Juragan Haji Pengabdi Hawa Nafsu – Aspiratif News

Juragan Haji Pengabdi Hawa Nafsu
Views: 934
Read Time:3 Minute, 35 Second

Juragan Haji Pengabdi Hawa Nafsu – Aspiratif News

Labbaik allahumma labbaik labbaika laa syarika laka labbaik. Saban Muslim pasti berkeinginan melafalkan kalimat talbiyah tersebut di Masjidil Haram sembari mengelilingi Kabah. Bahkan keinginan itu dapat muncul beberapa kali. Terbukti sesudah pulang dari tanah suci, ummat Islam yang ditanya apakah ingin kembali ke sana, nyaris dapat dipastikan menjawabnya “iya”.


Hal itu pula yang ditunaikan oleh Juragan dan keluarganya dalam cerpen Juragan Haji karya Helvy Tiana Rosa. Waktu itu, Bu Juragan menyampaikan ke pembantunya, Mak Siti, akan haji ke-4 kalinya, tengah bagi Juragan untuk kelima kalinya, walaupun kondisi ekonomi tengah terpuruk akibat krisis moneter.


Menguping itu, Mak Siti amat kagum. Betapa tidak, ia yang tidak pernah membayangkan dapat menunaikan rukun Islam kelima itu, sementara majikannya sudah beberapa kali, bahkan meski ekonomi tengah krisis. Argumentasi Bu Juragan berangkat lagi karena daripada hartanya dipakai untuk hal yang tidak-tidak.


Membaca cerpen ini, pikiran saya jatuh ke Allahu Yarham KH Ali Mustafa Yaqub, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2010-2015. kiai ahli hadis itu memberikan fakta kontekstual yang Penting jadi renungan bagi orang macam Juragan dan isterinya yang hendak berangkat haji untuk ke-2 kali dan seterusnya.

READ  Menjelang Aneksasi, Serdadu Israel Isolasi Wilayah Lembah Jordan - Aspiratif News


Indonesia masih mempunyai jutaan orang miskin dan anak yatim yang Penting uluran tangan, banyak orang tertimpa bencana yang butuh sokongan moral dan materi, tidak sedikit yang terkena pemutusan hubungan kerja, bangunan pesantren yang terbengkalai, masjid yang roboh, dan sebagainya. Di waktu sedemikian, kata kiai Ali, kita patut menanyakan pada diri sendiri, “Apakah haji kita itu karena melaksanakan perintah Allah swt?”


Sebagai seorang muslimah, Mak Siti juga mendambakan dapat menunaikan haji. Tetapi hal itu bagai pungguk merindukan bulan. Gajinya yang cuma Rp80 ribu sebulan tentu Penting setidaknya 313 bulan atau lebih dari 26 tahun untuk mencapai 1 kuota haji yang seharga Rp25 juta. Itu pun jikalau ia tidak mengirimkan uangnya ke kampung.


kiai Ali Menegaskan bahwa ibadah haji bersifat personal (qashirah), tengah menyantuni mereka yang faqir, mereka yang amat memerlukan uluran tangan itu bersifat sosial (mutaaddiyah), manfaatnya tidak cuma bagi diri pribadi saja, melainkan juga untuk orang lain.


Lagi pula, lanjutnya, ibadah ke-2 itu dicontohkan sendiri oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya dengan menanggung hidup sahabat ahlus suffah, kelompok sahabat yang tidak mempunyai apa-apa kecuali dirinya sendiri. Bahkan, dalam sebuah Hadis Qudsi riwayat Imam Muslim, tulis kiai Ali, Allah swt dapat dijumpai di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita.

READ  Langkah Aspiratif News Jadi Web Keislaman Nomor 1 di Indonesia - Aspiratif News


Di samping itu, terbatasnya hitungan total jamaah juga Penting kembali direnungkan oleh kita yang hendak beberapa kali ke sana. alasannya, masih banyak saudara-saudara kita yang belum mencoba nikmatnya bersimpuh dan bertawaf mengelilingi Ka’bah, khidmatnya menemui Rasulullah di Raudah, meraih pahala shalat Arbain di Masjid Nabawi, dan segala macam keistimewaan lainnya.


Mereka ada yang mengantre bertahun-tahun untuk dapat menyempurnakan Islamnya yang tentu tidak akan sempurna itu. Terlebih tahun sekarang wajib tertunda karena pandemi. Jadwal pun terpaksa mundur.


Jikalau Juragan dan isterinya itu hendak melaksanakan haji untuk kelima dan ke-4 kalinya, tengah asisten rumah tangganya saja belum melaksanakannya, Penting dipertanyakan. kiai Ali Mengingatkan dalam tulisannya, bahwa syetan tidak cuma menggoda manusia untuk berbuat jahat, tetapi juga merayunya untuk beribadah, salah satunya ialah berhaji.


Maka tatkala juragan tersebut melaksanakan haji karena dorongan iblis melalui hawa nafsunya, kiai Ali menyebutnya sebagai haji pengabdi syetan.


Orang-orang seperti Mak Siti juga punya hak yang sama untuk dapat menunaikan mimpinya, berangkat haji. Jangan sampai kita jadi penghambat. Mestinya bahkan kita jadi orang yang menggelar karpet merah bagi mereka.

READ  Kurang Kerjaan, FPI Makasar Unjuk rasa kritik keras ‘Polisi Bersepatu’ Masuk Masjid - Warta Batavia


melansir Al-Ghazali, Ulil Abshar Abdalla menyebut bahwa syahwat dilawan syahwat. Karena sudah berhaji, memberikan Kesempatan orang melaksanakan hal yang sama tentu punya dobel keistimewaan, (1) menahan hasrat berhaji dan (2) orang lain dapat Kesempatan menunaikan haji.


Pengajar Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) itu Menyatakan cara the best mengendalikan nafsu terkadang bukan dengan cara memutuskan syahwat secara total. Hal sedemikian, menurutnya, dapat jadi bumerang, sehingga Penting menurunkan dosisnya. Memberikan ONH yang dipunyai untuk orang yang belum berhaji dapat jadi cara mengendalikan diri untuk lagi dan lagi menunaikan rukun Islam sesudah puasa itu, toh sama-sama dipakai untuk ibadah haji.


 

 

Syakir NF, maha siswa Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia dan pengurus Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama

Juragan Haji Pengabdi Hawa Nafsu – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *