konflik.jpg

Konflik Politik Yang Di-Agamakan | The Truly Islam

Diposting pada
Ilustrasi

Sunni dan Syiah adalah produk konflik politik masa lampau yang di-agama-kan— dirawat dan dilembagakan bahkan dibukukan dalam bentuk paling rigid ke dalam urusan aqidah, fiqh dan muamalah. Konflik politik pun berubah menjadi perang antar iman.

Jika dibiarkan berlarut tidak menutup peluang, konflik pasca Pilpres 2019 akan masuk pada wilayah paling sensitif : Aqidah. Yang kalah dan yang menang terus berebut benar. Ungkapan Rezim Zalim Rezim Kafer, Rezim Munafiq, hizbu-Allah dan hizbus-syaithan, perang badar, kadrun, cebong terus dituduhkan kepada lawan politik.

Istilah-istilah teknis agama masuk pada wilayah politik praktis. Jadilah konflik politik seakan perang antar iman. Sungguh mengerikan.

Sejarah konflik rebutan khilafah masa sahabat juga hampir mirip — masing pengikut terus mencari pembenar, bahawa hanya kekompoknya saja yang benar yang lain salah. Kemudian membawanya pada wilayah teologis dan agama dijadikan bahan bakar untuk membangun ghirah dan militansi. Semua membangun fanatisme atas nama iman untuk berebut kekuasaan. Umat menjadi kurban.

Di setiap etape, di setiap masa, selalu saja ada orang macam Yahya Waloni, dan Yusuf Roni, si mualaf dan si murtad, keduanya sama. Sama-sama menjadi penceramah pada agama yang baru dipeluknya. Sama-sama menjelekkan agama sebelumnya. Si mualaf Yahya Maloni disetiap mimbarnya selalu menjelekkan Kresten pun dengan si murtad Yusuf Roni disetiap ceramahnya selalu menjelekkan agama Islam yang pernah dipeluknya.

Baca Juga :  Kapan Munarman Dijemput, Pak Polisi?

Dua orang tak patut dipujikan apalagi diikuti — dua sikap buruk. Dia akan memuji-muji di saat senang dan menguntungkan, kemudian pergi sambil mencaci maki setelah keinginan tidak lagi di dapatkan.

Islam dan Kresten tak butuh orang macam itu— Islam dan Kresten tidak akan menjadi besar dengan kedatangannya dan tidak akan menjadi susut dengan perginya. Kecuali kebencian, konflik dan permusuhan yang ditebar untuk mendapatkan aplaus atau riuh dari penonton yang tak sepenuhnya mengerti.

Kenapa begitu? Ini tak lebih hanya soal karakter. Suka menjelekkan dan menggunjing pihak yang tak disukainya. Apa yang “tak disukainya” pun kadang karena faktor sosial-politik-ekonomi saja. Bukan karena faktor munculnya getaran hati nurani. Ini bukan soal ‘hidayah’ yang ia dapatkan. Tapi soal status dan pendapatan. Semacam pengakuan bahwa dirinya ada dan dibutuhkan.

Migrasi agamanya seperti migrasi politik bukan karena hidayah — ia tidak mendapati manisnya hidayah kecuali kebencian dan permusuhan yang terus berkecamuk dalam hatinya.

Tapi, ada seorang tokoh yang pindah agama dan tetap baik pada agama sebelumnya, Kristen. Ia mualaf tanpa pretensi membenci atau menjelekkan agama masa lalunya. Bahkan ia akrab dan menjalin hubungan baik dengan tokoh agama Kristen.

Baca Juga :  Rezim Zionis Mulai Ubah Nama Jalan-jalan di al-Khalil

Cendekiawan masyhur, Dr Arief Budiman, almarhum. Ia akrab dengan Gus Dur. Ia juga akrab dengan Romo Mangun, Aristides Katopo, dan lain-lain yang beragama Kristen atau Katolik. Arief Budiman menjalani masa mualafnya dengan hening, pertobatan dan perenungan spiritual, semoga Dr Arief Budiman mendapatkan manisnya iman. wallahu taala a’lm

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Sumber: https://www.hwmi.or.id/2021/02/konflik-politik-yang-di-agamakan.html?m=1

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *