Intoleransi Lahir dari Pemahaman Agama yang Salah – Aspiratif News

Views: 19
Read Time:2 Minute, 41 Second

Intoleransi Lahir dari Pemahaman Agama yang Salah – Aspiratif News

Jakarta, Aspiratif News

Wakil Direktur Eksekutif International Conference of Islamic Scholars (ICIS) KH Khariri Makmun menerangkan bahwa sikap intoleran kerap lahir dari pemahaman agama yang salah. Kekeliruan dalam memahami agama, kerap kali ia temukan pada seseorang yang memaksa memahami teks Al-Qur’an dan Al-Hadits dengan tanpa mempunyai ilmu yang cukup, di samping karena tidak mempunyai guru dengan sanad keilmuan yang baik.


Fenomena ‘memaksakan diri’ ini menurutnya berbahaya dalam konteks agama. Sebab kerap kali langsung berpatokan pada Al-Quran dan Al-Hadits tanpa melalui tafsir dan penjelasan para ulama. Parahnya, lanjut dia, sebagian mereka mendikotomikan pandangan para ulama dengan menerangkan bahwa ijtihad pendapat-pendapat ulama itu bukan berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

 

“Makanya mereka yang mengambil langsung dari sumbernya Al-Qur’an dan Al-Hadits akan berhadapan dengan problem yang lebih sulit. Karena kesanggupan mereka di dalam memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits saja sebetulnya tidak sampai, tapi dia memaksakan diri,” katanya di Jakarta, Ahad (28/6).

READ  Terbongkar, Angkatan Laut AS Terlibat dalam Penyelundupan Wanita Penghibur di Bahrain - Aspiratif News


Kelompok orang yang biasa melakukan ‘bay-pass’ sanad keilmuan ini umumnya tidak ditemukan di kalangan penganut Ahlussunnah wal jema’ah An-Nahdliyyah. Sebab kalangan Aswaja, diajarkan mencari pemahaman dari kitab-kitab karya para ulama. Karena pada kitab tersebut Ada pandangan ulama yang dianggap lebih kredibel dan punya kesanggupan dalam memahami ayat-ayat Allah dan hadits Nabi Muhammad SAW.


Lebih detail, Khariri menerangkan, dari pemahaman yang dangkal dan kebiasaan ‘by-pass’ dalil inilah lahir usaha yang serta merta membenturkan agama dan negara. Sebab secara garis besar, seseorang yang dapat memahami agama itu dengan benar, akan mengetahui keselarasan nilai agama yang terkandung dalam Al-Quran dan nilai-nilai yang tertanam dalam Pancasila.


“Di dalam Pancasila ada sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang itu sebetulnya tauhid, kemudian sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab itu ‘al insaniyah’, kemudian sila Persatuan Indonesia yang di dalam Al Qur’an disebut ‘wa’tasimu bihablillahi jami’an wala tafarraqu’ yang artinya kita bersatu jangan tercerai berai. Lalu sila ke-4 itu permusyawaratan perwakilan itu ‘as-syura’ yang dalam Al Quran itu artinya Musyawarah. Juga sila Keadilan Sosial ialah ‘al ialah’ yang artinya keadilan” ujarnya menerangkan.

 

READ  Cerita Julaibib Sahabat Rasulullah: Berhenti Pada Titik Ketaatan Allah

Dengan adanya penjelasan yang tercermin di dalam Al Quran tersebut maka Khariri menceritakan bahwa rumusan-rumusan Pancasila itu sudah seirama dengan maqashidu asy-shyariah dengan tujuan-tujuan agama.


Tetapi seperti ini, ia menyaksikan bahwa sebagian besar pihak yang kerap membenturkan agama dan Pancasila Ialah korban dari propaganda yang salah yang Penting dibantu untuk memahami Al-Quran dan Al-Hadits dengan lebih baik.


“Orang-orang ini ini sebetulnya ialah korban dari indoktrinasi jadi Penting diajak dialog. Saya sendiri sebagai guru besar, saya mengajarkan mulai dari maha siswa di semester ke-1 ada materi Soal hal intoleran lalu bagaimana kita berhadapan dengan intoleran itu sehingga kita dapat jadi toleran. Kita juga berikan ke mereka bagaimana pemahaman yang benar. Khususnya dalam konteks beragama di Indonesia,” katanya.


Bagian cara yang dapat ditempuh ialah dengan membuka ruang dialog sebesar-besarnya. Dialog Ialah metode yang amat efektif untuk memberikan pemahaman yang lebih luas Masalah keselarasan nilai agama dan negara.


Pewarta: Ahmad Rozali

Editor: Muhammad Faizin

READ  Aplikasi Bencana InaRISK Personal Masih belum Memuaskan Pengguna - Aspiratif News

Intoleransi Lahir dari Pemahaman Agama yang Salah – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *