur beliau dimasukkan kedalam sumur terdekat. Dengan izin Allah, air sumur tersebut berubah jadi segar dan melimpah. Imam Abu Hasan asy-Syadili wafat pada tahun 656 H di sebuah gurun pasir bernama Humaitsarah yang Ada di antara daerah Luxor dan Qina. Penerus tarekat Syadziliyyah sesudah beliau ialah Abu ‘Abbas al-Mursi.

 

Dalam tarekat yang beliau dirikan, Imam Abu Hasan asy-Syadzili memberikan 5 dasar yang mesti diikuti oleh pengikut tarekat Syadziliyyah,yaitu :

 

  1. Bertakwa untuk Allah baik di dalam keadaan samar ataupun terang-terangan
  2. Turut jejak baginda Nabi Muhammad baik dalam perkataan maupun perbuatan
  3. Tidak bertumpu untuk manusia baik di depan mereka maupun di depan mereka
  4. Ridho dengan pemberian Allah baik sedikit maupun banyak
  5. Kembali untuk Allah baik dalam keadaan suka maupun dalam keadaan susah.

 

Muhammad Tholhah al Fayyadl Maha siswa jurusan Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo

 

Sumber Refrensi :

Kitab Lathaif al-Minan karya Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari

Kitab Durratul Asrar wa Tuhfah al-Abrar karya Syekh Muhammad al-Qasim ibnu Shabagh

Kitab al-Lathifah al-Mardhiyyah karya Syekh Dawud bin Bakhila

Kitab al-Mafakhir al-Aliyyah fi al-Ma’atsir asy-Syadziliyyah karya Syekh Ibnu ‘Iyadh asy-Syafi’i

 

Imam Abu Hasan asy-Syadzili, Pembesar Tasawuf dari Maroko – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *