Jalan keluar Waktu Pandemi, Semua Pihak Wajib Siap dengan Kehidupan Baru – Aspiratif News

Read Time:2 Minute, 47 Second
1 Views
Jalan keluar Waktu Pandemi, Semua Pihak Wajib Siap dengan Kehidupan Baru – Aspiratif News

Jalan keluar Waktu Pandemi, Semua Pihak Wajib Siap dengan Kehidupan Baru – Aspiratif News

Surabaya, Aspiratif News
Pandemi Covid-19 sungguh-sungguh melumpuhkan nyaris seluruh sendi kehidupan di Tanah Air. Warga wajib menerima kondisi sejatinya kegiatannya dibatasi, sementara pemerintah masih mencoba mencari formula the best agar sebaran virus tidak makin merebak. Pada waktu yang sama juga memastikan roda perekonomian berjalan sesuai harapan.

 

Dalam implementasinya di lapangan, menjembatani 2 kepentingan ini ternyata tidak mudah. Baik pemerintah dan warga sama-sama mengalami kegagapan dalam berhadapan dengan pandemi covid-19. Mengingat, permasalahan yang muncul terus berkembang dan berdampak ke bagian lain. Sehingga, keputusan taktik yang dikeluarkan untuk menangani permasalahan ini sering kontradiktif di penduduk. Warga juga ikut bingung dan tergagap-gagap dalam memahami keputusan taktik pemerintah maupun permasalahan baru yang terus bermunculan.

 

Sejumlah permasalahan tersebut mengemuka pada dialog online bertopik ‘New Normal: Berdampingan dengan Corona’ yang digelar Pengurus Pusat Ikatan Famili Alumni (IKA) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Jumat (22/5). 

 

Di 1 sisi pemerintah menerapkan keputusan taktik Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB, akan tetapi ada keputusan taktik lain yang memperbolehkan transportasi umum beroperasi. “Ini kan dapat kontraproduktif,” kata Bupati Lumajang, Thoriqul Haq waktu menyampaikan paparan. 

 

Seperti ini pula terkait sokongan yang diberikan pemerintah untuk penduduk terdampak Covid-19. Ada janda yang sebelum pandemi sudah miskin, lalu ada pelaku usaha katering yang usahanya mandek sudah 2 bulan lebih karena tidak ada pesanan. Padahal, yang bersangkutan wajib menuntaskan kewajiban membayar pekerja dan kredit di bank untuk modal usaha. 

 

“Mana yang wajib dibantu lebih dulu? Ini dilema. Belum lagi permasalahan yang lain, seperti Penting mendahulukan penyelesaian dari sisi kesehatan atau sosial ekonominya. Akibatnya, banyak penduduk yang tidak percaya dengan keputusan taktik pemerintah,” keluh alumnus Fakultas Adab UINSA tersebut. 

 

Sementara itu, Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jatim, Ismail Nachu menyampaikan bahwa, kegagapan tidak cuma dialami pemerintah tapi juga seluruh komponen penduduk. Karena itu, agar tidak makin gagap harusnya saling menyokong dan membantu menuntaskan problem, bukan saling menyalahkan. 

 

“Sebab, akan jadi bahaya bila sampai menimbulkan distrust (ketidakpercayaan) penduduk untuk pemerintah,” papar Ismail yang juga dikenal sebagai Pebisnis properti. 

 

Ismail mengajak semua komponen penduduk untuk mempergunakan akal sehat dalam berhadapan dengan pandemi. Di antaranya dengan mengedepankan berpikir hikmah. Yaitu, mengajak untuk melakukan kebaikan berbarengan. 

 

“Kita wajib sadarkan rakyat supaya sedikit ngersulo (mengeluh), melainkan wajib selalu positif thinking (berpikir positif),” ajak Ismail.

 

Terkait dengan era new normal pada masa pandemi, Thoriqul Haq menganjurkan untuk mengurai dulu problematikanya. Apakah itu terkait dengan new culture, new economic, new social maupun new schooling. Misalnya, agar pelaku usaha tidak terus mati karena pandemi Corona tidak diketahui sampai kapan berakhir, akhirnya dibuat keputusan taktik baru. Seperti PKL, pasar dan mal diperbolehkan buka kembali. Masjid-masjid diperbolehkan menggelar ibadah, dan lain sebagainya. 

 

“Tetapi, langkah bijak itu wajib disertai dengan pembatasan atau pengetatan agar Corona tidak terus berkembang. Seperti inilah bentuk new normal. Jadi, wajib ada pembatasan-pembatasan yang lebih keras karena ini sungguh pilihannya supaya rakyat tidak makin terpuruk dari sisi sosial ekonominya,” papar Thoriq.

 

Apa yang disampaikan Thoriq juga diamini oleh Ismail Nachu. Dirinya menerangkan secara terus terang Soal hal ketidaksetujuannya dengan keputusan taktik pemerintah yang melarang masjid menggelar ibadah berjamaah. 

 

“Jangan masjidnya yang ditutup, tetapi orang beribadah ke masjid diperlakukan dengan pembatasan sesuai petunjuk dari para ahli yang mengerti,” pungkasnya. 

 

 

Pewarta: Ibnu Nawawi
Editor: Aryudi AR
 

Jalan keluar Waktu Pandemi, Seluruh Pihak Wajib Siap dengan Kehidupan Baru – Aspiratif News

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *