Kalimat Subversif Burung Layang-layang dan Ancaman Kekuasaan Sulaiman AS – Aspiratif News

Views: 12
Read Time:1 Minute, 59 Second

Kalimat Subversif Burung Layang-layang dan Ancaman Kekuasaan Sulaiman AS – Aspiratif News


Cerita ini disarikan dari Kitab Al-Anwarul Qudsiyyah fi Bayani Qawa’idis Shufiyyah karya Syekh Abdul Wahhab As-Sya’rani (Beirut, Daru Shadir: 2010 M), halaman 228. Cerita ini kemudian ditarik dalam konteks kalimat uzur para sufi yang tengah tenggelam dalam asyik-ma’syuk cinta ke Allah

 

Syahdan, suatu waktu seekor burung layang-layang jantan di zaman Nabi Sulaiman AS tertarik dengan seekor burung layang-layang betina. Burung layang-layang jantan dan betina ini bertengger di menara istana Nabi Sulaiman AS.


Ke-2 makhluk Allah ini tengah dimabuk cinta. Untuk betinanya, burung layang-layang jantan menlontarkan kalimat-kalimat lazimnya orang yang tenggelam dalam lautan cinta. Burung layang-layang bersayap panjang dan berkaki pendek serta berkelir hitam ini tidak henti-henti memuji betina pujaannya. 


“Cintaku padamu telah sampai pada 1 titik yang jikalau kaukatakan, ‘Runtuhkanlah menara ini di atas Sulaiman!’ pasti kulakukan,” kata burung layang-layang jantan ke betinanya.

READ  Berita Duka, Kasatkornas Banser Alfa Isnaeni Wafat


Singkat cerita keduanya memadu kasih layaknya pasangan jantan dan betina. Keduanya tenggelam dalam asyik-ma’syuk sebagai pasangan yang bermadu kasih. Keduanya larut dalam mabuk cinta.


Beberapa hari kemudian istana Nabi Sulaiman AS guncang. Angin membawa kalimat konyol burung layang-layang jantan sampai ke telinga paduka yang mulia baginda Raja Sulaiman. Puja-puji pasangan yang tengah mabuk cinta itu dipahami oleh istana raja Sulaiman AS dengan bahasa kekuasaan yang membikin penguasa sering curiga dan salah paham; khas kekuasaan.


Kalimat tersebut dinilai oleh istana sebagai bentuk kekurangajaran yang dapat meruntuhkan wibawa kekuasaan. Raja Sulaiman naik pitam. Sebagai penguasa gagah dari timur ke barat, Sulaiman tersinggung berat. Tidak ada sebelum dan sesudah Sulaiman penguasa yang menandingi kekuasaannya. Ia memerintahkan dan mengerahkan pasukannya untuk menangkap burung layang-layang jantan tersebut.


“Apa yang membuatmu mengucapkan kalimat sedemikian. Padahal engkau ini lemah?” kata Sulaiman membuka persidangan.


“Tunggu wahai nabi Allah. Saya waktu itu tengah asyik-ma’syuk. Adapun mereka yang tenggelam dalam asyik-ma’syuk berbicara dengan bahasa cinta dan bahasa mabuknya, bukan dengan bahasa nalar dan bahasa akalnya,” jawab burung layang-layang jantan meminta maaf sambil berharap putusan bebas.

READ  Nomor Tenda Arafah untuk Permudah jema’ah Haji - Warta Batavia


Nabi Sulaiman AS tersenyum menguping respon burung layang-layang jantan di luar Sangkaan. Ia kemudian membebaskan burung layang-layang jantan dari tuntutan berat. Wallahu a’lam.

 

Alhafiz Kurniawan, redaktur Aspiratif News

 

Kalimat Subversif Burung Layang-layang dan Ancaman Kekuasaan Sulaiman AS – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *