Kebebasan Bermazhab di Haramain: Legacy KH Wahab Chasbullah – Aspiratif News

Views: 18
Read Time:6 Minute, 54 Second

Kebebasan Bermazhab di Haramain: Legacy KH Wahab Chasbullah – Aspiratif News

Oleh Robikin Emhas

 

Sebentar lagi kita masuk bulan haji. Menurut almanak PBNU, 1 Dzulhijah jatuh pada 22 Juli 2020. Bulan haji tahun sekarang boleh dikata ialah bulan keprihatinan. Keputusan pembatasan jamaah haji cuma untuk mukimin atau masyarakat lokal yang tinggal di Arab Saudi, 1 sisi tentu kurang menggembirakan. Tetapi kita semua tentu memahami bahwa inilah pilihan the best yang mesti diambil dalam situasi pandemi Covid-19.


Masuk bulan haji sendu tahun sekarang, saya ingin mengajak merefleksikan 1 hal. 1 bagian yang mungkin terserak dari sejarah, tetapi penting dikenang sebagai legacy (warisan) kiai Wahab Chasbullah yang haul ke-49 jatuh pada Kamis malam Jum’at 12 Dzulqa’dah 1441 H, 2 Juli 2020 M.


Sejarah terserak itu tersusun dalam catatan kecil bernama “Komite Hijaz”. Kala itu Agustus 1925, waktu Kongres Al-Islam ke-IV di Yogyakarta mengalami kebuntuan berhadapan dengan gejolak dunia Islam pasca runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani, kiai Wahab, begitu panggilan singkat KH Abdul Wahab Hasbullah, membuka jalan diplomasi baru.


Atas orkestrasi Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, kiai Wahab mengorganisasi ulama dan kiai-kiai tradisionalis. Terbentuklah komite kecil yang disebut “Komite Hijaz”. Komite yang ketuanya sekaligus diamanahkan ke kiai Wahab ini pada Januari 1926 mengutus delegasi. Menyampaikan pesan dan permintaan spesial ke Raja Ibnu Saud.


1 hal yang jadi kegelisahan ialah bahwa penguasa baru Hijaz Tidak mau otoritas apapun dari madzhab. Sikap ini berimplikasi pada penerapan ortodoksi tafsir untuk semua ritus agama Islam.


Ummat Islam di bermacam penjuru dunia ikut banyak imam madzhab. Bagaimana nanti kalau ibadah di Tanah Haram tidak boleh bermadzhab? Bagaimana nasib kitab-kitab Imam Madzhab yang telah banyak diajarkan di tanah Hijaz? Bagaimana nasib generasi Islam di lalu hari kalau peninggalan-peninggalan bersejarah kenabian dihancurkan, lantaran Raja Ibnu Saud dengan asas wahabi-nya, mengutuk ritus penghormatan tempat-tempat bersejarah yang mereka menyebut sebagai “pemujaan”?


Inilah di antaranya keresahan para kyai dan ulama nusantara. Suatu keresahan yang malah sedikit disuarakan dalam Kongres Al-Islam.


Apa isi pesan Komite Hijaz yang dipimpim kiai Wahab ke Raja Ibnu Saud? Sebagaimana dokumen surat Komite Hijaz, ada 5 poin besar. 5 poin itu secara utuh memperjuangkan konsep penguatan brothership ummat Islam, agar terhindar dari perselisihan dan pecah belah.

READ  Gus Muwafiq Dulu Pernah Jadi Santri di Pondok Pesantren Mana?


Ke-1, memohon diberlakukan kemerdekaan bermadzhab di negeri Hijaz pada bagian  dari madzhab 4, ialah Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Atas dasar kemerdekaan bermazhab tersebut hendaknya Dilakukan giliran  antara imam-imam shalat Jum’at di Masjidil Haram dan hendaknya tidak dicegah pula masuknya kitab-kitab yang berdasar  mazhab tersebut di bidang tasawuf, aqoid maupun fiqih ke dalam negeri Hijaz, seperti karangan Imam Ghazali, Imam Sanusi dan lain-lainnya yang sudah terkenal kebenarannya.


Hal tersebut tidak lain ialah semata-mata untuk memperkuat hubungan dan brothership ummat Islam yang bermazhab, sehingga ummat Islam jadi sebagi tubuh yang 1, sebab ummat Muhammad tidak akan bersatu dalam kesesatan.


Ke-2, memohon untuk tetap diramaikan tempat-tempat bersejarah yang terkenal. Sebab tempat-tempat tersebut diwaqafkan untuk masjid seperti tempat kelahiran Siti Fatimah dan bangunan Khaezuran dan lain-lainnya berdasar firman Allah, “Hanyalah orang yang meramaikan Masjid Allah orang-orang yang beriman ke Allah” dan firman-Nya, “Dan siapa yang lebih aniaya dari pada orang yang menghalang-halangi orang lain untuk menyebut nama Allah dalam masjidnya dan berusaha untuk merobohkannya.” Di samping untuk mengambil andaikan dari tempat-tempat yang  bersejarah tersebut.


Ketiga, memohon agar disebarluaskan ke seluruh dunia, saban tahun sebelum datangnya musim haji menganai tarif/ketentuan beaya yang mesti diberikan oleh jamaah haji ke syaikh dan muthowwif dari mulai Jedah sampai pulang lagi ke Jedah.


Dengan sedemikian orang  yang akan menunaikan ibadah haji dapat menyediakan perbekalan yang cukup buat pulang-perginya dan agar supaya mereka tiak dimintai lagi  lebih dari ketentuan pemerintah.

Ke-4, memohon agar semua hukum yang berlaku di negeri Hijaz ditulis dalam bentuk undang-undang agar tidak terjadi pelanggaran untuk undang-undang tersebut.


Dan kelima, Jam’iyah Nahdlatul Ulama memohon Pembalasan surat dari Yang Mulia yang menerangkan bahwa ke-2 orang delegasinya sungguh-sungguh menyampaikan surat mandatnya dan permohonan-permohonan NU ke Yang Mulia dan hendaknya surat Pembalasan tersebut diberikan ke  ke-2 delegasi tersebut.


Poin terakhir Ialah narasi diplomasi administratif mengingat untuk bersurat dan menyampaikan utusan ke suatu pimpinan negara diperlukan adanya organisasi yang formal. Dengan spirit Komite Hijaz inilah, pada 31 Januari 1926 Nahdlatul Ulama didirikan . 

READ  Innalillah! Mbah Moen Meninggal Dunia di Mekkah


Apakah surat ini direspon oleh Raja Ibnu Saud? Ternyata tidak. Surat ke-1 yang dikirimkan via telegram sebagai mosi ke forum Muktamar Al-Islami yang digelar di Mekkah, tidak pernah berbalas. Sementara, kelompok-kelompok dibawah lindungan Raja Ibnu Saud yang kontra untuk pelestarian warisan budaya, makin hari makin terang-terangan melakukan perusakan untuk makam khadijah (istri Nabi) di Ma’la, bahkan ada usaha merobohkan kubah makam Nabi di Madinah.


Sampai 2 tahun berjalan, bersamaan dengan musim haji, atas petunjuk Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, kiai Wahab memutuskan Datang dan menghadap langsung Raja Ibnu Saud di Mekkah. Dengan membawa isi surat yang sama, kali ini kiai Wahab ditemani oleh Syaikh Ahmad Ghonaim al-Misri, seorang ulama asal mesir yang sungguh semenjak awal terlibat dalam perumusan Komite Hijaz ini.


Tanggal 10 Mei 1928 atau bersesuaian 20 Dzulqa’dah 1346 akhirnya kiai Wahab dan Syekh Ghonaim diterima langsung oleh Ibnu Saud. Terjadilah dialog hangat seputar beberapa aspirasi sebagaimana isi surat. Dan alhamdulillah selang beberapa bulan lalu datanglah surat Raja Ibnu Saud yang disampaikan langsung dari Mekkah. walau tidak secara lugas menjawab beberapa poin aspirasi, isi surat tersebut cukup melegakan karena telah menguping dan mengamini beberapa poin pesan yang disampaikan Komite Hijaz.


Dan beginilah teks komprehensif surat respon Raja Ibnu Saud yang ditujukan langsung ke pimpinan tertinggi NU Hadratussyekh Hasyim Asy’ari:

Dari Kerajaan Hijaz dan Nejad serta Daerah Kekuasaannya

 

No. 2028, Tanggal 24 Djulhijjah, 1346 Hijriyah

 

Dari Abdullah Aziz bin Abdurrahman Famili Faishal ke yang terhormat ketua NU di Jawa, Syeikh Muhammad Hasyim Asy’ari dan penulisnya Syeikh Alwi bin Abdul Aziz, semoga Allah senantiasa memelihara mereka.

 

setelah mengucapkan Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu. Penting dimaklumi bahwa surat saudara pada tanggal 5 syawal 1346 sudah kami terima, apa yang tercantum didalamnya telah kami telaah, khususnya apa yang saudara-saudara tuturkan mempertunjukkan perhatian untuk urusan ummat Islam. Juga delegasi yang saudara kirim yaitu Al-Haj Abdul Wahab dan Ustdz Syekh Ghonaim Al-Amir selaku mustasyar NU telah menghadap kami dan telah menyampaikan pesan saudara ke kami. 

Adapun Masalah urusan perbaikan Negara Hijaz ialah urusan internal dalam kerajaan dan pemerintahan. Tiadalah terlarang semua amalan yang jadi kesenangan jama’ah baitullahiharam dan juga tidak terlarang seorang pun dari ummat Islam yang ingin melaksanakan segala amal kebaikan.

Adapun kebebasan seseorang dalam ikut mahdzabnya, maka bagi Allah segala puji dan anugerahnya, sungguh ummat Islam bebas merdeka dalam segala urusan, kecuali dalam hal-hal yang terang diharamkan oleh Allah dan tidak dijumpai pada seorang 1 dalil pun yang menghalalkan amalannya, tidak Ada dalam Al-Qur’an, tidak Ada dalam As-Sunnah, tidak Ada dalam mahdzab orang-orang salaf yang soleh dan tidak Ada pula pada fatwa para imam mazhab yang 4. Apa saja yang sesuai dengan semua itu, kami mengamalkanya, melaksanakannya dan membantu pelaksanaannya. Sedamg apa saja yang bertentangan dengan hal-hal tersebut maka tidak wajib patuh ke makhluk yang bermaksiat ke Allah.

Dan pada hakikatnya apa yang kami laksankan hanyalah ajakan untuk kembali ke Al-Qur’an, As-Sunnah dan ini pula pula agama yang diturunkan Allah. Dan kami, berkat kemurahan Allah, tetap berjalan diatas jalan orang kuno yang shaleh, yang permulaan mereka ialah para sahabat Nabi Muhammad SAW sedangkan penutupnya ialah para imam yang 4.

Kami senantiasa memohon kehadirat Allah, agar memberikan pertolongan ke semuanya diatas jalan kebagusan kebenaran dan hasil amal perbuatan yang baik.

Demikianlah penjelasan yang Penting kami sampaikan, mudah-mudahan Allah senantiasa menjaga saudara-saudara sekalian.

Stempel & ttd

(Abdullah Aziz bin Abdurrahman Al-Su’ud)


Respon Raja Ibnu Saud inilah yang membikin ummat Islam dari seluruh penjuru dunia dapat menikmati kebebasan bermazhab waktu beribadah di haramain, sampai waktu ini. Dan semenjak itu pula shohibul haramain meneguhkan tekadnya untuk menghentikan penghancuran situs-situs bersejarah ummat Islam. Sebuah legacy (warisan) diplomasi yang tentu mesti terus dijaga dan dirawat dengan baik. Untuk kiai Wahab, Al-Fatihah

READ  2.700 Paket Sembako Hasil dari Urunan Anggota - Aspiratif News

 

Penulis ialah Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

Kebebasan Bermazhab di Haramain: Legacy KH Wahab Chasbullah – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *