Kenangan KH Saifuddin Zuhri Mecatat Buku ‘Palestina dari Zaman ke Zaman’ – Aspiratif News

Kenangan KH Saifuddin Zuhri Menulis Buku ‘Palestina dari Zaman ke Zaman’
Views: 1996
Read Time:4 Minute, 4 Second

Kenangan KH Saifuddin Zuhri Mecatat Buku ‘Palestina dari Zaman ke Zaman’ – Aspiratif News

Problem ketertindasan rakyat Palestina Adalah keprihatinan tersendiri bagi ulama-ulama NU semenjak dulu. Bermacam diplomasi dan penggalangan dukungan dikerjakan untuk kedaulatan rakyat Palestina di tengah kesewenang-wenangan Zionisme Israel.


Krisis kemanusiaan di Palestina dinikmati betul oleh KH Saifuddin Zuhri, salah seorang publik figur NU yang hidup di zaman penjajahan, pergerakan nasional, sekretaris jendral PBNU sampai pada akhirnya menjabat Menteri Agama di akhir-akhir era kepemimpinan Bung Karno.


Bahkan Kyai Saifuddin Zuhri secara tegas mengumumkan bahwa hak bangsa Arab atas palestina bersendikan atas sejarah, kejadian, keadaan sebenarnya, Kewajiban keadilan, dan perikemanusiaan. Sebaiknya, hak bangsa Yahudi atas Palestina bersendikan pada ketamakan dan perampasan semata. (Buku Berangkat dari Pesantren, LKiS, 2013: 430).


Pernyataan tersebut terlontar berdasar sidang ormas-ormas Islam yang tergabung di dalam Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), termasuk NU dan Muhammadiyah yang berlangsung di Yogyakarta pada 18 Desember 1947. Sidang tersebut spesial membicarakan problem Palestina.


Dalam sidang tersebut dihasilkan 3 keputusan. Ke-1, menganjurkan untuk semua bangsa Indonesia untuk membantu perjuangan Palestina. Ke-2, menganjurkan untuk Pemerintah RI agar menetapkan sikapnya untuk membantu perjuangan bangsa Arab di Palestina. Ketiga, mengharap agara Dewan Keamanan PBB meninjau kembali keputusan Pleno PBB soal pembagian Palestina yang jadi karena terganggunya ketenteramana dunia.

READ  Teks Shalawat Assalamualaika Ya Rasulallah - Warta Batavia


Prahara rakyat Palestina menginspirasi Kyai Saifuddin Zuhri untuk mecatat buku yang diberi judul Palestina dari Zaman ke Zaman pada bulan Desember 1947. Buku tersebut lahir saat Indonesia masih dalam suasana revolusi bangsa, di tengah-tengah ibu kota Republik Indonesia yang sebab bermacam pertimbangan strategis berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta.


Akan tetapi, Kyai Saifuddin Zuhri mengungkapkan, sayangnya buku yang penerbitannya disponsori oleh Perpustakaan Islam Yogyakarta tersebut bernasib negatif. Belum sempat edar, masih dalam penyelesaian akhir dalam percetakan, tapi telah porak-poranda akibat agresi Belanda atas Yogyakarta pada 19 Desember 1948.


Dalam buku tersebut, Kyai Saifuddin Zuhri di antaranya mecatat sejumlah argumentasi bahwa sejarah dan keadilan tidak akan membenarkan bahwa seorang tamu (bangsa Yahudi), yang asing, yang tidak mempunyai keterikatan apapun, merampas hak dan akhirnya Menyuruh pergi tuan rumah. Seperti ini juga sejarah pasti akan membenarkan tiap bangsa yang memperjuangkan nasibnya, apalagi dengan sebesar-besarnya perngorbanan, selaku yang dikerjakan oleh bangsa Arab di Palestina.


Kyai Saifuddin Zuhri menekankan, mustahil bangsa Arab yang sudah memperjuangkan nasib bangsanya dengan pengorbanan yang amat besar, mengangkat senjata melawan saudaranya sendiri (Turki), menyerahkan mentah-mentah apa yang telah diperolehnya untuk bangsa asing yang Hadir (Yahudi) untuk menindas dan memperbudaknya.

READ  Download Fathul Qorib PDF - Makna Gandul Pesantren - Warta Batavia


Dahulu, bangsa Turki cuma jadi hakim (pelindung tinggi) di Palestina, dan sama sekali tidak menjajah. Waktu itu brothership antara bangsa Turki dan bangsa Arab pun sudah dipertalikan semenjak berabad-abad oleh Islam (sesama Muslim).

 

Jauh sebelum itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dibawah pimpinan KH Mahfudz Shiddiq pada 12 November 1938, tepatnya di bulan Ramadhan tanggal 19 mengedarkan Ajakan untuk semua ormas Islam di Indonesia.


Himbauan yang diinisiasi NU itu mengajak untuk semua elemen bangsa untuk mengambil sikap tegas atas apa yang dikerjakan oleh bangsa Yahudi. NU menyerukan untuk ummat Islam agar bahu-membahu dengan rakyat Palestina dalam memperjuangkan agama dan kemerdekaan tanah air mereka dari cengkeraman kaum penjajah dan komplotan zionisme. (KH Saifuddin Zuhri, 2013: 426)


Gerakan perlawanan tersebut juga dikerjakan dengan aktifitas Palestina Fons (Biaya Palestina) selaku dukungan untuk meringankan beban perjuangan kesengsaraan. Bukan cuma dengan penggalangan biaya, tetapi cabang-cabang NU di semua Indonesia juga melaksanakan gerakan ‘Minggu Rajabiyah’.


Gerakan tersebut atas petunjuk PBNU agar tiap-tiap tanggal 27 Rajab selaku Minggu Rajabiyah. Sebuah Minggu yang menggabungkan perayaan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dengan solidaritas kepada perjuangan rakyat Palestina merdeka.


Untuk semua penduduk NU dan ummat Islam pada umumnya, PBNU juga menganjurkan agar tiap-tiap shalat fardhu membaca qunut nazilah. Anjuran yang dibuat PBNU itu membikin KH Mahfudz Shiddiq memperoleh panggilan dari regent (bupati) Surabaya. Ia diberi tahu perintah Hoofdparket (setingkat jaksa agung) yang mencegah qunut nazilah dan aktifitas Minggu Rajabiyah.


Pelarangan aktifitas yang diinisiasi PBNU itu memperoleh pembelaan dari Haji Agus Salim, Pengurus Besar PSII. Ia mecatat pembelaan tersebut dalam surat berita Tjahaja Timoer. Ulama Nusantara, khususnya kiai-kiai pesantren sungguh tidak tanggung-tanggung dalam melaksanakan perlawanan kepada segala bentuk penjajahan.

READ  Berjualan Makanan Berbuka Puasa Siang Hari Langgar Syariat Islam - Aspiratif News


Sampai waktu ini, ulama pesantren terus-menerus mendukung Pemerintah RI agar mengupayakan kedaulatan bangsa Palestina di tengah ekspansi permukiman yang dikerjakan orang-orang Israel.


Kedaulatan diperoleh rakyat Palestina di meja Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Akan tetapi, hal itu tidak sejurus dengan keadaan di lapangan, di mana rakyat Palestina tetap berusaha memperoleh kedaulatannya. Problem terakhir, rakyat Palestina berhadapan dengan planning aneksasi (pencaplokan) wilayah Tepi Barat oleh Israel.


Menurut PBB, pencaplokan tersebut tidak cuma menabrak hukum internasional tetapi juga akan membikin wilayah Timur Tengah tidak stabil. Aneksasi tersebut akan merusak peta damai jalan keluar 2 negara untuk mengakhiri konflik mereka selama ini.


Penulis: Fathoni Ahmad

Editor: Abdullah Alawi

Kenangan KH Saifuddin Zuhri Menulis Buku ‘Palestina dari Zaman ke Zaman’ – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *