Jalal.jpg

Kang Jalal, Pentingnya Spiritualitas dan Akhlak, dan Kontribusinya Bagi Islam Indonesia

Diposting pada

Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal) wafat, setelah 4 hari sebelumnya istri beliau Euis Katrini menghadap Allah. Kita ikut sedih dan kehilangan cendekiawan Muslim Indonesia yang sangat berjasa bagi kajian keislaman dan keberagamaan yang terbuka di kalangan kampus, dan masyarakat pada umumnya.

Secara organisasi kemasyarakatan, Kang Jalal lahir dari kelurga Nahdiyyin, lalu ikut Persatuan Islam, dan Muhammadiyah. Perjalanan keagamaan dan pemikirannya menguat mengikuti Ahlul Bait, dari mendirikan Yayaasan Muthahhari di Bandung, 1992, lalu setelah mengalami pengalaman dan pembelajarn panjang, Kang Jalal mendidikan Ikatan Jama’ah Ahlul Bayt Indonesia (IJABI) tahun 2000 dan menyuarakan taqrib al-mazhahib Islam. Dalam banyak tulisan setelah 2000-an, ia mengutip pandangan ahlul bait dan ahlussunnah, dan mencari benang merahnya. Ia tekankan pentingnya nilai kemajemukan dan persaudaraan (ukhuwwah) umat Islam, dan menyuarakan pembelaan bagi kaum minoritas yang terpinggirkan di Indonesia dan di berbagai dunia. Aktifitasnya di bidang politik juga ia niatkan untuk membela kaum yang terpinggirkan.

Dalam salah satu tulisannya, ia mengajak semua untuk tidak berpolemik tanpa ilmu soal-soal identitas dan lahiriyah keagamaan dan melupakan dimensi agama yang fundamental: akhlak. Menurutnya, biarlah perbedaan teologis dan cara syariah itu Allah yang menjadi hakimnya di akhirat nanti. “Kita tidak boleh mengambil alih Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan agama dengan cara apa pun, termasuk dengan fatwa”, tulisnya, diakhiri dengan kalimat “wallahu a’lam bishshawwab”. Tugas manusia, dengan mengutip ayat Al-Quran” fastabiqul khairaat, adalah berlomba dalam berbuat kebajikan. Ujiannya adalah “seberapa banyak kita memberikan kontribusi kebaikan kepada umat manusia”, tulisnya. Kontribusi ilmiah dan amaliyah Kang Jalal banyak sekali, selain tulisan dan ceramah, juga beberapa yayasan pendidikan dan sekolah untuk anak-anak miskin.

Baca Juga :  Bandara JB Soedirman di Purbalingga Ditargetkan Lepas Landas pada 22 April 2021

Perkenalan generasi kami denga Kang Jalal, adalah melalui buku-buku Kang Jalal, selain mendengar ceramah-ceramahnya. Sebagai mahasiswa dan aktifis kampus di era 1990an, Islam Aktual (Mizan, 1994) menjadi salah satu bacaan kita selain buku-buku Cak Nur, Gus Dur, Mas Dawam, selain buku-buku lain. Karya-karya Kang Jalal, misalnya Psikologi Komunikasi, Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak, Dahulukan Akhlak di Atas Fiqih, Do’a Bukan Lampu Aladin, Jangan Bakar Taman Surgamu, Membuka Tirai Kegaiban: Renungan-renungan Sufistik, dan banyak lagi. Benang merah karya-karya ini: spiritualitas dan akhlak adalah ajaran inti agama.

Ketika banyak sarjana dan umum mengalamatkan agama sebagai faktor kekerasan, salah satu sebab banyak orang menjadi ateis, Kang Jalal mengajak kita tidak berbicara “agama” secara umum, tapi fokus pada aktor-aktor agama. Apakah aktor-aktor agama melakukan kekerasan dan mengapa? Pada dasarnya, ia tulis, “aktor agama tidak cenderung menggunakan kekerasan, seperti yang dikumandangkan oleh kaum ateis. Faktor-faktor situasional seperti dominasi orientasi dan wacana keagamaan yang eksklusifis dan perlakuan tidak adil “memaksa” aktor agama untuk memilih kekerasan… Aktor-aktor agama sebetulnya lebih mudah menjadi agen-agen perdamaian ketimbang menjadi pelaku kekerasan.”

Baca Juga :  Cek Pencairan Bansos Rp300 Ribu di Sini, Anda Terima atau Tidak?

Karya-karya dan kontribusi Kang Jalal telah melahirkan karya-karya di Indonesia dan internasional. Karya-karya tentang Islam Indonesia tidak akan lengkap dan kuat jika tidak mengutip pandangan dan kiprah Kang Jalal, mulai dari Prof Martin van Bruinessen, C.W. Watson, John Bowen, Chiara Formichi, Julian Millie, dan lain-lain, selain sarjana-sarjana Indonesia seperti Zulkifi, Iim Halimatusa’diyah, dan lain-lain yang riset dan menulis tentang Islam Indonesia. Karya-karya mahasiswa dan dosen Indonesia tentang kiprah Kang Jalal meliputi aspek-aspek dakwah, komunikasi, pendidikan, Sufisme, kecerdasan spiritual, dan integrasi sains dan agama.

Bagi Kang Jalal, wafat adalah mudik ke rabbul ‘alamin. Di tahun 1994, ia menulis, “Telah kita sampaikan doa buat mereka yang telah mendahului kita; buat mereka yang telah “mudik” ke tempat asal mereka.Tahun ini mereka telah meninggalkan kita. Tahun depan boleh jadi kita memperoleh giliran meninggalkan karib kerabat dan sahabat-sahabat kita. Hari ini kita menangisi mereka. Esok hari kita yang akan ditangisi orang. Setiap hari, maut mengepakkan sayapnya di atas kepala kita.”

Baca Juga :  Penjelasan Polri soal Warga Dilarang Unggah-Sebar Konten FPI di Medsos

Selamat jalan Kang Jalal dan istri, selamat kembali ke Maha Pencipta, Sang Kekasih! Terima kasih kami, anak-anak muda, yang terus belajar banyak dari karya dan seluruh amal jariah Kang Jalal. Al-Fatihah.

Muhamad Ali

Sumber: https://www.facebook.com/578323500/posts/10159067270043501/

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *