Kerusakan di Darat dan di Laut Menurut Abu Bakar As-Shiddiq – Aspiratif News

Views: 11
Read Time:2 Minute, 12 Second

Kerusakan di Darat dan di Laut Menurut Abu Bakar As-Shiddiq – Aspiratif News

Kerusakan di muka bumi dan di lautan tidak lain terjadi karena buah tangan manusia. Dampak dari kerusakan ini lalu berimbas untuk bukan cuma pelaku kerusakan, tetapi juga untuk semuanya sebagaimana firman Allah dalam Surat Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ


Artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan untuk mereka sebagian dari (dampak) perbuatan mereka. Semoga mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Surat Ar-Rum ayat 41).


Ayat ini sering dijadikan rujukan sebagai dalil perihal pemeliharaan untuk lingkungan hidup, khususnya belakangan waktu problem lingkungan mengemuka. Ayat ini sungguh amat masuk sebagai warning atas dampak kerusakan lingkungan baik di darat maupun di laut.


Adapun sahabat Abu Bakar As-Shiddiq menafsirkan kerusakan di darat dan di laut sebagai kerusakan ucapan dan dan qalbu manusia. Kerusakan lisan dan qalbu melalui kemungkaran-kemungkaran itu diratapi manusia dan malaikat.

READ  Sah Saja Ketum Golkar Airlangga Jadi Calon Presiden di 2024

قال أبو بكر في تفسير ذلك البر هو اللسان والبحر هو القلب فإذا فسد اللسان بالسب مثلا بكت عليه النفوس أى الأشخاص من بني آدم وإذا فسد القلب بالرياء مثلا بكت عليه الملائكة


Artinya, “Sayyidina Abu Bakar RA menafsirkan ayat ini bahwa ‘darat’ ialah lisan dan laut ialah qalbu. Jika lisan telah rusak dengan caci maki misalnya, maka jiwa-jiwa anak Adam menangis. Jika qalbu telah rusak sebab riya misalnya, maka malaikat menangis,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nasha’ihul Ibad, [Indonesia, Daru Ihya’il Kutubil Arabiyyah: tanpa tahun], halaman 6).


Syekh M Nawawi Banten menambahkan, qalbu diumpamakan dengan “laut” karena kesamaan keluasan dan kedalaman pada keduanya. (Lihat Syekh M Nawawi Banten, tanpa tahun: 6).


Syekh M Nawawi Banten dalam Kitab Nashaihul Ibad mengutip hikmah lain bahwa lisan ialah 1 warning bagi seorang hamba untuk menerangkan cuma kalimat yang penting dan kalimat yang baik saja. (Lihat Syekh M Nawawi Banten, tanpa tahun: 6).


Ada ulama yang menerangkan, lisan yang berzikir dengan bahasa apapun tetap menyasar pada 1 objek zikir, yaitu Allah. Seperti ini pula qalbu. Adapun mata dan telinga menyasar banyak hal. Oleh karena itu, ada ulama yang menerangkan bahwa hajat mata dan telinga lebih banyak daripada hajat lisan. (Lihat Syekh M Nawawi Banten, tanpa tahun: 6). Wallahu a‘lam. (Alhafiz Kurniawan)

 

READ  Komnas Haji dan Umroh Apresiasi Pemerintah atas Pembatalan Misi Haji Indonesia 2020 - Aspiratif News

Kerusakan di Darat dan di Laut Menurut Abu Bakar As-Shiddiq – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *