Kategori
Aspirasi

Kita Tidak Butuh KAMI, Apa Kontribusi KAMI untuk Negara dan Bangsa?

Kita Tidak Butuh KAMI, Apa Kontribusi KAMI untuk Negara dan Bangsa Selain Menimbulkan Kerusuhan dalam Demo?

Keberadaan KAMI sejak dideklarasikan pertengahan Agustus 2020 tidak henti-hentinya menimbulkan kegaduhan. Setelah heboh bikin kegaduhan di Taman Makam pahlawan Kalibata yang mengundang komentar dan nasehat para tokoh TNI untuk Gatot Nurmantyo, kini KAMI menghadapi kasus karena membuat gaduh negeri ini dengan menunggangi aksi demo yang rusuh di berbagai kota di Indonesia.

Akhirnya banyak petinggi KAMI ditangkap polisi. Meskipun penangkapan petinggi KAMI ini mengundang sinisme dari tokoh-tokoh KAMI dan tokoh-tokoh simpatisan KAMI, polisi maju terus pantang mundur karena punya bukti kuat untuk alasan menangkap para petinggi KAMI.

Grup WA dan akun medsos menunjukkan mereka menjadi tersangka karena terlibat sebagai orang-rang yang menyebarkan hoax dan provokasi agar aksi demo tolak RUU Cipta kerja berubah menjadi rusuh. Bahkan ada narasi skenario ditemukan di Grup WA KAMI agar terjadi lagi kerusuhan dan penjarahan 1998. Alangkah jahatnya skenario ini.

Banyak tokoh mencibir Polri karena telah mengkap para petinggi KAMI yang terlibat dalam menunggangi demo buruh yang berujung kerusuhan tersebut. Dengan menyalahkan polisi, perlu dipertanyakan, apakah para tokoh ini ingin membiarkan kejahatan meraja-lela di negeri ini?

Ini beberapa contoh cibiran dari para tokoh yang mengomentari tindakan polisi menangkap para petinggi KAMI yang terlibat sebagai penyebar dan provokator agar demo berujung kerusuhan.

  • Fadli Zon berkomentar atas penangkapan anggota KAMI dia menyebut bahwa “Dulu Belanda lebih manusiawi”. (https://www.suara.com/news/2020/10/16/123434/aktivis-kami-ditangkap-diborgol-fadli-zon-dulu-belanda-lebih-manusiawi)
  • Jimly Asshiddiqie berkomentar: “Peruntukkanlah Penjara Buat Penjahat Saja, Bukan Aktivis yang Beda Pendapat”. (https://www.suara.com/news/2020/10/16/104224/peruntukkanlah-penjara-buat-penjahat-saja-bukan-aktivis-yang-beda-pendapat)
  • Rizal Ramli berkomentar sinis, “Pakai Borgol-borgol Segala, Norak Ah.” (https://www.suara.com/news/2020/10/16/100203/aktivis-kami-ditangkap-rizal-ramli-pakai-borgol-borgol-segala-norak-ah)

Juga perlu dipertanyakan, selama 2 bulan sejak KAMI dideklarasikan pertengahan Agustus 2020, kontribusi apa yang telah diperbuat KAMI dalam menyelamatkan Indonesia? Tidak ada! Yang ada justru menimbulkan kegaduhan di mana-mana akibat penolakan masyarakat terhadap deklarasi-deklarasi KAMI di berbagai daerah.

Sampai saat ini kita tidak melihat kontribusi positif dari KAMI untuk negara Indonesia. Boro-boro menyelamatkan Indonesia, justru anggota KAMI malah menyebar HOAX dan menjadi provokator untuk terjadinya kerusuhan. Apakah ini yang disebut kontribusi menyelamatkan Indonesia?

Cobalah hitung kerugian materi atas kerusakan-keruskan fasilitas umum yang dibangun dengan uang rakyat, juga kerugian immateri yang dialami semua pihak, waktu, pikiran dan tenaga terbuang sia-sia gara-gara mengurusi dampak kerusuhan. Sungguh, KAMI tidak layak disebut Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia.

Oleh karena itulah, kita tidak butuk KAMI. Kita rakyat Indonesia tidak butuh KAMI, karena tidak ada kontribusi positif untuk negara ini, malah bikin maslah makin runyam! (aspratif dari Ummatina)

Kita Tidak Butuh KAMI, Apa Kontribusi KAMI untuk Negara dan Bangsa?

Kita Tidak Butuh KAMI, Apa Kontribusi KAMI untuk Negara dan Bangsa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *