Kitab “Futuh al-Ilahiyyah” Karya Syekh Siraj Garut Makkah Bertahun 1925 – Aspiratif News

Views: 19
Read Time:8 Minute, 14 Second

Kitab “Futuh al-Ilahiyyah” Karya Syekh Siraj Garut Makkah Bertahun 1925 – Aspiratif News

Kisaran tahun 2016 lalu, saya pernah mengulas biografi seorang ulama besar Makkah yang ahli ilmu qira’at sekaligus juga pelantun Al-Qur’an di Masjidil Haram dan stasiun radio Al-Qur’an milik pemerintah Kerajaan Saudi Arabia. Ulama tersebut ialah Syekh Siraj Garut (Siraj b. Muhammad b. Hasan Qarut al-Makki, w. 1390 H/ 1970 M).


Syekh Siraj Garut lahir di Makkah pada tahun 1313 H (1895 M) dari Famili ulama asal Garut yang telah lama bermukim di Makkah. Waktu berumur 13 tahun (1908 M), Siraj berangkat ke kampung leluhurnya di Garut sekaligus belajar di beberapa pesantren di Tatar Sunda selama beberapa tahun lamanya.


Di antara pesantren yang sempat ia singgahi ialah pesantren Balong, pesantren Cimasuk dan pesantren Fauzan (ketiganya Ada di Garut dan masih terhubung sebagai Famili Syekh Siraj). Pesantren-pesantren tersebut sampai waktu ini pun masih ada.


sesudah beberapa tahun Ada di Nusantara, Siraj kemudian kembali ke Makkah dan meneruskan pengembaraan intelektualnya di sana. Siraj lebih spesifik menekuni bidang ilmu Qira’ah Al-Qur’an. Di Makkah, ia pun belajar pada Masyayikh al-Qurra pada zamannya, seperti Syekh al-Ghamrawi, Syekh Ma’mun al-Bantani al-Jawi dan Syekh Ahmad al-Tiji.


Syekh Siraj kemudian memperoleh lisensi (ijazah) untuk mengajar ilmu Qira’ah di Masjid al-Haram dan di kediamannya yang terletak di distrik (hay) al-Qusyasyiyyah. Beliau juga didaulat untuk jadi muqri (pelantun Al-Qur’an) yang dilantik legal oleh Kerajaan Saudi Arabia dan rutin melantunkan al-Qur’an di Masjid al-Haram saban harinya.


Pada tahun 1369 H (1949 M), tatkala Stasiun Radio Kerajaan Saudi Arabia didirikan, Syekh Siraj pun diangkat jadi Muqri Al-Qur’an. Lantunan bacaan Al-Qur’annya yang tartil dan merdu pun direcord dan diputar berulang-ulang. Di sana beliau bersama-sama dengan Syekh ‘Umar Arba’in, Syekh Muhammad Nur Abu al-Khair, Syekh Zaki al-Daghastani, Syekh Musaddad Qarut (asal Garut, Jawa Barat), Syekh Zaini Bawiyan (asal Bawean, Jawa Timur), Syekh Jamil Asyi (asal Aceh), dan lain-lain.


Ulasan Soal hal sosok Syekh Siraj Garut dapat disimak pada tautan berikut ini:

Ajengan Siroj Garut: Syaikh Al-Qurra Makkah Asal Pasundan

* * * * *


Orang tua Syekh Siraj Garut ialah Syekh Muhammad Garut, yang sosoknya pernah dijumpai oleh Snouck Hurgronje waktu ia Ada di Makkah pada tahun 1885. Jejak Soal hal Syekh Muhammad Garut juga terekam dalam buku Snouck yang berjudul “Mekka” (dipublikasikan pada tahun 1888). Syekh Muhammad Garut sendiri ialah putra dari Ajengan Hasan Basori Kiarakoneng, Suci, Garut.

READ  KKP Tangkap Enam Kapal Vietnam dan Filipina, 36 ABK Diamankan


Terkait Syekh Muhammad Garut ini, Snouck mendeskripsikan sosoknya sebagai ulama besar Sunda yang mengajar di Makkah dengan reputasi keilmuan yang tinggi. Syekh Muhammad Garut juga terbilang sebagai penyambung koneksi keilmuan antara Makkah dengan Sunda (Priangan) yang penting. Ia mengajar di Masjidil Haram dan membuka kelas keilmuan Islam di rumahnya yang terletak di Jabal (gunung) Abu Qubays, Makkah. Oleh karena itu pula, bagi kalangan orang-orang Sunda di Makkah, Syekh Muhammad Garut lebih dikenal dengan julukan “Mama [Ajengan] Jabal”. Sementara dalam beberapa sumber yang lain, sosok Syekh Muhammad Garut juga dikenal dengan sebutan “Ajengan Balong” atau “Ajengan Cibunut” (mereferensi pada kampung dan pesantren asalnya di Balong, Cibunut, Garut).


Syekh Muhammad Garut mempunyai beberapa anak yang lahir di Makkah. Di antara mereka ialah Syekh Salim b. Muhammad Garut, Syekh Abdullah Manshur b. Muhammad Garut, Syekh Ahmad b. Muhammad Garut, Syekhah Khadijah bt. Muhammad Garut, dan yang paling terakhir ialah Syekh Siraj b. Muhammad Garut yang tengah kita bicarakan ini.


* * * * *


Syekh Siraj Garut ternyata mempunyai beberapa karya tulis. Di antara karya tulis beliau yang sampai untuk saya ialah kitab “Futuh al-Ilahiyyah fi Bayan al-Tahlil wa al-Ad’iyyah”. Saya memperoleh pindaian kitab ini dari sahabat saya Ustadz Muhammad Abid Muafan, yang mana ia sendiri mendapatkannya dari KH. Abdul Qadir b. Eumed Ahmad, pengasuh pesantren Cimasuk, Garut, Jawa Barat.


Kitab “Futuh al-Ilahiyyah” ditulis dalam bahasa Sunda aksara Arab (Sunda Pegon) dan berisi himpunan bacaan tahlilan dan bacaan do’a-do’a lainnya. Kitab ini dicetak dalam format tipografi (cetak huruf baris) oleh Mathba’ah al-Taraqqi al-Qarutiyyah yang berbasis di Garut milik Haji Muhammad Suyuthi. Tahun cetak kitab berangka 1344 Hijri (1925 Masehi).


Mereferensi pada tahun kelahiran Syekh Siraj Garut, yaitu 1895, dan tahun cetak kitab ini, yaitu 1925, maka dapat dikatakan jika kitab ini ditulis oleh Syekh Siraj Garut tatkala beliau berumur 30 tahun.


Hitungan total keseluruhan halaman kitab “Futuh al-Ilahiyyah” ialah 18 (delapan belas) halaman. Pada halaman terakhir, Ada sebuah pasal yang membahas Soal hal problem hitung-hitungan ilmu astronomi (falak) yang berhubungan dengan penentuan awal bulan Syawal.


Tertulis pada halaman sampul kitab:

هذا// كتاب فتوح الالهية في بيان التهليل والادعية تݢسنا/ اي كتاب انو دي ڠرانن كلوان فتوح الالهية مرتيلاكن/ تهليل جڠ فراڠ٢ دعاء توقيلان كؤلانا الله أنو لوه/ هينا محمد سراج ابن المرحوم أجڠن چي/ بونوة ݢاروت غفر الله له/ ولوالديه والمسلمين/ آمين


(Ini// Kitab “Futuh al-Ilahiyyah” fi Bayan al-Tahlil wa al-Ad’iyyah, yaitu/ Ini kitab yang dinamakan dengan “Futuh al-Ilahiyyah” menerangkan/ tahlil dan beberapa do’a, dihimpun oleh hamba Allah yang amat/ hina Muhammad Siraj anak almarhum Ajengan/ Cibunut Garut, semoga Allah mengampuninya/ juga ke-2 orang tuanya dan seluruh ummat Muslim/ Amin)

READ  Malam Ini, Gus Kamil Maimoen Zubair Dimakamkan Dekat Ibundanya - Aspiratif News


Pada bagian seterusnya tertulis Penjelasan berikut:

اي كتاب هنت كيڠيڠ ڽيتك اڠيڠ كلوان اذن جسم كوريڠ/ ڠران محمد سراج ابن اجڠن چي بونوت دي فسنترين چي/ ماسوك ݢاروة سرتا كلوان چاف


(Ieu kitab henteu kenging nyitak anging kalawan izin jisim kuring/ ngaran Muhammad Siraj bin Ajengan Cibunut di Pasantren Cimasuk Garut sarta kalawan cap [Kitab ini tidak boleh dicetak kecuali dengan izin saya yang bernama Muhammad Siraj putra Ajengan Cibunut di Pesantren Cimasuk Garut, serta dengan adanya cap-stempel]).


Pada tepi bagian tulisan di atas ini, terbubuh cap-stempel milik Syekh Siraj Garut. Tertulis pada cap-stempel tersebut:

أچيڠ سراج/ بن أجڠن چي/ بونوت/ ۱۳٤۱


(Aceng Siraj/bin Ajengan Cibunut/1341 [Hijri/1922 Masehi])


Sementara itu, dalam muqaddimah kitab, Syekh Siraj mecatat:

أما بعد. اري سڠݢس كيتو منك اي هج كتاب لتك مرتيلاكن فرتڠكه تهليل جڠ دعاء انو سوك دي بچا سبعد تهليل انو كلون رڠكس تݢسنا مچا دعاء ايت تيه لمون هنت تولوى مچا برزنجي سبعد تهليل


(Amma ba’du. Ari saenggeus kitu mangka ieu hiji kitab leutik mertelakeun partingkah tahlil jeung do’a anu sok dibaca saba’da tahlil anu kalawan ringkes. Tegesna maca do’a eta teh lamun henteu tuluy maca Barzanji saba’da tahlil [Amma ba’du. Adapun sesudah itu semua, maka ini ialah sebuah kitab yang kecil yang menerangkan perkara tahlil dan doa yang biasa dibaca sesudah tahlil dengan ringkas. Tegasnya, membaca doa tersebut jika tidak dilanjutkan dengan membaca Barzanji sesudah tahlil).


* * * * *


Bagi saya sendiri, “penemuan” kitab ini membukakan beberapa pintu informasi dan data sejarah yang amat penting, yang selama ini tertutup rapat. Data dan informasi tersebut terkait sejarah Kemajuan Islam di Tatar Sunda pada peralihan abad XIX ke XX.


Di antara data sejarah tersebut ialah keberadaan genealogi Syekh Siraj Garut sebagai putra dari Syekh Muhammad Garut (Mama Ajengan Jabal atau Ajengan Cibunut). Biografi Syekh Siraj Garut, sebagai seorang guru besar ilmu Qira’at di Makkah dan pelantun Al-Qur’an di Masjidil Haram, banyak tertulis dalam sumber-sumber berbahasa Arab, pun sedemikian halnya selintas biografi Syekh Muhammad Garut, sang ayah, sebagiannya tertulis dalam sumber-sumber Belanda (Snouck Hurgronje).

READ  Kemendikbud Jaring Guru The best Melalui Festifal Guru Berprestasi


Di samping itu, Syekh Siraj Garut juga terkoneksi dengan jaringan ulama-ulama Sunda yang berhaluan tradisionalis (Aswaja). Di antara Famili dan guru-guru beliau di Jawa Barat ialah para ulama yang secara ideologis berhaluan tradisional, seperti Ajengan Umar Basri dari pesantren Fauzan (nama beliau disebut pada halaman terakhir kitab “Futuh al-Ilahiyyah” ini). Pesantren Fauzan waktu ini jadi basis terpenting jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) di Garut dan di Jawa Barat secara umum.


Kecuali hal di atas, Syekh Siraj Garut juga ternyata mempunyai karya bukan cuma dalam bidang ilmu Qira’at yang ditekuninya. Kitab “Futuh al-Ilahiyyah” karyanya ini berisi bacaan tahlil dan himpunan do’a, sekaligus sedikit kajian bidang ilmu astronomi. Kitab “Futuh al-Ilahiyyah” ini juga menuntun kita pada sebuah informasi lain, yaitu tradisi keberislaman yang berkembang di Garut dan juga di Makkah pada waktu itu, dalam hal ini ialah tradisi membaca “tahlilan”, do’a berbarengan, dan juga membaca (kitab mauled) Barzanji. Tradisi-tradisi ini di kemudian hari dituduh sebagai tradisi “bid’ah” yang sesat oleh kelompok puritan-modernis yang banyak berkembang di Jawa Barat.


Aspek sejarah lainnya yang tidak kalah penting yang termuat dalam kitab “Futuh al-Ilahiyyah” karya Syekh Siraj ini ialah aspek sejarah keberaksaraan (literacy) cetak karya-karya ulama Sunda. Kitab tersebut dicetak oleh “Mathba’ah al-Taraqqi al-Qarutiyyah” milik Haji Muhamad Suyuthi yang berbasis di Garut. Hal ini mempertunjukkan keberadaan sebuah aktivitas percetakan kitab-kitab keislaman yang ternyata eksis di Garut pada awal abad ke-20, hal yang selama ini sering luput dan terlupakan oleh banyak para pengkaji.


Percetakan yang membawa nama “al-Taraqqi al-Qarutiyyah” tersebut juga sekilas memungkinkan adanya hubungan dengan percetakan (mathba’ah) “al-Taraqqi al-Majidiyyah” yang berbasis di Makkah dan didirikan oleh Syekh Majid b. Shalih al-Kurdi pada tahun 1327 H (1909 M). Majid b. Shalih al-Kurdi sendiri ialah adik ipar dari Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (w. 1916), seorang ulama besar Makkah asal Minangkabau, imam dan khatib Masjidil Haram, sekaligus pengarang banyak kitab.


Nama antara ke-2 percetakan di atas amat mirip, yaitu “al-Taraqqi al-Qarutiyyah” dan “al-Taraqqi al-Majidiyyah”. Percetakan “al-Taraqqi al-Majidiyyah” banyak mencetak kitab-kitab karya ulama Nusantara yang berbasis di Makkah, termasuk di antaranya ialah kitab-kitab berbahasa Sunda Pegon karya Syekh Mukhtar Bogor (w. 1930), seorang mahaguru ulama Sunda di Makkah.

Wallahu A’lam.


Sukabumi, Kapit (Dzulqaedah) 1441 Hijri/ Juni 2020

Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban

Kitab “Futuh al-Ilahiyyah” Karya Syekh Siraj Garut Makkah Bertahun 1925 – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *