Keberadaan Kedubes AS di Tiap Negara ialah Pangkal Problem – Aspiratif News

Views: 17
Read Time:2 Minute, 44 Second

Keberadaan Kedubes AS di Tiap Negara ialah Pangkal Problem – Aspiratif News

Aspiratif News-“Amerika ialah negara paling aman, sebab di sana tidak ada Kedubes AS.” Ini ialah ungkapan populer di Amerika Selatan, yang mungkin pernah didengar banyak orang. Ungkapan ini ada benarnya, dan menerangkan sebuah fakta yang nyaris tidak terbantahkan. Sebab itu, kita tidak usah keterlaluan heran untuk intervensi AS di Lebanon, sebagaimana yang dilakukannya di banyak negara.

Ke-1-tama, Penting disebutkan bahwa Dorothy Shea bukan Dubes AS ke-1 yang memicu kontroversi di Lebanon. Sebelum dia, ada Jeffrey Feltman yang memainkan peran penting dalam proses politik dan keamanan Lebanon di jalur yang menguntungkan Washington dan Tel Aviv.

Dubes AS waktu ini pun tidak ada bedanya dengan Feltman. Sebelum ini, Shea ialah staf di Konsulat AS di Israel. sesudah itu, ia menjabat direktur kantor politik Kedubes AS di Tel Aviv.

Untuk memahami detail sejumlah kejadian teranyar di Lebanon, sebaiknya kita mengkaji rangkaian kejadiannya secara berurutan.

READ  Pemuda Unggul untuk Indonesia Maju

Pergerakan AS diawali semenjak diumumkannya Pemerintahan Hassan Diab, yang disebut oleh media-media AS dan sebagian media Arab sebagai “Pemerintahan Hizbullah.” Penamaan ini juga mempunyai back-ground, untuk jadi mukadimah bagi pembenaran sikap AS untuk Lebanon. Seiring meningkatnya krisis ekonomi dan moneter Lebanon (yang dipengaruhi oleh peran kelompok-kelompok mencurigakan domestik dan asing), peran Shea sebagai Dubes AS pun diawali.

Shea menuding Hizbullah sebagai penyebab krisis dan kerusuhan di Lebanon, padahal dia tahu bahwa usia Pemerintahan Diab baru 7 bulan. Shea sudah cukup disebut idiot, karena menganggap pemerintahan yang belum genap berumur 1 tahun sebagai pihak yang bertanggung jawab atas krisis ekonomi selama 28 tahun terakhir.

Statemen Shea memicu kemarahan bermacam pihak di Lebanon. Berlawanan dengan apa yang dirumorkan, kemarahan ini tidak didasari kepentingan agama atau politik tertentu.

Perjanjian Wina yang diteken pada tahun 1961 telah menentukan hubungan diplomatik. Pasal Ke-2 menyebutkan bahwa misi seorang dubes ialah menyokong kepentingan negara penerima di sisi negara pengirim dalam batas-batas yang telah ditetapkan. Pasal Ke-4 didasarkan pada pengenalan atas Kemajuan dan kejadian di negara penerima dengan semua jalan penyelesaian legal.

READ  Yang Ummat Islam Ucapkan waktu Menguping Adzan - Aspiratif News

Shea tidak menghormati 2 pasal tersebut, dan ini sudah cukup untuk menindaknya, atau paling tidak, menganggapnya tidak layak sebagai dubes. Sayangnya, Lebanon tidak punya kuasa untuk melakukannya, lantaran banyaknya intervensi di struktur perpolitikan negara tersebut.

Ucapan Shea bahwa Washington menyokong Pemerintahan Lebanon minus Hizbullah, juga statemen Dubes Saudi bahwa sokongan finansial cuma akan diberikan ke Beirut dengan “syarat-syarat tertentu”, ialah 2 pernyataan yang mempunyai 1 makna.

Mereka ingin Hizbullah disingkirkan, sebab pihak ini ialah duri besar di tenggorokan Israel, juga bagian dari Poros Perlawanan yang membikin Washington dan Pemerintahan Trump tidak dapat tidur nyenyak.

Dengan seperti ini, jika Amerika ialah negara paling aman karena di sana tidak ada Kedubes AS, bisakah rakyat Lebanon menanyakan “apakah kami berhak menutup Kedubes AS di Beirut, agar negara kami dapat aman juga?” (af/alalalam)

Baca Juga:

Hina Hakim Lebanon, Dubes AS: Vonis Ini Gila!

Tanggapan Waswas Lembaga Think Tank Israel atas Video Ancaman Hizbullah


Keberadaan Kedubes AS di Tiap Negara ialah Pangkal Problem – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *