Khalifah dan Khilafah | The Truly Islam – Aspiratif News

Khalifah dan Khilafah | The Truly Islam - Warta Batavia
Views: 1558
Read Time:5 Minute, 24 Second

Khalifah dan Khilafah | The Truly Islam – Aspiratif News

Ilustrasi

Kata “khalifah” disebut 2 kali dalam Quran. Dalam surah al-Baqarah: 30 dan surah Shad: 26. Ini artinya Quran mengandung konsep khilafah, meski secara harfiah tidak ada kata “khilafah” di dalamnya. Konsep itu diambilkan dari 2 kata “khalifah” tersebut. Jika ada seorang khalifah, tentu ada tugas yang diusungnya. Khilafah ialah tugas yang diusung saban khalifah. Sebelum ke mana-mana, sebelum engkau menuding saya pro-khilafah, kita kupas dulu barang sedikit kata khalifah yang ada di al-Baqarah: 30 dan Shad: 26.

QS al-Baqarah: “Ingatlah waktu Tuhanmu berfirman untuk para Malaikat, ‘Sesungguhnya Saya hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Kenapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membikin kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Saya mengetahui apa yang tidak engkau ketahui’.

Al-Maraghi memberi 2 kemungkinan arti untuk kata khalifah dalam ayat ini: 1) pengganti atau penerus dari kategori (makhluk) sebelumnya, dan 2) wakil dari Allah dalam menjalankan perintah-perintah-Nya di tengah manusia. Saya kira, keduanya dapat berlaku secara bersamaan. Dalam hal ini Adam yang dicanangkan Allah dan dikabarkan-Nya untuk para malaikat bahwa ia akan dijadikan khalifah di muka bumi, ialah pengganti dan penerus “makhluk” kategori lain sebelumnya yang juga pernah memperoleh tugas yang sama. Waktu tugas itu dipikul Adam, di waktu itu pula ia jadi wakil-Nya di bumi untuk mengelolanya sesuai kehendak-Nya. Penerus bagi yang sebelumnya sekaligus mewakili-Nya mengelola, mengatur dan memakmurkan bumi.

READ  ​​​​​​​KPK Sebutkan Argumentasi DTKS Miliki Sejumlah Problem - Aspiratif News

Masih bareng al-Maraghi, ayat ini tengah memancangkan pemahaman dalam benak kita, ummat manusia, soal penciptaan Adam dengan segala keistimewaan yang dimilikinya. Waktu Allah mengabarkan untuk para malaikat bahwa Dia akan menjadikan Adam khalifah di bumi, mereka heran seraya menanyakan, “Bagaimana Engkau menciptakan makhluk kategori ini yang mempunyai kehendak mutlak dan pilihan tidak terbatas. Dapat jadi dengan kehendak bebasnya ia malah berbuat fasad, yaitu tindakan-tindakan kontra kemaslahatan dan kebijaksanaan.” Untuk para malaikat yang merasa heran, Allah menjelaskan dengan tegas bahwa tugas mereka cuma patuh dan tunduk untuk Zat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Tengah QS Shad: 26: “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan engkau khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau ikut hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan memperoleh azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Untuk ayat ini, kita ambil fafsir al-Razi yaitu Mafatih al-Ghaib yang kadang disebut juga al-Tafsir al-Kabir. Kata khalifah pada ayat ini, kata al-Razi, mempunyai 2 makna. Ke-1: “Kami jadikan engkau pengganti atau penerus para nabi terdahulu dalam berdakwah dan mengatur ummat manusia.” Ke-2: “Kami jadikan engkau penguasa atas manusia dan pelaksana hukum di tengah mereka.” Seperti kita lihat, 2 kemungkinan makna ini mirip dengan makna kata yang sama dalam QS al-Baqarah: 30 sebelum ini.

Masih bareng al-Razi. Kenapa Nabi Daud perintah untuk memerintah di antara manusia dengan kebenaran? Karena wajib diketahui bahwa manusia diciptakan sebagai makluk sosial (madaniyun bi al-thab’i). Seorang manusia tidak akan sanggup mengurus hajat hidupnya sendirian. Ia butuh 1 tatanan masarakat di mana para warganya berbagi peran: ada yang menanam, ada yang mengolah hasil panen, ada yang membikin roti, ada yang memintal benang, ada yang membikin pakaian, dan seterusnya. Masing-masing fokus pada pekerjaan dan tugasnya. Dalam pada itu, waktu mereka berkumpul di 1 tempat yang sama, amat terbuka kemungkinan terjadi perselisihan dan benturan. Waktu itu wajib ada orang yang kuat; punya kuasa dan kesanggupan memutus perselisihan dan benturan itu. Dialah penguasa yang menjalankan hukumnya atas semua secara adil.

READ  Innalillah! Mbah Moen Meninggal Dunia di Mekkah

Seperti saya bilang di awal, dari QS al-Baqarah: 30 dan Shad: 26 kita dapat katakan bahwa dalam Quran ada konsep khilafah. Bagaimana tidak, tengah ia menyebut 2 kali kata khalifah. Dari 2 kata khalifah tersebut kita dapat menarik 2 konsep khilafah yang antara keduanya Ada persamaan dalam 1 sisi dan perbedaan di sisi lain. Konsep khilafah dalam QS al-Baqarah: 30 ialah khilafah manusia fi al-ardh; kepemimpinan manusia di bumi sebagai wakil Tuhan untuk mengelola, mendayagunakan sumber dayanya, serta memakmurkannya. Terkait dengan ayat ini di antaranya QS al-Ahzab: 72, al-Isra`: 70, al-Hijr: 28-29, al-Jatsiyah: 12-13, al-Nahl: 5, Nuh: 19-20, dan al-Zukhruf: 10-13.

Tengah konsep khilafah yang Ada dalam QS Shad: 26 sudah mengacu ke hal-hal yang lebih “teknis-politis”. Yaitu Nabi Daud diangkat langsung oleh Allah jadi khalifah (raja) untuk memutus perkara di antara manusia dengan adil. Dalam kaca-mata QS al-Baqarah: 30, semua manusia ialah khalifah dengan titah khilafah berupa kewajiban mengelola dan memakmurkan bumi sealur dengan petunjuk-Nya. Akan tetapi dalam kerangka QS Shad: 26, tidak semua manusia ialah khalifah. Tidak semua jadi kepala negara atau pemerintahan. Kebanyakannya bahkan rakyat atau warga negara yang kemaslahatan, kebaikan dan kesejahteraannya jadi tanggung-jawab para khalifah (penguasa). Dalam konteks sekarang mungkin dapat diijtihadi bahwa Daud dalam QS Shad: 26 ialah para kepala negara atau pemerintahan yang dipilih berdasar mekanisme politik tertentu yang disepakati oleh tiap-tiap negara-bangsa.

READ  Habib Pemersatu Bangsa, Maulana wa Habibana Luthfi bin Yahya - Warta Batavia

Lalu di mana posisi khilafah yang digembar-gemborkan HTI? Dari 2 konsep khilafah di atas, silakan cari cantolannya. Jika tidak ditemukan, maka kemungkinan cantolannya ialah sejarah politik ummat Islam. Jika seperti ini, sejarah politik Islam menawarkan banyak sekali haluan dan bentuk serta corak-pendekatan. Mulai dari khilafahnya 4 khalifah ke-1, Dinasti Umawi, Dinasti Abbasi, Umawi Andalusia, Fatimi, Mamalik, Utsmani, Shafawi, sampai Mughal. Haluan dan bentuk serta corak-pendekatan khilafah mana pun yang dijadikan cantolan, selama itu lahir dari rahim sejarah, maka sifatnya ijtihadiah yang belum tentu cocok diterapkan di era sekarang terlebih dalam sebuah negara-bangsa yang pilar-pilar kenegaraan serta kebangsaannya sudah kokoh dan mapan.

Terakhir, ini penting saya utarakan, jangan sampai meng-iblis-kan orang yang Tidak mau atau mengkritik konsep khilafah dalam kerangka yang terakhir. Yaitu konsep politik Islam yang padanya melekat kelir historisitas dan sipuhan-sipuhan ijtihadiah. Jika ada yang Penting dihidupkan kembali dari “reruntuhan” Islam klasik, maka itu ialah ruh kebudayaan Islam yang—meminjam Cak Nur– merefreksikan kosmopolitanisme.

Abad Badruzaman

Sumber: https://www.facebook.com/abualitya/posts/10217668245554235

(Suara Islam)


Khalifah dan Khilafah | The Truly Islam – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *