Kenapa-Paham-Khilafah-Hizbut-Tahrir-Ditolak-di-Banyak-Negara.jpg

Kenapa Paham Khilafah Hizbut Tahrir Ditolak di Banyak Negara Muslim?

Diposting pada
Read Time:1 Minute, 38 Second

Ada Apa dengan Paham Khilafah Hizbut Tahrir, Kok Ditolak di Banyak Negara Muslim?

Status HTI sebagai ormas pengusung khilafah sudah terlarang di Indonesia setelah langkah politik dan hukum menyatakan organisasi HTI tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Yah, begitulah akhirnya nasib HTI sudah sama dengan Hizbut Tahrir di Timur-Tengah, yakni menjadi organisasi terlarang.

Ada apa atau kenapa Hizbut Tahrir ditolak diberbagai negara Islam dan negara berpenduduk mayoritas Muslim?

Seperti diketahui bersama, Hizbut Tahrir ditolak di negara-negara Arab karena Hizbut Tahrir punya kecenderungan kuta dalam upaya mendorong oposisi -baik partai maupun militer- untuk mengambil alih kekuasaan dari pemerintah yang sedang berkuasa. Lalu berkolaborasi dengan Hizbut Tahrir untuk membentuk pemerintahan sistem khilafah di mana organisasi tersebut menjadi ujung tombak dari pemerintahan baru ini.

Selain itu, kenapa Hizbut Tahrir ditolak di mana-mana di muka bumi karena sudah jelas bahwa:

Pertama, khilafah ditolak di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim. Bukan sekedar itu, organisasi pengusung khilafah, Hizbut Tahrir, ditolak di dua puluh negara lebih, termasuk Indonesia. Hal ini membuat alasan semakin kuat untuk menolak Hizbut Tahrir karena dianggap sebagai mudhorot.

Kedua, sistem khilafah mana yang jadi rujukan tidak jelas. Pada era khulafaur rasyidin, pergantian khalifah menggunakan sistem yang tidak sama: ada yang menggunakan musyawarah melalui semacam ahlul halli wal aqdi, ada yang ditunjuk khalifah sebelumnya, dan ada yang dipilih khalayak ramai. Sementara, khalifah pada era Umayyah, Abbasiyah, hingga Usmaniyah, diangkat berdasarkan darah keturunan, ini mirip dengan sistem kerajaan.

Ketiga, siapa yang akan dijadikan pemimpin khilafah? Dewasa ini, jumlah umat Islam diperkirakan 1,8 miliar dan tersebar di seluruh penjuru dunia. Perihal siapa yang berhak menjadi khalifah tentu akan menjadi persoalan yang kontroversial, mengingat umat Islam terdiri dari banyak suku dan bangsa yang berbeda-beda.

Keempat, sistem khilafah tidak sesuai dengan dinamika perkembangan zaman sekarang. Jika para pengusung khilafah merujuk sistem khilafah pada era Umayyah, Abbasiyah, hingga Usmaniyah, maka sistem khilafah yang bersifat otoritarianisme seperti itu tidak cocok untuk diterapkan pada era modern seperti sekarang ini.

Baca Juga :   Sesama kelompok Radikal Biasa Saling Klaim Paling Benar
Kenapa Paham Khilafah Hizbut Tahrir Ditolak di Banyak Negara

Source link: Ummatina

Gambar Gravatar
Dengan semnat cinta sesama, kami menyampaikan aspirasi masyarakat terkait semua peristiwa, ide-ide, ajakan, himbauan, keluh kesah, seruan kebaikan, info penting terkait apapun dan berbagi berita terkini.

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *