pelaku-bom-696x394.jpeg

Innalillah! Surat Wasiat L Sebelum Meledakkan Diri di Gereja Katedral Makassar

Diposting pada
Foto: dua terduga pelaku bom Makassar (Istimewa)

Bom bunuh diri itu terjadi di pintu gerbang Gereja Katedral Jalan Kajaolalido, MH Thamrin, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3) sekitar pukul 10.20 WIB. Dalam keterangan resminya, Senin (29/3), Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan pelaku bom bunuh diri berinisial L itu meninggalkan surat wasiat kepada orang tuanya. Dengan kemauan ini, penulis menyapa orang tuanya dan siap menjadi martir.

“Kakak L meninggalkan wasiat untuk orang tuanya pamit dan siap syahid,” kata Sigit saat jumpa pers di Polda Sulsel, Senin (29/3).

Mantan Kabareskrim itu juga mengatakan, identitas L diketahui dari hasil identifikasi Sistem Identifikasi Sidik Jari Otomatis Indonesia (Inafis) melalui pengambilan sampel sidik jari di tempat dan pemeriksaan DNA oleh Pusat Laboratorium Forensik Polri. Sedangkan penulis berinisial YSF adalah istri dari penulis L yang dinikahinya beberapa bulan lalu.

“Saudara L dan YSF beberapa bulan lalu tepatnya dinikahkan enam bulan lalu oleh Rizaldi yang ditangkap beberapa waktu lalu di bulan Januari. Rizaldi adalah kelompok Jamaag Ansharut Daulah atau JAD yang terkait dengan peristiwa di Katedral Jolo. Di Jolo Katedral. Filipina tahun 2018, “kata Sigit.

Baca Juga :  Media Asing Prediksi Butuh 10 Tahun Covid-19 Hilang di Indonesia, Moeldoko: Berlebihan, Belajar Dulu Sini

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Pol Argo Yuwono menambahkan, usai aksi bom bunuh diri kemarin, ada foto seorang pria yang mengendarai sepeda motor matic sedang berkendara bersama seorang wanita. Argo membenarkan, sepeda motor bernomor DD 5984 MD itu digunakan oleh dua pelaku bom bunuh diri.

Investigasi masih berlangsung, termasuk temuan penulis lain, kata Argo.

Argo mengatakan bukti lain dicari di sejumlah tempat, termasuk rumah penulis. Ia mengatakan, pelakunya adalah bagian dari kelompok JAD yang melakukan aksi bom di Jolo, Filipina. “Kami menunggu hasil kerja mitra di lapangan dan kami berharap semuanya,” kata Argo.

Peledakan bom bunuh diri di Makassar melukai sejumlah jemaat gereja dan sebanyak 20 petugas keamanan tewas, baik luka ringan maupun luka berat. Puluhan korban dirawat di empat rumah sakit berbeda di Makassar, yakni RS Pelamonia, RS Bhayangkara, RS Akademik, dan RS Stella Maris.

Jumlah korban luka yang masih dirawat di rumah sakit tersebut hanya 15 orang. Sedangkan 13 orang diantaranya dirawat di RS Bhayangkari Makassar dan dua lainnya di RS Siloam.

Baca Juga :  Innalillah! Latihan Buat Bom di Masjid, 30 Militan Taliban Tewas Mengenaskan

“Dari 19 korban luka, saat ini hanya 15 orang. Empat lainnya diperbolehkan pulang untuk rawat jalan,” ujarnya.

Badan Intelijen Negara (BIN) mengungkapkan, pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, sebelumnya dikejar aparat keamanan. BIN juga mengatakan indikasi aksi terorisme di Makassar sudah dipantau sejak 2015.

“Pelaku bom bunuh diri di katedral sebenarnya sedang mengejar pasukan keamanan hari ini. Masih ada yang belum ditangkap dan masih dalam proses penuntutan, “kata Deputi VII BIN Wawan Purwanto dalam pesan singkatnya, Minggu (28/3).

Wawan menjelaskan, indikasi aksi terorisme di Makassar terpantau efektif sejak 2015, ketika ratusan penganutnya dikhianati ISIS di Sudiang, Sulawesi Selatan. Kemudian, pada awal Januari 2021, sekitar 20 terduga teroris jaringan JAD ditangkap oleh Polda Sulsel dan Densus 88.

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *