KDRT Selama Pandemi, Begini Anjuran Penting dari Komnas Perempuan – Aspiratif News

Views: 23
Read Time:2 Minute, 43 Second

KDRT Selama Pandemi, Begini Anjuran Penting dari Komnas Perempuan – Aspiratif News

Jakarta, Aspiratif News—Pandemi Covid-19 ternyata tidak cuma menimbulkan dampak ekonomi dan kesehatan, tetapi juga kehidupan rumah tangga. Akibat situasi ekonomi yang memburuk, stres dan frustrasi seringkali menjangkiti pasangan rumah tangga. Perempuan pun jadi lebih rentan alami aksi anarkis, termasuk Perkara aksi anarkis dalam rumah tangga (KDRT)

Menurut Komnas Perempuan, aksi anarkis domestik meningkat sampai 75 %. menurut data Pusat Servis Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan Komnas Perempuan, Perkara KDRT meningkat sampai 75 %. Kenaikan ini dipicu oleh stres, terganggunya jejaring penjagaan dan sosial, hilangnya pendapatan, dan menurunnya akses ke servis publik.

Data yang dikumpulkan dari 29 Februari sampai 5 Juni Ada 710 Perkara aksi anarkis, sebanyak 465 korban memperlihatkan KDRT. Bentuk aksi anarkis yang banyak terjadi ialah fisik paling tinggi, psikis, seksual, dan penelantaran.

Menurut pemerhati isu perempuan dan Konsultan The Centre of Child and Corporate Social Responsibility (CCR CSR), Reni Oktari, soal aksi anarkis dalam perempuan, jauh sebelum pandemi Covid-19 sudah memperlihatkan angka yang tinggi. Ditambah pula dengan kondisi di rumah saja, membikin perempuan rentan jadi korban aksi anarkis.

READ  Cegah Penyebaran Corona, Instika Sumenep Siapkan KKN dari Rumah - Aspiratif News

“Beban yang dialami perempuan di rumah kian berlapis, atau UN Women menyebutnya dengan shadow pandemic yang jadi perhatian global. Banyak Perkara yang saya perhatikan di Indonesia, suami melakukan aksi anarkis yang salah satunya ditenggarai faktor ekonomi,” katanya dalam Bincang Kulinerita pada Sabtu, 4 Juli 2020.

Ada 2 kondisi selama pandemi yang membikin perempuan rentan alami aksi anarkis, ialah terperangkap di dalam rumah dan keterbatasan akses pihak yang dapat menolong karena tidak dapat ke mana-mana.

“Terlebih bagi perempuan yang kondisi sebelum pandemi juga sudah mengalami aksi anarkis, tidak terbayang yang ia terima selama 24 jam berjumpa suami,” ucapnya.

Ia menganjurkan jikalau jadi korban di dalam rumah dan tidak dapat ke mana-mana, maka perempuan dapat memberikan sinyal spesial berpatokan pada Canadian Women’s Foundation.

“Caranya jikalau perempuan tengah melakukan komunikasi video call dengan Sahabat, maka dapat memberikan sinyal tangan. Tunjukkan telapak tangan ke arah kamera dengan ibu jari dilipat ke depan telapak tangan. Lalu kepalkan tangan di mana ibu jari tampak seperti terjebak di antara ke-4 jari lainnya,” jelasnya.

READ  Kyai Marsudi Syuhud: Kaderisasi Terselubung HTI Ingatkan pada Pola Gerakan PKI

Menurut perempuan 28 tahun sekarang, Ada 3 cara untuk mencegah aksi anarkis pada perempuan, yaitu edukasi, payung hukum, menyediakan diri untuk membantu.

Ke-1, melalui edukasi yang dapat diawali dari rumah bagaimana orang tua sudah mengenalkan pada anak efek aksi anarkis. Tidak cuma mencegah jadi korban tetapi juga jadi pelaku, karena banyak Perkara.

Lalu untuk problem payung hukum, Reni amat berkeinginan melalui pengesahan Rancangan Undang-undang Penghapusan Aksi anarkis Seksual atau RUU PKS dapat membikin perempuan yang rentan jadi korban aksi anarkis seksual merasa aman dan terlindungi.

Lalu yang ketiga ialah kesadaran kita sebagai sesama perempuan untuk saling sokong dan membantu. Menyediakan diri Hadir dan mendampingi tanpa menghakimi. “Kita bantu mereka dengan perspektif korban, misalnya dengan menanyakan apakah mereka butuh sokongan atau paling mendasar ialah menanyakan berita,” kata Reni. (ra/tempo)

 


KDRT Selama Pandemi, Begini Anjuran Penting dari Komnas Wanita – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *