felix-siauw-696x392.jpg

Innalillah! Felix Siauw Gagal Terap Sirah Nabawiyah

Diposting pada
felix siauw Innalillah!  Felix Siauw gagal melamar Sirah Nabawiyah

Pada saluran telegram resmi Felix Siauw (aktivis dari Hizbut Tahrir) mencatat; “Saya pernah ditanya bagaimana dakwah Islam merubah warganegara. Tentunya dengan teladan Nabi, bukan dengan orang lain. Jadi saya sampaikan minimal 3 ciri dakwah Nabi yaitu berfikir, mendekati kekuasaan dan tanpa ada tindakan anarkis. , inilah yang kami dapat dari sirah. ” (Saluran Telegram oleh Felix Siauw Offcial, 6/8/2017).

Muslim percaya bahwa Muhammad adalah nabi dan utusan terakhir Allah. Tidak ada lagi nabi dan rasul setelah dia. Seperti Nabi dan Rasul, Muhammad SAW bukanlah manusia biasa. Dia adalah orang spesial yang diutus oleh Allah SWT. Efektif selama 23 tahun Nabi Muhammad berdakwah dari bi’tsah di Mekah sampai kematiannya di Madinah. Hidupnya, saw, adalah kisah khusus. Sukses hanya sekali tidak akan terulang sampai Hari Kebangkitan. Oleh karena itu “kisah” kehidupan Nabi Muhammad disebut sirah nabawiyah, tidak bertanggal.

Sirah adalah kumpulan informasi lengkap tentang kehidupan Nabi yang disusun secara kronologis, diriwayatkan sebagai hadits. Pengertian acara dalam sirah nabawiyah bisa berbeda-beda tergantung dari sudut pandang orang yang membacanya. Hal ini terlihat dari banyaknya kitab sirah yang ditulis oleh para ulama sesuai dengan gaya masing-masing. Yang pasti pengertian sirah bukanlah sirah itu sendiri.

Sirah Nabawiyah adalah semacam peta jalan bagi para aktivis gerakan Islam dalam mewujudkan kehidupan Islam secara totalitas (kaffah) yang mencakup seluruh aspek kehidupan (syumuliyah) karena dalam sirah nabawiyah digambarkan kehidupan Islam yang sempurna. Selain itu, merupakan kewajiban setiap Muslim untuk mengikuti Nabi Muhammad sebagai uswah dan qudwah. Dua dalil ini, kewajiban mengamalkan syariah secara kaffah dan kewajiban mengikuti Nabi, menjadi dasar syar’i di kalangan aktivis gerakan Islam untuk menjalankan sirah nabawiyah.

Dari Ikhwanul Muslimin, telah diterbitkan buku-buku sirah nabawiyah yang populer di kalangan aktivis mereka, termasuk: Manhaj Haraki dari Syekh Abdul Munir Ghadban, Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Syekh Said Ramadhan al-Buthi dan Fiqih Sirah dari Syekh Muhammad al-Ghazali. Sayyid Qutub dalam Hadza al-Islam dan Ma’alim fi ath-Thariq juga menyebutkan pentingnya menapaki jalan dakwah Nabi untuk menciptakan generasi yang sama dengan generasi pertama Islam.

Hizbut Tahrir bahkan lebih tegas mengakui bahwa metode dakwah mereka mengikuti metode (thariqah) dakwah Nabi. Secara khusus terdapat 4 kitab yang menjelaskan cara dakwah Nabi, yaitu Ta’rif Hizbut Tahrir karangan Syekh Abdul Qadim Zallum, Daulah Islam karangan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, Manhaj Hizbut Tahrir li Taghyir dari presentasi utusan HT materi di Amerika dan Dakwah Islam yang disusun oleh Syekh Ahmad Mahmud.

Baca Juga :  Ulil Abshar Abdalla: Penyegaran MUI

Uniknya, dari sirah yang sama menghasilkan pola gerakan yang berbeda, IM menjalankan aktivitas ishlah secara bertahap dan natural, min fardhiyah ila daulah dalam sistem kehidupan saat ini, sedangkan HT menjalankan gerakan revolusioner total taghyir min nizhamul kufr ila Daulah Khilafah. Kecuali IM dan HT, masih ada jamaah dakwah yang mengambil Sirah sebagai inspirasi gerakannya, misalnya Jama’ah Tabligh, Hidayatullah, DI / TII Kartosuwiryo.

3 hal yang penting diperhatikan dari pemahaman jamaah dan harakah Islam tentang sirah nabawiyah Sirah Nabawiyah sebagai inspirasi model penyelenggaraan kamp dakwah, hakikat dakwah dan cara-cara praktis, serta tujuan akhir kamp dakwah.

Sesungguhnya umat Islam, termasuk Felix Siauw, dan teman-teman HTI-nya, harus mengikuti sunnah Nabi dalam berdakwah. Ini adalah niat yang mulia. Tetapi niat mulia tanpa pemahaman yang benar akan mengarah pada praktik yang sia-sia.

Jika niat ikut sirah nabawiyah adalah meniru perjalanan dan kehidupan Islam pada masa Nabi, lalu menempelkannya ke dalam pergaulan mereka dan ke dalam kehidupan ummat saat ini, jelas pemahaman tersebut tidak ada faktanya. Misalkan Anda memasukkan gajah ke dalam lubang jarum. Kehidupan Islam di bawah tuntunan wahyu Allah, yang dipimpin oleh Nabi Allah swt, tidak mungkin terulang.

Kehidupan di zaman Nubuwwah begitu ideal dan sempurna sehingga dapat dipastikan bahwa impian ingin hidup persis sama lebih merupakan mimpi kosong. Bukan kehidupan yang persis sama dengan masa Nabi yang dimaksud dengan kaffah Islam.

Hal yang paling realistis bagi jamaah Islam dan harakah adalah menjadikan sirah nabawiyah sebagai dasar pembuatan rumusan dakwah yang dikenal dengan manhaj / minhaj nubuwwah. Setiap jamaah dan harakah memiliki arti masing-masing untuk manhaj / minhaj nubuwwah. Perbedaan makna ini disebabkan adanya perbedaan stres dalam membaca sirah.

Ciri dakwah Nabi yang disampaikan Felix Siauw dalam artikel berjudul Cara Benar di Saluran Telegram, mengambil dari sudut pandang HTI. Tentunya karena dia adalah salah satu aktivis HT di Indonesia. Ciri dakwah Nabi adalah fikriyah, siyasiyah wa la unfiyah (pemikiran, politik dan tanpa tindakan anarkis). Fitur ini dirangkum oleh HTI Sirah Nabawiyah.

Baca Juga :  Astaghfirullah! ‘Hayya Alal Jihad’ Awalnya Diciptakan Teroris Arab Saudi

Persoalan muncul ketika pengertian sirah nabawiyah akan diterapkan dalam kehidupan nyata sekarang, dimana Nabi telah wafat, wahyu sudah berhenti berjatuhan, fikrah Islam sangat beragam, kepentingan, aspirasi dan ekspresi politik umat yang pluralistik. Tidak ada satupun otot yang berhak mengatasnamakan Islam.

Ketika Nabi masih hidup, hanya ada dua kelompok orang, Muslim dan kafir. Fikrah Islam vis a vis fikrah jahililiyah. Fikrah Islam berarti aqidah wa syariah. Fikrah Islam di satu sisi, kafir di sisi lain. Dalam konteks Indonesia saat ini, sangatlah naif bagi Felix Siauw dan kawan-kawan HTI-nya untuk memposisikan fikrahnya sebagai fikrah Islami seperti dalam setting sirah nabawiyah.

Makna fikrah Islam di tengah masyarakat yang heterogen saat ini adalah fiqh. Fiqh sendiri adalah hasil pemahaman hukum syariah. Sangat relatif, tentatif dan kompetitif ketika berbagai fikih bertemu. Fiqh HTI yang diikuti Felix Siauw belum tentu sama dengan NU, Muhammadiyah, FPI, Persis, al-Irsyad dan lain-lain.

Adapun siyasah sebagai ciri dakwah Nabi, Felix menjelaskan: “Selain itu, sejak awal Nabi juga mengarahkan dakwahnya pada penerapan Islam secara penuh melalui kekuasaan. Ketika dia pindah ke Madinah, itu terjadi. ”Dakwah dengan pendekatan yang ampuh.

Damai Muhammad besertanya Nabi dan Rasul terakhir. Misinya mengajak orang untuk beribadah kepada Allah SWT tanpa harus bersekutu dengan-Nya.Dia mengajar, membimbing dan memberikan contoh bagaimana beribadah kepada Allah SWT dalam segala aspek kehidupan.

Untuk itu, kekuatan politik diperlukan sebagai sebuah struktur. Kekuasaan bukanlah yang dia maksud. Dia tidak dikirim untuk menjadi penguasa. Ini bukan Khalifah. Nabi dan Rasullah yang menggunakan kekuatan untuk menyelesaikan misinya.

Nabi Muhammad saw[i]dia tidak meminta kekuatan sejak awal khotbahnya. Dia (saw) meminta orang-orang Quraish kafir untuk percaya kepada Allah SWT. Dia menolak tawaran kekuasaan untuk menghentikan dakwah yang diajukan oleh kafir Qurais. Bahkan di Madinah dia tidak meminta kekuasaan politik. Kekuatan politik yang diberikan oleh para pemimpin suku ‘Aus dan Khazraj bukan lagi konsekuensi dari keimanan mereka kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Ketika aspek siyasah sirah nabawiyah diterapkan dalam konteks Indonesia, mungkin Felix Siauw menutup mata terhadap fakta bahwa sudah ada seorang penguasa syar’i yang dipilih oleh ummat untuk memimpin mereka. Dari presiden sampai ketua RT. Siyasah, sebagai upaya untuk mendapatkan kekuasaan dalam menjalankan syariah sebagaimana yang tertuang dalam sirah, tidak relevan untuk diikuti karena memang tidak ada teladan dari Nabi Muhammad.

Baca Juga :  Alhamdulilah! Adie MS Kagumi NU karena Tak Mudah Terprovokasi

Pemberian kekuasaan absolut oleh para pemimpin ‘Aus dan Khazraj pada Muhammad karena kemampuannya sebagai Nabi dan Rasul yang bisa dipercaya. Adakah orang yang sekarang memiliki kemampuan seperti itu sehingga mereka pantas menerima kekuasaan absolut dari ummah?

Tak heran jika konsep thalabun nushrah yang dianut oleh HTI Felix Siauw dicurigai melegitimasi cara kudeta HT untuk mendapatkan kekuasaan di luar cara biasa dalam memilih pemimpin berdasarkan asas kesenangan wa ikhtiar (pilihan sukarela dan bebas).

Siyasah dengan arti thalabun nushrah merupakan konsep yang tidak masuk akal yang bertentangan dengan ajaran Islam tentang kebebasan memilih pemimpin politik.

Aktualisasi ciri dakwah siyasah Nabi lebih tepat sebagai ketaatan bersyarat kepada penguasa terpilih ummah. Taat jika penguasa menerapkan aturan yang sesuai, selaras dan sesuai dengan aturan Allah SWT (syariah) dan memeriksa, mengoreksi dan menolak untuk taat jika penguasa itu tidak bermoral kepada Allah SWT hanya dalam hal-hal yang menjadi komitmennya. , sambil tetap menyadari kekuatannya. Dilarang melakukan kudeta saat pemimpin masih berdoa.

Ciri terakhir dakwah Nabi yaitu unfiyah (tanpa tindakan anarkis), telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari dakwah Islam. Walisongo, NU Kyai, da’i ormas lain berdakwah tanpa aksi anarkis dengan dakwah bil, bil qalam dan bil hal.

Yang terakhir. Keinginan untuk mengikuti metode dakwah Nabi dengan menerapkan sirah nabawiyah sesuai pemahaman seseorang tanpa memperhatikan dakwah fiqh akan berbenturan dengan realitas umat. Umat ​​saat ini bukanlah Ummah ketika Nabi Muhammad masih hidup. Umat ​​ini hidup 1448 tahun setelah kematian Nabi. Umat ​​ini hidup bersama dan di bawah bimbingan ahli waris para nabi adalah ulama waratsatul ambiya.

Ayik Heriansyah

Sumber: https://www.facebook.com/ayik.heriansyah.39/posts/169224887994468

(Suara Islam)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *