Radikalisme-3.jpg

Innalillah! Terpapar Radikalisme, Mahasiswa IPB Nyaris Bunuh Orang Tua Karena Larang Ke Suriah

Diposting pada
Ilustrasi

Pendiri Indonesian Islamic State Crisis Center (NII) ini mengaku mendapat laporan yang agak histeris dari masyarakat, karena pelakunya adalah keponakan polisi yang menjabat sebagai Wakil Kapolri dan bibinya adalah seorang perwira polisi berpangkat. dari Kombes yang bertugas di markas polisi nasional dan hampir membunuh orang tuanya karena dia dilarang berangkat ke Suriah.

Misalnya, Putra (nama samaran) awalnya adalah anak yang penurut dan patuh kepada orang tuanya, rajin beribadah, dan suka menolong teman yang membutuhkan.

Munculnya tersangka anggota keluarga akibat penyimpangan perilaku, menurut teman-teman semasa kampus IPB Bogor sering terjadi dialog frontal yang menyudutkan, menyalahkan pemerintah dan aparat, segala sesuatu yang dilakukan oleh pemerintah dan aparat adalah salah.

Sesampainya di rumah, Putra bahkan mengecat tembok rumahnya yang semula putih lalu diganti dengan cat hitam, dan menuliskan kalimat tauhid di tengahnya.

Ketika mereka memohon dan tidak diberikan, mereka selalu marah dan tidak segan-segan membuang perabotan untuk rumahnya.

Bahkan ketika orang tuanya salat berjamaah di rumah, mereka ditendang dan dipukuli oleh Abdullah hingga lebam dan lebam karena tidak punya uang untuk keluar negeri karena alasan jihad. Dia telah mengambil senjata tajam tetapi orang tuanya berhasil.

Baca Juga :  Jokowi Tokoh Muslim Berpengaruh, MPR: Pacu Kiprah Indonesia di Dunia Islam

Curiga, saat Putra kembali kuliah di Bogor, orang tuanya menggeledah kamarnya dan menemukan wasiat perpisahan jika Putra pergi ke Suriah untuk berjihad.

Akhirnya pihak keluarga menelepon hotline NII Crisis Center di 0898-5151-228 dan meminta untuk berdialog dengan Putra agar bisa normal kembali.

Melalui tahapan identifikasi, investigasi dan rehabilitasi, akhirnya Putra memahami kesalahannya dan mulai berubah lagi, meski belum 100 persen, ia tetap bercakap-cakap dan memberikan kegiatan agar tidak memikirkan kembali secara fundamental.

Menurut Ken, model perekrutan radikal sekarang acak, berpotensi semua direkrut.

Dulu ketika Ken masuk ke Negara Islam Indonesia, banyak keluarga TNI / POLRI dijauhi karena rentan terhadap keamanan, kini selama mereka yakin bisa berbohong dan meninggalkan keluarganya mereka akan diincar dan direkrut juga.

Ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah, karena menurut Ken masalah terorisme tidak bisa dihilangkan jika akar penyebab intoleransi dan radikalisme dibiarkan begitu saja.

Intoleransi bagi Ken adalah pintu radikalisme dan terorisme, ketika seseorang tidak menerima perbedaan, hanya dia dan kelompoknya yang benar sedangkan kelompok lain salah, meskipun surga hanya diklaim oleh dirinya dan kelompoknya sedangkan yang lain dicap pergi ke neraka.

Baca Juga :  Amien Rais Temui Jokowi soal Tewasnya 6 Laskar FPI, Denny Siregar Beri Sindiran Pedas

Menindak teroris memang penting, namun jika pencegahan tidak dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif maka masalah terorisme tidak akan pernah hilang dan akan terus berkembang di negeri ini. Tutup Ken.

Sumber: https://kontraradikal.com/2021/03/03/ken-setiawan-terpapar-radikalisme-mahasiwa-ipb-nyaris-b Kill-orang -]- karena-terlarang-ke-Suriah /

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *