Jejak Muslimah HTI di Balik kecelakaan Penghapusan Kata Khilafah di DPRD Kota Cirebon

Jejak-Muslimah-HTI-di-Balik-Insiden-Penghapusan-Kata-Khilafah-di-DPRD-Kota-Cirebon.jpg
Views: 516
Read Time:3 Minute, 46 Second

Jejak Muslimah HTI di Balik kecelakaan Penghapusan Kata Khilafah di DPRD Kota Cirebon

Miris! Ada jejak Muslimah HTI di balik insiden penghapusan kata Khilafah di DPRD Kota Cirebon yang Saat ini jadi perbincangan panas di medsos.

“Untuk Allah, kami akan menjaga NKRI dari Faham Komunisme &.Khilafah”, Mendadak Affiati, A.Ma sebagai Ketua DPRD Kota Cirebon berhenti. (seusai membaca kalimat Khilafah, Mendadak Ketua Dewan berhenti dan mencoret redaksi khilafah). seusai mencoret kata khilafah pada poin ketiga, Afftiati lantas mengulang pembacaan ikrar.

Affiati, Ketua DPRD Kota Cirebon terpapar narasi-narasi yang disebarkan oleh Muslimah HTI.

kecelakaan ini menyingkap betapa ancaman ideologi Khilafahisme yang disebarkan oleh kubu radikal, sudah menembus dinding-dinding gedung pemerintahan. Disangka kuat, jaringan muslimah HTI melalui lajnah Fa’aliyah yang bertugas merekrut pejabat-pejabat wanita, di balik insiden tersebut. Penghapusan kata khilafah dapat jadi petunjuk, Ketua DPRD Kota Cirebon terpapar narasi-narasi yang disebarkan oleh Muslimah HTI.

Baca juga : Penghapusan Kata “Khilafah” dalam Deklarasi Penolakan RUU HIP di Cirebon Berbuntut Panjang

Amat mungkin sebab keawaman Ketua DPRD Kota Cirebon soal ideologi Khilafahisme yang diusung Muslimah HTI, akan tetapi keawaman ini tidak boleh dibiarkan. Kalau tidak, akan membahayakan ketahanan ideologi Pancasila dalam dirinya. Apalagi posisinya selaku pejabat negara di daerah.

Dapat juga sebab dorongan ghirah keislaman yang muncul dari dalam dirinya, lalu timbul rasa takut Tidak mau khilafah yang dipersepsikan selaku ajaran Islam, sehingga seakan-akan Tidak mau khilafah artinya Tidak mau ajaran Islam. Sungguh orang awam yang punya ghirah keislaman yang tinggi, mangsa yang empuk bagi muslimah HTI.

Mesti saya sampaikan bahwa khilafah yang diopinikan oleh muslimah HTI ialah khilafah yang spesial dengan spesifikasi. 1) Khilafah didirikan dengan metode kudeta yang ditutupi muslimah HTI dengan istilah thalabun nushrah. 2) Calon khalifah diambil dari kader the best Hizbut Tahrir ialah Amir Hizbut Tahrir. 3) UUD (konstitusi) yang akan diterapkan diambil dari UUD yang disusun oleh Amir HT. 4) Undang-undang lainnya akan dibuat berdasar UUD yang disusun oleh Amir HT dan mempergunakan ushul fiqih madzhab Tahririyah.

Artinya, khilafah yang dinarasikan oleh muslimah HTI dan yang mereka sebarkan itu, bukan khilafah yang dimaksud para ulama di dalam kitab-kitab fiqih. Waktu para ulama dari seluruh madzhab sunni dan syi’ah menyebut dan mecatat kata “khilafah”, mereka bukan tengah membahas khilafah yang tengah diusahakan muslimah HTI. Para ulama sama sekali tidak mengenal khilafah yang tengah diusahakan oleh muslimah HTI.

Baca juga : Asal Muasal Penyebaran Paham Khilafah Di Kampus

Khilafah yang dimaksud oleh para ulama itu ialah nashbul imam (imamah). Di Indonesia, khilafah yang dimaksud tersebut telah diterapkan semenjak negara ini berdiri dalam bentuk pemilihan dan pengangkatan Presiden. Dan telah diformalkan di dalam UUD 1945 Pasal 3 ayat 3 dan 4. Pasal 6, 7 dan 8. Aktivitas nashbul imam dibiayai dari biaya APBN. Para ulama di Indonesia telah setuju (ijma’) bahwa pemilihan dan pengkatan Presiden sesuai dan memenuhi makna khilafah yang tertera di dalam kitab-kitab fiqih.

Walhasil, menurut tinjauan syariah, khilafah telah tegak di Indonesia, meski tidak dinamakan khilafah. Terlepas dari sikap penolakan muslimah HTI kepada khilafah Indonesia, khilafah Indonesia tetap absah sebab yang jadi standar keabsahan suatu pandangan fiqih ialah dalil-dalil syara’ yang terperinci bukan pandangan sepihak muslimah HTI.

Bercermin untuk muslimah Hizbut Tahrir Yordania. Di halaman 268 buku Hafidz Abdurrahman yang berjudul “Kembalinya Suriah Bumi Khilafah yang Hilang” penerbit Al-Azhar Freshzone cetakan Mei 2013, disebutkan di tengah perang sipil di Suriah, Muslimah Hizbut Tahrir di Yordania menggelar seminar Muslimah dengan tema “Sari’u Iqamatil Khilafah Himayatan li Harair as-Syam (Bersegeralah mendirikan Khilafah untuk Menjaga Perempuan-wanita Syam) pada hari Ahad (28/4/2013).

Baca juga : Kasum TNI : Tugas TNI Kecuali Perang Ialah Mengatasi Terorisme

Dalam seminar tersebut, Muslimah Hizbut Tahrir Yordania dengan tegas mengumumkan agar Ahl Quwwah (pemilik power sipil dan angkatan bersenjata) cepat memberikan bai’atnya untuk Amir Hizbut Tahrir waktu ini, yaitu al-‘Alim Atha’ Abu Rusytah, untuk jadi Khalifah ke-1. Fikrah muslimah HTI dan muslimah Hizbut Tahrir Yordania, sama saja, sebab mereka 1 Amir dan berambisi menjadikan Amir HT selaku khalifah. Artinya khilafah yang dimaksud muslimah HTI, ujung-ujungnya nashbul imam juga.

Sebaiknya, Ibu Affiati, A.Ma sebagai Ketua DPRD Kota Cirebon mengulang kembali pembacaan ikrar dengan suara lantang “Untuk Allah, kami akan menjaga NKRI dari Faham Komunisme & Khilafah”. Tidak usah ragu berikrar menjaga NKRI dari paham komunisme PKI dan khilafah versi HTI sebab menjaga NKRI dari ke-2 paham tersebut, tuntutan ajaran Islam.

Mahfud MD Tantang Pengusung Khilafah untuk Tunjukkan Sistem Negara Khilafah

Oleh : Ayik Heriansyah, Pengurus LD PWNU Jabar

Jejak Muslimah HTI di Balik Insiden Penghapusan Kata Khilafah di DPRD Kota Cirebon

READ  MPR Menyebut Maha siswa Luput Perhatian Pemerintah di Tengah Pandemi - Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *