Kiai-Said-696x464.jpg

Kiai Said Aqil: Ajaran Wahabi dan Salafi Adalah Pintu Masuk Terorisme

Diposting pada
Presiden Jenderal Said Aqil Siradj Foto: Antara

Presiden PBNU Said Aqil telah mengkomunikasikan strategi untuk mengakhiri jaringan teroris. Said Aqil mengatakan, pemberantasan jaringan teroris dilakukan dengan cara benih atau masuknya ekstremisme, yakni ajaran Wahhabi.

Artinya, jika kita benar-benar sepakat, kita benar-benar berpihak untuk mengakhiri jaring teroris, benihnya harus dibenahi. Seed, pintu masuk harus kita selesaikan. Apa? Wahhabi, Ajaran Wahhabi adalah Pintu Gerbang Terorisme, kata Aqil dalam webminar “Pencegahan radikalisme dan terorisme yang menghasilkan harmoni sosial” yang disiarkan di YouTube TVNU, Nahdlatul Ulama Television, Selasa (30/3/2021).

Said Aqil menegaskan bahwa ajaran Wahhabi bukanlah terorisme, tetapi pintu gerbang menuju terorisme. Ini karena ajarannya dianggap ekstremisme.

“Ajaran Wahhabi bukanlah terorisme, bukan, Wahhabi bukanlah terorisme, tapi sebuah pintu masuk. Jika dia seorang Wahhabi,” ini adalah penyembahan berhala, ini bid’ah, ini bid’ah, ini tidak diperbolehkan, ini dia kafir, ini satu langkah lagi, satu langkah lagi bisa dibunuh. “Jadi bibit terorisme adalah Wahabi dan Salafi. Wahabi dan Salafi adalah ajaran yang ekstrim,” ujarnya.

Baca Juga :  Lapor Polisi, Ulama Ini Serukan “Tangkap Munarman”!

Oleh karena itu, Said Aqil juga mengimbau agar ajaran agama di perguruan tinggi selain jurusan Islam memprioritaskan pembahasan terkait keimanan, syariah dan akhlak. Selain penjelasan lebih lanjut terkait akhlakul karimah, seperti membantu sesama, menghormati orang tua, membantu orang yang sedang berjuang, silaturahim, menghormati tamu dan tetangga, mengunjungi orang yang sakit, melihat orang yang meninggal, tidak cemburu, tidak memprovokasi, jangan saling bertengkar, hoax.

“Jadi kalau pelajaran agama diberikan di fakultas nonagama (jurusan), maka mereka mengulang ‘neraka, surga, kafir, bid’ah, penyembah berhala, bid’ah, surga neraka. Wah, semua yang radikal adalah bagian dari fakultas. Yang mana adalah pendalaman, iman, yang memperdalam syariah, “katanya.

“Di fakultas umum mereka hanya perlu tahu agar percaya. Yang ditekankan adalah moralitas, menghindari radikalisme yang tumbuh di perguruan tinggi dengan lulusan teknik atau agama. Ini yang saya lihat di kurikulum yang akan diajarkan di mata kuliah agama. di universitas. tidak mengkhususkan diri dalam Islam, “tambahnya.

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *