KH Zainul Arifin dan Muktamar Ke-13 NU di Menes – Aspiratif News

Views: 23
Read Time:2 Minute, 32 Second

KH Zainul Arifin dan Muktamar Ke-13 NU di Menes – Aspiratif News

“Kakekmu itu murid, Sahabat, kolega dan sahabat seperjuangan bapak saya di NU,” kata Gus Dur padaku di ruang tetirah pribadinya di Ciganjur. Pas 40 hari sebelum Presiden RI ke-4 itu berpulang ke Rahmatullah, pagi itu saya dan awak media Aspiratif News sengaja sowan ke Ciganjur dalam rangka warning Seabad Kelahiran kakek saya, KH Zainul Arifin. Kami memohon Gus Dur untuk Hadir dan memberikan sambutan dalam acara tersebut.

Kongres ke-13 NU di Menes

Kenyataannya sungguh Zainul Arifin dan KH Wahid Hasyim sudah saling mengenal dan akrab bersahabat sekira tahun 1936 manakala kiai Wahid baru kembali dari pendidikannya di Tanah Suci dan memutuskan untuk berpindah ke Batavia. Di Batavia, kiai Wahid banyak mewakili ayahandanya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari yang karena usianya lebih memilih tinggal di Jombang.


Tahun 1935, Arifin sudah jadi ketua Majelis Konsul Jawa Barat sesudah sebelumnya aktif berkiprah di GP Ansor semenjak wadah pemuda ini belum legal bernaung di bawah NU. KH Wahid Hasyim, Zainul Arifin, AA Achsien dan Djamaluddin Malik bersinergi memajukan pertumbuhan NU di Batavia, Banten dan Jawa Barat. Pergaulan keempatnya melebar bukan cuma di kalangan pesantren saja, melainkan pula di antara penduduk luas dari seniman sampai ke pebisnis.

READ  Pemahaman Organisasi Jadi Modal Berkhidmah - Aspiratif News


Bulan Juni 1938, NU menyelenggarakan kongres (muktamar) ke-13 di Menes, Banten. Atas restu KH Hasyim Asy’ari yang berhalangan Hadir karena argumentasi kesehatan, kiai Wahid menugasi KH Zainul Arifin sebagai ketua panitia pelaksana.

Dari Ongkos sampai Perizinan

Zainul Arifin mempunyai back-ground pendidikan Belanda HIS dan Normaal School di Sumatera. Karenanya Zainul fasih berbahasa Belanda dan Inggris. Kecuali itu, Arifin pernah bekerja sebagai pegawai pemerintah kolonial Gemeente selama 5 tahun. Berbekal semua itu, KH Zainul Arifin ditugasi PBNU menghadap pemerintah Residen Serang untuk memperoleh izin keramaian di daerahnya.


Zainul Arifin dan rekan-rekan juga menggalang ongkos yang dikumpulkannya dari kalangan bisnis simpatisan NU. Tugas-tugas tersebut Ditunaikan dengan baik olehnya.

Pemimpin Semua Sidang

Seluruh persidangan selama muktamar di Menes dipimpin oleh Zainul, kecuali 1 sidang yang berlangsung bersesuaian dengan janji temu yang mesti dilakukannya untuk menghadap pemda setempat (Residen Serang) agar NU diizinkan melakukan pengumpulan massa dalam hitungan total besar.


Kepiawaian Arifin mengatur Pelaksanaan Muktamar yang banyak dikenang kesuksesannya itu memperoleh banyak pujian dari segenap muktamirin. Tidak kurang dari Ketua PBNU KH Mahfudz Shiddiq Menyatakan:

READ  Report, Habib Luthfi dan Habib Rizieq Dihina Bencong, Dikerudungi


“Ketua Majelis Konsul Meester Cornelis Tuan Zainul Arifin namanya artinya perhiasan para mengerti atau ahli terpelajar. Maka, pantaslah beliau menyandang nama itu sebab beliau satu-satunya yang serba cukup pengalamannya, sabar serta tawakkal ke apapun yang mesti beliau hadapi dan khususnya adil serta bijaksana pimpinannya. Tanpa beliau, Kongres NU terasa sunyi, kesepian, kurang hebat dan ramai.”


Di bawah kewibawaan kepemimpinan KH Zainul Arifin yang piawai dalam mengelola forum, Kongres ke 13 Menes menelurkan hasil-hasil penting berupa masalah-masalah politik, pengembangan ekonomi riil dan perbankan, bahkan sampai ke penentuan pakaian khas untuk anggota Muslimat NU.


Penulis: Ario Helmy

Editor: Abdullah Alawi 

 

KH Zainul Arifin dan Muktamar Ke-13 NU di Menes – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *