MUnarman.jpg

Kapan Munarman Dijemput, Pak Polisi?

Diposting pada

Beberapa hari sebelum demo tadi siang, pesan-pesan berantai memenuhi media sosial.

Temanya ingin memojokkan Polri atas ditembak matinya 6 orang laskar mereka. Tim buzzer FPI melakukan strategi “kebohongan yang terus diulang sehingga menjadi kebenaran”. Dan mereka lumayan berhasil, pada akhirnya beberapa masyarakat awam malah menuduh Polri melakukan pembantaian, bukannya mempertahankan diri.

Demo tadi adalah puncaknya. Sesudah gencar di “serangan udara”, mereka memainkan pasukan darat. Tujuannya untuk mengumpulkan massa sebesar demo 411 dan 212.

Dan ketika massa nanti berkumpul, ada pasukan khusus utk membangun kerusuhan. Senjata2 tajam sudah disiapkan mulai golok sampai busur panah ditemukan. Wanita dan anak kecil ditaruh di depan sebagai tameng. Remaja tanggung dibayar Rp 15-50rb per orang untuk mendobrak dinding petugas.

Tapi mereka salah besar. Kapolda Metro yamg baru punya taktik berbeda dari sebelumnya. Strategi yang sebelumnya bertahan, diubah menjadi serangan. Dengan kekuatan penuh, dibantu oleh pasukan TNI, kepolisian tidak menyisakan sedikitpun ruang demo FPI untuk berkembang.

Jalan masuk menuju Jakarta disisir. Polisi tahu, para pendemo itu banyakan dari luar kota yang dimobilisasi. Kelompok mereka dipecah-pecah, ditahan sampai dibubarkan paksa. “Tangkap mereka..” adalah perintah yang digemakan berulang2 lewat TOA dan membuat massa takut maju dan akhirnya mundur dengan barisan yang berantakan.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Cabut Lampiran Perpres 10/2021 soal Miras

Dan sore ini tadi, pimpinan elit FPI menyuruh massanya untuk mundur. Mereka tidak kuat lagi menahan gempuran pasukan lapangan polisi dan TNI. Situasi bisa dikendalikan, demo pun tidak membesar.

Agenda berikutnya, ketika semua sudah mereda, mulai menjemput para koordinator2 demo yang memanasi dan memobilisasi massa. Sudah seharusnya orang2 seperti itu ditangkap, karena mereka demo tanpa izin kepolisian.

Saya harus angkat secangkir kopi untuk strategi Kapolda baru, Irjen Pol Fadhil Imran. Strateginya “tidak ada gigi mundur” merontokkan gigi Novel Bamukmin yang memang berantakan. Situasi Jakarta kembali kondusif. Investor asing bertepuk tangan, Indonesia bisa kendalikan diri tanpa ada kerusuhan berarti.

Salam hormat juga untuk seluruh jajaran kepolisian di lapangan, juga TNI. Mereka melakukan tindakan tegas tapi tidak kasar. Tindakan seperti ini yang mencegah api meluas menjadi lebih besar.

Secangkir kopi harus saya tuang, sambil iseng bertanya, “Kapan Munarman dijemput, pak ?’

Seruputt..

Denny Siregar

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3803825316346975&id=961333513929517

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *