INSS-Perang-Israel-vs-Poros-Resistensi-di-Masa-Mendatang-Mencakup.jpg

INSS: Perang Israel vs Poros Resistensi di Masa Mendatang Mencakup Libanon, Suriah, Irak, dan Gaza

Diposting pada

TelAviv, Warta Batavia –   Sebuah studi yang dilakukan oleh Institut Studi Keamanan Nasional Israel  (Institute for National Security Studies/INSS) mengenai skenario perang yang berpotensi terjadi di masa mendatang Israel melawan Arab dan Iran yang tergabung dalam Poros Resistensi menyimpulkan bahwa perang itu akan berlangsung multi-arena, yang bisa jadi mencakup Lebanon, Suriah, Irak, dan Gaza.

Direktur lembaga think tank Israel tersebut, Brigjen Purn. Udi Dekel, memperingatkan, “Dalam perang mendatang, garis depan Israel akan diserang dengan ribuan rudal, serta pemboman dengan pesawat-pesawat nirawak dari beberapa arena; Lebanon, Suriah, Irak barat dan mungkin Gaza.”

Menurut studi tersebut, konfrontasi berikutnya adalah melawan poros “Syiah Iran”, yang – dalam rangka mengkristalkan porosnya – telah menciptakan rantai internal yang terhubung dari Teheran ke Beirut dan mencakup penggalangan berbagai kemampuan untuk menyerang Israel dalam skala besar dengan misil, pesawat nirawak, dan unit-unit gerilya yang menyusup ke dalam wilayah Israel serta menyerbu permukiman dan situs-situs penting di dekat perbatasan dengan Lebanon dan Dataran Tinggi Golan.

Baca Juga :  42 Teroris ISIS Tewas Digempur Pasukan Irak

Kajian INSS juga menyebutkan, “Perang mendatang akan multi-arena, termasuk Lebanon, Suriah dan Irak barat, dengan kemungkinan Hamas dan Jihad Islam bergabung dengan Jalur Gaza.”

Para penulis studi tersebut menekankan bahwa ada perubahan besar dalam ancaman yang diwakili oleh intensifikasi kehadiran kelompok pejuang Hizbullah, terutama upayanya untuk mempersiapkan rudal berpresisi dengan bantuan Iran.

“Perang mendatang di utara akan menghancurkan dan berat, dan tampaknya tidak ada pihak yang menginginkannya pecah,” kata peneliti senior INSS, Orna Mizrahi, seperti dikutip Channel 12 milik Israel, Senin (7/12/2020).

Dia menambahkan, “Meskipun berbagai pihak tidak menginginkan perang (terjadi) sekarang, namun konfrontasi ini dapat pecah dan lepas kendali karena beberapa alasan; instabilitas kawasan pasca pembunuhan ilmuwan Iran Mohsen Fakhrizadeh, dan desakan Iran untuk terus memperkuat kesiapannya untuk perang di utara.”

Para penyusun kajian itu menyatakan bahwa perang berikutnya akan berbeda dengan perang sebelumnya dari segi lingkup dan intensitas, karena banyak kerusakan diperkirakan terjadi di garis depan Israel, termasuk obyek-obyek strategis di Israel, namun kerusakan terbesar akan terjadi di Lebanon dan Suriah.

Baca Juga :  Utang Pemerintah Tembus Rp 6.000 T, Ini Penjelasan Sri Mulyani

Studi itu menyebutkan bahwa “skenario serangan tiba-tiba dapat melemahkan dan mengganggu kemampuan tentara untuk bertindak dalam tanggapan langsung dan kesiapan pasukan pertahanan udara, dan untuk memobilisasi pasukan cadangan”, dan bahwa “dalam skenario apa pun, fokusnya akan menimbulkan kerusakan parah pada bagian depan rumah sipil Israel dan melumpuhkan ekonomi.”

Udi Dekel mengatakan, “Situasi masyarakat Israel yang mengkhawatirkan, sebagaimana terlihat dalam krisis Corona, menimbulkan keprihatinan besar tentang hasil perang.” (mm/raialyoum)

Baca juga:

Iran Ungkap Rincian Baru Tragedi Pembunuhan Ilmuwan Fakhrizadeh

Israel Keluarkan Peringatan Baru Mengenai Kemungkinan Serangan Iran

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *