Connect with us

Edukasi

Kisah Ria Asal Papua Mendapatkan Beasiswa ADik hingga Menjadi Dokter

Published

on

JAKARTA, ASPIRATIF.com – Chorlance Adriana Demetou tercatat sebagai Wisudawan Menginspirasi Universitas Bengkulu (Unib) Juni 2022. Di kampus itu, Ria menjalani perkuliahan di Fakultas Kedokteran dengan beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) Kemendikbudristek.

Ria meraih gelar sarjana pada 2019 dan merampungkan pendidikan profesi dokter pada 2022. Kelahiran Kabupaten Keerom, Papua, 1995 ini menuturkan, ia semula tak bercita-cita sebagai dokter kendati mendaftar S1 Pendidikan Dokter di pilihan pertama, disusul prodi S1 Biologi dan Akuntansi. Ria menuturkan, dirinya saat itu hanya ingin kuliah.

“Saat SMA, saya hanya ingin kuliah walaupun tertarik juga untuk menjadi dokter tapi tidak menjadi tujuan utama,” dikutip dari laman Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) Kemendikbudristek.

Mendaftar Beasiswa Kuliah

Advertisement

Ria bercerita, ia semula tahu program beasiswa ADik dari sekolahnya di jenjang SMA.

“Sekolah memberi informasi soal ADik, terus saya dan beberapa teman rame-rame daftar di Dinas Pendidikan Kabupaten Keerom, lantas ikut tes di Jayapura, ternyata saya lolos, teman-teman lainnya tidak, “katanya.

Per 2023, sejumlah syarat Program ADik yaitu orang asli Papua (OAP), anak TKI, atau berasal dari daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) yang lolos seleksi PTN atau PTS akreditasi A atau B, atau C untuk pertimbangan tertentu. Penerima afirmasi dari Papua harus memilih kampus di luar Papua.

Pendaftar ADik juga akan diperingkat berdasarkan nilai enam mata pelajaran. Bagi siswa IPA seperti Ria, siswa diseleksi berdasarkan nilai Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Kimia, Fisika, dan Biologi.

Kuliah dengan Beasiswa

Advertisement

Namun, lolos ADik pun tak lantas bikin kuliah terasa mulus bagi Ria. Tidak merasa sebagai siswa terbaik sekolah, dan tidak berasal dari sekolah favorit, serta kemampuan bahasa Inggris biasa saja menurutnya jadi pelecut untuk serius kuliah, pantang menyerah, dan bisa bermanfaat bagi orang lain nantinya.

See also  Manfaat dan Cara Membuat Masker Tomat Untuk Wajah Jerawat

Dosen kampus di mata Ria memperhatikan kebutuhan mahasiswa Papua penerima ADik. Ia bercerita, para dosen terus membantu tiap ia dan teman-teman mengalami kendala kuliah.

“Dan selalu menawarkan bantuan bila kami punya permasalahan apapun. Istilah saya, kami, mahasiswa Papua merasa punya privilege, punya keistimewaan dibanding mahasiswa lain yang bukan Papua, “tuturnya.

Ria menuturkan, terkadang ia mengalami kendala bahasa karena dialek yang berbeda. Namun, pengalaman ini tidak jadi masalah besar baginya.

“Kita juga di Papua kan sudah terbiasa bahasa Indonesia, hanya dialek Melayunya saja yang kadang-kadang membuat cukup berpikir dulu untuk memahaminya, “katanya.

Advertisement

Di sisi lain, Ria kadang bingung karena masih saja ditanyai soal apakah orang Papua makan nasi atau tidak. Ia menambahkan, ia kerap dilihat di jalanan dan terkadang mendapat pandangan yang cenderung negatif. Namun, baginya, hal ini wajar karena jarang ada orang Papua di Bengkulu.

Menghadapi lingkungan sosial di sekitarnya, Ria aktif membuka diri dengan sesama mahasiswa. Baginya, penting untuk tidak menyendiri atau hanya berkumpul dengan sesama mahasiswa Papua.

“Saya contohkan di Fakultas Kedokteran, kami sudah berbaur seperti keluarga, saling memperhatikan, saling membantu, yang penting kita mau membuka diri, kalau tertutup mereka juga tidak mau dekat dengan kita,” katanya.

“Menjalani kuliah dan menjadi dokter tidak mudah, butuh semangat dan perjuangan dengan dukungan orang di sekitar kita, terutama orang tua. Saya juga bersyukur dan karena itu berterima kasih pada Kemendikbudristek yang mengelola ADik, guru-guru saya saat SMA, teman-teman kuliah dan para dosen di Universitas Bengkulu, “kata Ria.

Menjadi Dokter di Wamena

Advertisement

Anak Papua ini berkesempatan mengabdi di pulau asalnya ketika memasuki Program Internship Kedokteran. Ria mendapat penempatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.

See also  Presiden Jokowi: Ketimpangan Infrastruktur Pendidikan di Kota dan Kabupaten Tugas Kemendikbudristek

Terkadang, pengalaman menegangkan dan bermakna muncul di tengah internship. Salah satunya saat terjadi perang suku.

“Di rumah sakit, suku-suku yang bertikai harus dipisahkan perawatannya, jauh satu sama lain, kalau disatukan, bisa terus perang di rumah sakit,” tuturnya Ria.

Ria dan beberapa dokter lain sehari-hari berupaya mengedukasi soal kesehatan. Sedikit demi sedikit, makin banyak warga yang memeriksakan kesehatan ke puskesmas setempat.

“Kalau sakit,sebagian besar jarang ke Puskesmas apalagi rumah sakit, bahkan masih banyak wanita yang melahirkan hanya di rumah dengan beralaskan daun,” tuturnya di enam bulan internship.

Advertisement

Dukung Kuliah Gratis

Ria menuturkan, ia mendukung siswa-siswa asal Papua untuk turut kuliah gratis dengan beasiswa ADik maupun bantuan pendidikan dari dalam dan luar negeri.

“Kunci sukses saya hingga selesai kuliah di Fakultas Kedokteran ini adalah punya tujuan hidup dan tidak cepat menyerah, mensyukuri apa yang didapat, termasuk saat menerima beasiswa ADik, sebab dari semua pendaftar, hanya sedikit yang diterima,” tuturnya.

“Saya dapat menempuh kuliah tidak bayar sepeserpun, semoga ini bisa menginspirasi semua untuk menggapai impian,” kata Ria.

Source: Detikcom
Dok: Detikcom

Advertisement

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *