ZA-a-696x381.jpg

Kecam Pelibatan Wanita dan Anak dalam Aksi Teror, Mantan Jihadis: Itu Jihad Ngawur!

Diposting pada
Ilustrasi

Serangan yang dilakukan pada Minggu (28/3/2021) oleh sepasang suami istri di katedral Makassar dan aksi teror lainnya yang melibatkan perempuan dan anak-anak telah melanggar adab dan jihad jihad. Karena mereka melakukannya hanya untuk memanjakan nafsu dengan tujuan menimbulkan lebih banyak korban. Padahal esensi jihad tidak seperti itu.

“Mereka menggunakan perempuan dan anak-anak yang harus dilindungi dalam fiqh. Untuk apa jihad adab itu?” Ujar Ali Imron, teroris bom Bali, dikutip detikcom.

Baca: Densus 88 Cari Perguruan Tinggi Islam di Sleman, Laptop dan Anak Panah Disita

Mantan jihadis Afganistan, Filipina, Ambon dan Poso, yang merupakan orang pertama yang melakukan serangan teroris di Indonesia, mengaku sangat mengganggu. Ia mengeluhkan perbuatannya di Bali pada 12 Oktober 2002 karena diyakini telah menginspirasi teror berikut.

“Saya merasa bersalah atas setiap serangan di Indonesia. Karena akulah yang menggugah semangat melakukan aksi jihad yang kami maksudkan saat itu, ”keluh Ali Imron yang telah mendekam di penjara selama 18 tahun atas perbuatannya.

Baca Juga :  Menlu AS Apresiasi Normalisasi Arab-Israel

Baca: perhatian! Tokoh eks Jamaah Islamiyah ini mengungkap tiga cara sederhana untuk merekrut remaja menjadi teroris

Sebelum meledakkan bom di Bali yang menewaskan lebih dari 200 orang, dia mengaku telah melakukan penyerangan terhadap gereja-gereja. Namun, bom rakitan itu sengaja direduksi dan ditempatkan di ruang kosong. Pasalnya, ledakan bom itu dimaksudkan sebagai peringatan bagi non-Muslim tentang konflik yang terjadi di Ambon dan Poso.

“Jadi ketika saya melihat jemaahnya terdiri dari banyak perempuan dan anak-anak, ya, bom ditempatkan di ruang kosong, supaya tidak banyak korban,” kata Ali Imron.

Di sisi lain, ia meminta mereka yang menyalahkan program deradikalisasi itu menahan diri. Sebab dalam praktiknya ini bukan hanya menjadi tanggung jawab BNPT, Densus 88 dan dirinya sendiri sebagai mantan teroris. Deradikalisasi, kata dia, harus melibatkan semua pihak, termasuk politisi dan anggota pers.

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *