Jalur Sanad Qiraat Syekh Mahfuzh Tremas – Aspiratif News

Views: 30
Read Time:4 Minute, 7 Second

Jalur Sanad Qiraat Syekh Mahfuzh Tremas – Aspiratif News

Bagi yang pernah mengenyam pendidikan Al-Qur’an, wabil spesial di pesantren Al-Qur’an, pasti punya pengalaman tidak terlupakan waktu wajib belajar membaca surah Al-Fatihah sampai berhari-hari, seminggu bahkan 1 bulan. Begitu sulitkah sekadar belajar membaca surah Al-Fatihah sampai butuh waktu lama?


Begitulah bentuk tanggung jawab seorang guru. Tanggung jawab dunia akhirat agar bacaan al-Fatihah santrinya benar – benar sempurna mengingat surah al-Fatihah jadi rukun dalam menentukan sah tidaknya shalat seseorang.


Sisi lain dari sulitnya belajar Al-Qur’an di pesantren dan ketatnya dalam memberikan ijazah keabsahan bacaan santrinya karena menyangkut tanggungjawab yang tidak ringan dalam mengajarkan Al-Qur’an. Karena itu wajar sekali bila untuk mengajarkan surah fatihah saja butuh waktu lama sebagai bagian proses penting agar santri memahami sulitnya belajar Al-Qur’an dan tidak main-main dalam belajar.


Seperti ini itu proses ketat untuk dapat memperoleh sanad, di mana dalam dunia pesantren sanad jadi hal paling urgen yang wajib dipunyai sebagai bukti ketersambungan mata rantai ilmu yang dipelajari dari gurunya sampai Nabi Saw. Terlebih ilmu qiraat, di mana Al-Qur’an sebagai pedoman Utama ummat Islam wajib hukumnya dipelajari melalui kesanggupan membaca yang benar sesuai dengan riwayat bacaan yang sambung sampai Rasulullah saw, sang pembawa wahyu.

READ  Wasiat Rasulullah Saw Waktu Hati Tengah Galau - Warta Batavia


Bagaimana dengan jalur sanad qiraat Syekh Mahfuzh al-Tarmasi?


Dalam hal jalur sanad qiraat beliau mempunyai 2 guru Utama. Yang ke-1 ialah Syekh Muhammad Al-Minsyawi (w.1314 H). Darinya Syekh Mahfuzh medapatkan sanad Qiraat ‘Ashim riwayat Hafsh. Guru keduanya ialah Syekh Muhammad al-Syarbini al-Dimyathi (w.1321 H). Darinya Syekh Mahfuzh memperoleh sanad qiraat ‘asyrah (qiraat sepuluh).


Di antara 2 gurunya tersebut, Syekh al-Syarbini lebih mempunyai pengaruh besar pada kepakaran Syekh Mahfuzh di bidang ilmu qiraat. Hal ini dapat dilihat dari 2 kemungkinan; ke-1, lamanya masa mulazamah dan banyaknya daftar nama kitab yang berhasil beliau pelajari dari Syekh al-Syarbini. Ke-2, dalam beberapa manuskrip kitab qiraat, nama Syekh al-Syarbini selalu disebut sebagai guru Intinya dalam bidang qiraat. Pada bagian mukadimah kitab Ghunyah al-Thalabah misalnya, secara tegas Syekh Mahfuzh menyebutkan jalur sanad qiraat-nya dari Syekh al-Syarbini seraya berkata:


“Saya telah memperoleh qiraat ini dengan cara sima’an (menguping langsung) dari guru kami, yang jadi teladan Utama,rujukan sempurna, seorang muqri’ (guru qiraat) yang amat alim, yaitu Syekh Muhammad asy-Syarbini al-Makki.”


Pernyataan ini jadi indikator kedekatan hubungan guru-murid diantara keduanya. Seakan-akan tidak ada sekat yang Melepaskan antara Syekh Mahfuzh dengan Syekh al-Syarbini. Bahasa yang dipakai juga memperlihatkan kedekatan hubungan ilmiah antara Syekh Mahfuzh dengan gurunya, Syekh al-Syarbini.

READ  Nazar Jalan Kaki dari Musi Rawas ke Jakarta, Banser Maskun Pulang Dikawal Polri - Warta Batavia


Dalam kitab Ta’mim al-Manafi’ dan kitab Bughyah al-Adzkiya’ karya beliau, juga diketahui jalur sanad qiraat Syekh Mahfuzh ke bawah (muridnya). Salah satunya ialah Syekh Ahmad bin Abdullah al-Mukhallilati al-Dimasyqi (w. 1362 H). Ia memperoleh ijazah ‘ammah dari Syekh Mahfuzh. Pada perkembangannya, Syekh Mukhallilati ditunjuk jadi guru Al-Qur’an dan imam masjid al-Muwara’ah di Jarwal, juga pernah jadi imam masjid Syams atau yang dikenal dengan Dar at-Ta’lim al-‘Auni. Di antara karya monumentalnya ialah Nazhm fi Qiraat Ibn Katsir.


Dari jalur Syekh al-Mukhallilati inilah sanad qiraat Syekh Mahfuzh tersebar di Makkah-Madinah. Cuma saja hal tersebut tidak sama dengan data sanad qiraat yang ada di Pondok Pesantren BUQ, pesantren milik nasab Syekh Mahfuzh di Demak. Dalam syahadah ijazah sanad Al-Qur’an di pesantren itu tertera nama lain ialah Syekh Muhammad Amin Ridhwan al-Madani (w. 1329 H) sebagai guru langsung Syekh Mahfuzh.


Dalam kitab Kifayah al-Mustafid, nama Syekh Muhammad Amin Ridhwan al-Madani sungguh tercantum sebagai bagian guru beliau, cuma saja tidak ada Penjelasan yang spesifik bahwa Syekh Mahfuzh memperoleh sanad qiraat Al-Qur’an dari beliau. Sungguh ada pernyataan;

“Fa qad ajazani bi jami’i marwiyatihi al-katsirah musyafahatan wa mukatabah” (semua riwayat yang [dimiliki syekh Ridhwan al-Madani] telah diijazahkan kepadaku, baik secara lisan maupun tulisan).

READ  Hina Banser, Pentolan HTI Dijebloskan ke Sel - Warta Batavia


Pernyataan Syekh Mahfuzh ini, Intinya pada kalimat jami’ marwiyatih, dapat jadi berpatokan ke semua riwayat keilmuan gurunya, termasuk ilmu qiraat A-Qur’an. Melalui syahadah ijazah sanad Al-Qur’an di BUQ, diketahui pula jaringan sanad qiraat Syekh Mahfuzh yang ada di Indonesia, yaitu ke saudaranya, kiai Muhammad Dimyati dan kiai Abdur Razzaq dan kemudian turun ke putra semata wayangnya, Raden Muhammad, yang juga mempunyai sanad Al-Qur’an dari jalur kiai Munawwir, Krapyak,Yogyakarta. Bahkan ijazah sanad waktu ini juga menyambung ke kiai Arwani Amin, Kudus, guru dari kiai Harir Muhammad, cucu Syekh Mahfuzh al-Tarmasi.


Setidaknya dari Penjelasan di atas, terjawab sudah Masalah jalur sanad qiraat Al-Qur’an yang dipunyai Syekh Mahfuzh , baik yang ke atas (guru) maupun ke bawah (murid), walaupun sanad yang bersambung ke Indonesia cuma sanad qiraat ‘Ashim riwayat Hafsh, sementara qiraat yang lain tidak tersambung. Wallahu a’lam.

 

Ade Ahmad, alumnus Pondok Pesantren Tremas

Jalur Sanad Qiraat Syekh Mahfuzh Tremas – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *