Radikalisme-dan-Terorisme-696x435.jpeg

Ironi Demokrasi: Radikalisasi Halal, Terorisme Haram

Diposting pada
Ilustrasi

Radikalisme dalam agama muncul dari dua faktor yaitu penyebab (faktor internal) dan pemicu (faktor eksternal). Penyebab radikalisme dan terorisme terletak pada umat beragama itu sendiri yaitu minimnya pengetahuan agama, minimnya amalan agama dan minimnya pengalaman dalam berinteraksi dengan pemeluk agama lain.

Konsekuensinya, aspirasi religiusnya terbatas (konvergen) dan tidak menyimpang. Adanya keinginan untuk hegemoni dan homogenisasi kehidupan sesuai dengan kepentingan kelompok agama.

Pemicu radikalisme dan terorisme berada di luar komunitas agama, yaitu kondisi ideologis, politik, ekonomi, sosial, dan budaya bangsa yang tidak sesuai dengan harapan dan perkiraan serta cenderung merugikan.

Situasi ini telah menimbulkan rasa kecewa terhadap pemerintah, yang menimbulkan kekesalan terhadap pemerintah dan negara.

Hal tersebut mempercepat dan memperkuat alibi gerakan radikal untuk melakukan aksi teror.

Radikalisme akan mengkristal menjadi aksi teror karena terorisme merupakan metode gerakan radikal untuk mencapai tujuannya.

Jika radikalisme adalah air, maka terorisme adalah ikan. Tanpa air tidak mungkin ikan bisa hidup. Radikalisme adalah kebiasaan terorisme.

Baca Juga :  Tingkatkan Cakupan Data Penerima Bansos di 2021, Ini yang Dilakukan Kemensos

Di sinilah muncul kebutuhan mendesak akan aktivitas anti radikalisasi dan deradikalisasi dalam rangka pemberantasan terorisme.

Ironisnya, radikalisasi masyarakat dilakukan oleh kelompok radikal seperti FPI, HTI, MMI, dll. Itu diabaikan. Mereka bebas meradikalisasi masyarakat tanpa ada tindakan hukum dari pihak berwenang, karena diyakini tidak melanggar hukum dan merupakan bagian dari demokrasi dan hak asasi manusia. Aneh.

Ayik Heriansyah

Sumber: https://www.facebook.com/ayik.heriansyah.39/posts/282329640017325

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *