toleransi-696x461.jpg

Islam antara Militansi dan Toleransi

Diposting pada
Ilustrasi

Menjadi seorang Muslim yang baik militan atau toleran? Pertanyaan ini sebenarnya sudah cukup lama mengganggu saya, terutama ketika saya ingin menanamkan Islam sejak usia dini. Seharusnya menanamkan esensi Islam pada anak-anak dengan karakteristik militan yang membedakan “Islam ya, tidak kafir!” atau bahkan perkenalan teman yang berbeda agama harus dihormati.

Kemudian suatu saat saya sangat terkesan dengan penjelasan salah seorang ulama, bahwa menurut saya tidak perlu diragukan lagi kemampuan keilmuannya terutama dalam ilmu uushul fiqh. Penjelasannya mampu menjernihkan kebingungan saya, apakah saya militan atau toleran.

Ia merupakan pengurus Perguruan Tinggi Islam Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur KH Afifuddin Muhajir pada acara kuliah mendiang Abdurrahman Wahid atau Gus Dur Haul tahun 2019. Dengan nada yang sangat lembut namun padat secara substansi, KH Afifuddin mengatakan bahwa الاسلام بين الحماسة والسماحة (Al-islamu baina al-hamasah wa al-masahah).

Makna dalam terjemahan yang ia sampaikan adalah bahwa Islam berada di antara semangat yang membara dan toleransi yang sejati. Dengan penjelasan ini saya telah menemukan jawaban untuk pertanyaan lama yang belum saya temukan jawabannya. Kemudian saya menerjemahkannya dengan penerbit: Islam adalah antara militansi dan toleransi. Karakter Islam adalah militan dan toleran. Tidak ada yang dapat bertentangan dengan keduanya, tetapi yang satu tidak boleh ditinggalkan.

Baca Juga :  Terbongkar, Upaya Pemindahan Teroris dari Kamp al-Haul Suriah ke Irak

Slogan yang disiarkan KH Afifuddin tidak hanya menjawab kegelisahan saya, tetapi saya rasa ini merupakan respon tegas atas ketegangan masyarakat dan kelompok yang ingin berada di satu sisi tanpa melihat sisi lain. Kelompok pertama tampaknya sangat militan dalam suasana hati yang baik, dengan antusias membela agama, tetapi melupakan wajah lain Islam yang disebut toleransi. Kelompok kedua terlihat sangat toleran, selalu bersahabat dengan perbedaan dan menghargai perbedaan, namun terkadang melupakan semangat militansi untuk mengangkat dan memuliakan Islam.

Islam di satu sisi mengajarkan umatnya untuk memiliki sikap militan dalam mendalami agama dan dakwah serta semangat melaksanakan amar ma’ruf nahi munngkar. Untuk alasan ini, mereka yang tampak membela agama, melakukan nahi jahat dan terus menerus mendakwahkan Islam bukanlah radikal. Itu adalah bagian dari tatanan religius. Namun, satu sisi Islam mengajarkan pengikutnya untuk menghargai perbedaan. Memiliki sikap toleran terhadap kelompok yang berbeda keyakinan dan pendapat.

Di satu sisi, Islam menegaskan pepatah “Islam yang paling benar”, tetapi di sisi lain, Islam menyerukan “tidak ada paksaan dalam agama”. Satu Islam mengajarkan mereka untuk berdakwah dan mengajak mereka untuk masuk Islam, tetapi sisi lain dari Islam mengingatkan kita bahwa pada kenyataannya kita hanya memberi peringatan, kita tidak memberikan arahan.

Baca Juga :  Non Muslim Memandikan Jenazah Muslim dan Sebaliknya Bukan Penodaan Agama

Apakah ini berarti ayat atau ajaran Islam saling bertentangan? Ataukah Islam berarti inkonsistensi dalam pendidikan umatnya? Di sinilah kata kuncinya adalah menjadi Muslim yang baik, tidak berlebihan dan ekstrim, harus di antara nilai-nilai militansi dan toleransi. Jika kita terpojok dan hanya bergantung pada militan, itu akan jatuh ke dalam lubang ekstrimisme, sementara hanya mengambil posisi toleran jatuh ke dalam kemunafikan.

Jadi pada dasarnya sikap antara yang dianut Islam merupakan bagian dari cara berpikir tawasuth karena Allah menjadikan umat Islam seperti ummatan wasathan. Islam mengajarkan kita untuk berada dalam posisi militan dan toleran yang tidak dapat dibangun di antara mereka, tetapi tidak dapat diabaikan. Islam harus adil dan seimbang di atas tiang yang militan dan toleran.

Begitu pula ketika anak-anak dan remaja dididik dan dididik, tidak cukup dengan mengumumkan penyeberangan bermil-mil, tapi ini tidak dibarengi dengan toleransi. Baik militansi maupun toleransi adalah ciri khas umat Islam yang harus ditanamkan pada generasi muda.

Baca Juga :  Marah Besar, Tokoh Pejuang Irak: Negara ini Bukan Milik Bapakmu!

Baca juga: Agama adalah Bentuk Pengajaran, Menghargai Agama Berarti Menghormati Salam Yang Di Ajarkan
Menjadi seorang muslim harus memiliki semangat yang besar dalam mendalami Islam, dakwah Islam dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Namun, jangan lupa bahwa menjadi seorang muslim harus memiliki sikap yang menghargai perbedaan dan membawa perdamaian.

Sumber: https://islamkaffah.id/islam-antara-militansi-dan-toleransi/?

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *