Kurban dan Solidaritas Kita di Masa Pandemi – Aspiratif News

Khutbah Idul Adha: Kurban dan Solidaritas Kita di Masa Pandemi
Views: 1337
Read Time:15 Minute, 55 Second

Kurban dan Solidaritas Kita di Masa Pandemi – Aspiratif News

Khutbah I

 

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ،

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ يَـخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَـخْتَارُ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ الْوَاحِدُ الْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ وَقُدْوَةُ الْأَبْرَارِ، اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، صَلَاةً دَائِمَةً مَّا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ. 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا إِخْوَةَ الْإِسْلَامِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَـرُ


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mengawali khutbah id pada pagi hari yang full keberkahan ini, khatib berwasiat ke kita seluruh, khususnya ke diri khatib pribadi untuk selalu berusaha menaikkan keimanan dan ketakwaan kita ke Allah subhanahu wa ta’ala, kapan pun dan di mana pun kita Ada serta dalam kondisi sesulit apa pun dan dalam keadaan yang bagaimana pun, dengan cara melakukan segenap kewajiban dan menjauhi segala larangan Allah ta’ala.


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Hari raya sesungguhnya ialah hari yang dirayakan sesudah seorang hamba melaksanakan bermacam ketaatan dan penghambaan ke Allah ta’ala. Idul Fitri sesungguhnya ialah bagi mereka yang sudah sungguh-sungguh melakukan ibadah puasa dan bermacam ibadah di bulan Ramadhan. Dan Idul Kurban sesungguhnya ialah bagi mereka yang sudah menjalankan rukun haji yang paling Inti, yaitu wukuf di Arafah, atau bagi mereka yang sudah sungguh-sungguh melaksanakan ketaatan dan ibadah pada sepuluh hari ke-1 di bulan Dzulhijjah. 


Merekalah yang sesungguhnya berhari raya. Adapun orang-orang yang tidak mendahului 2 hari raya dengan bermacam ketaatan dan ibadah, lalu apa yang mereka rayakan?  


Hadirin jemaah shalat Idul Kurban rahimakumullah,

Hari raya sesungguhnya bukanlah hari kegembiraan bagi sebagian orang. Pada hari raya, seharusnya yang berbahagia bukanlah orang-orang tertentu. Semestinya kita seluruh bergembira. Semestinya kita seluruh berbahagia. Sebab hari raya sesungguhnya ialah hari raya semua ummat. Hari raya ialah kegembiraan ummat Islam di semua dunia. Hari raya ialah kegembiraan bareng.


Zakat fitrah yang mengiringi Idul Fitri dan kurban yang mengiringi Idul Kurban ialah bukti bahwa Islam menggariskan agar hari raya melahirkan kegembiraan bareng. Orang yang sanggup berzakat fitrah, maka ia berikan zakatnya ke orang-orang yang fakir dan miskin. Orang yang sanggup berkurban, maka ia bagikan daging haewan kurban ke orang-orang yang tidak sanggup, yang sebagian dari mereka mungkin cuma merasakan daging setahun sekali. Dengan itu, kegembiraan akan merata. Kegembiraan akan dinikmati oleh sebanyak-banyaknya ummat Islam.


Dari titik ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa memenuhi kebutuhan orang-orang yang memerlukan dan menggembirakan mereka dengan zakat dan daging kurban ialah sesuatu yang seharusnya senantiasa mengiringi tiap-tiap momen hari raya. Hakikat hari raya ialah kegembiraan bareng, kasih sayang, empati dan berbagi ke sesama. 


Hadirin rahimakumullah,

Selaku usaha untuk menjadikan hari raya selaku kegembiraan bareng, kita seyogianya menyambut hari raya dengan mempersiapkan diri kita untuk berbagi dengan yang lain. Menjelang hari raya, kita persiapkan diri kita untuk membantu sesama, meringankan beban saudara-saudara kita yang memerlukan dan menghilangkan kesedihan mereka dengan menyumbangkan sebagian harta kita. Kalau tidak sanggup, maka dengan ucapan-ucapan yang indah yang dapat menghibur hati mereka, dengan sapaan dan senyuman tulus ke mereka serta lantunan doa untuk kebaikan mereka.

READ  Ingin Lolos Tes CPNS? Baca Shalawat Ini - Warta Batavia


Tatkala kita berkumpul bareng ayah-ibu kita, bareng anak kecil kita, teman-teman kita dan orang-orang yang kita cintai dalam rangka makan bareng pada momen hari raya, ingatlah bahwa di sana masih banyak anak kecil yatim yang tidak memperoleh kasih sayang dari orang tua mereka. Di sana ada janda-janda yang bekerja membanting tulang mencari nafkah untuk menghidupi anak kecil mereka. Ingatlah bahwa di bermacam tempat banyak orang yang kehilangan pekerjaan pada musim pandemi ini. Di bermacam daerah banyak orang kerepotan mencari nafkah akibat covid-19 yang terus mewabah. 


Paling tidak, kita lantunkan doa untuk mereka pada hari yang full keberkahan ini. Pada hari yang seharusnya seluruh orang bergembira, mereka menahan kesedihan, merasakan perihnya kehidupan dan menanggung beban hidup yang serba kerepotan. Kita selipkan doa untuk mereka di tengah kegembiraan kita. 


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kita hadirkan dalam hati bahwa pada waktu kita membantu orang-orang yang memerlukan atau mendoakan mereka, pada hakikatnya kita tengah berbuat baik ke diri kita sendiri. Kita renungkan dan kita hadirkan dalam hati kandungan makna dari ayat-ayat berikut ini:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ (سورة الإسراء: ٧)


Maknanya: “Kalau Anda semua berbuat baik, sesungguhnya Anda semua sudah berbuat baik bagi diri Anda semua sendiri” (QS al-Isra’: 7)

وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ )سورة البقرة: ٢٧٢)


Maknanya: “Dan apa pun harta yang Anda semua infakkan di jalan Allah, maka pahalanya itu untuk diri Anda semua sendiri. Dan janganlah Anda semua berinfak melainkan sebab mencari ridha Allah. Dan apa pun harta yang Anda semua infakkan, niscaya Anda semua akan diberi pahala secara full dan Anda semua sedikit pun tidak akan dirugikan” (QS al-Baqarah: 272).


Hadirkan juga dalam hati apa yang disabdakan Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ (رواه مسلم)


Maknanya: “Sesiapa saja membebaskan seorang mukmin dari kerepotan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kerepotan pada hari kiamat. Sesiapa saja memberi kemudahan ke orang yang dalam kerepotan, maka Allah akan memberikan untuknya kemudahan di dunia dan akhirat. Sesiapa saja menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama Muslim” (HR Muslim).

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Untuk mereka yang terdampak Covid-19 atau mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya yang dikarenakan bermacam problem, kita katakan bahwa musibah yang menimpa Anda semua tidak sebanding dengan apa yang menimpa Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il beserta Famili mereka. 

READ  Prabowo Pimpin Upacara warning HUT RI di Kantor DPP Partai Gerindra


Hadirin rahimakumullah,

Dalam penantian yang amat lama sampai mencapai puncak usia 86 tahun, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam baru dikaruniai seorang anak yang lalu diberi nama Isma’il. sesudah belahan jiwanya itu tumbuh dewasa jadi seorang remaja, Allah memerintahkan ke Baginda Nabi Ibrahim agar memotong putra yang amat digandrungi dan dinanti-nanti itu.


Apa sikap Nabi Ibrahim dan Isma’il menerima perintah itu? Dengan ketundukan yang total ke Allah, Ibrahim bersegera menjalankan perintah itu tanpa ada keraguan sedikit pun. Sang putra juga menyambut perintah itu dengan kepasrahan yang total tanpa ada protes sepatah kata pun. Subhanallah! Sebuah potret Famili shalih yang lebih mengutamakan perintah Allah dibandingkan dengan apa pun selainnya. Ayah dan anak saling menolong dan menyemangati untuk melakukan perintah Allah. Dialong indah antara keduanya terekam dalam al-Qur’an sebagaimana diceritakan oleh Allah:

….. قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى (سورة الصافات: ١٠٢)


Maknanya: “….. Ibrahim berkata: “Duhai putraku, sesungguhnya saya menyaksikan dalam mimpi bahwa saya menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?”  (QS ash-Shaffat: 102).


Sebagaimana kita tahu bahwa mimpi para nabi ialah wahyu. Adapun perkataan Nabi Ibrahim ke putranya, “Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” bukanlah permintaan pandangan ke putranya apakah perintah Allah itu akan dijalankan ataukah tidak, juga bukanlah sebuah keragu-raguan. Nabi Ibrahim cuma ingin mengetahui kemantapan hati putranya dalam menerima perintah Allah subhanahu wa ta’ala


Lalu dengan kemantapan dan keteguhan hati, Nabi Isma’il menjawab dengan respon yang mempertunjukkan bahwa kecintaannya ke Allah jauh melebihi kecintaannya ke jiwa dan dirinya sendiri:

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (سورة الصافات: ١٠٢)


Maknanya: “Isma’il menjawab: “Wahai ayahandaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, in sya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS ash-Shaffat: 102)


Respon Isma’il yang disertai “In sya Allah” mempertunjukkan keyakinan sepenuh hati dalam dirinya bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah. Apa pun yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa pun yang tidak dikehendaki Allah pasti tidak akan terjadi.


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Untuk menguping respon dari sang putra tercinta, Nabi Ibrahim kemudian menciumnya dengan full kasih sayang sembari menangis terharu dan menjelaskan ke Isma’il:

نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللَّهِ


Maknanya: “Engkaulah sebaik-baik penolong bagiku untuk menjalankan perintah Allah, duhai putraku”


Nabi Ibrahim lalu mulai menggerakkan pisau di atas leher Isma’il. Akan tetapi pisau itu sedikit pun tidak dapat melukai leher Isma’il. Hal ini dikarenakan pencipta segala sesuatu ialah Allah subhanahu wa ta’ala. Pisau hanyalah karena terpotongnya sesuatu. Adapun pencipta terpotongnya sesuatu dan pencipta segala sesuatu tiada lain ialah Allah ta’ala. Karena tidak dapat menciptakan akibat. Baik karena maupun akibat, keduanya ialah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala.


Hadirin yang berbahagia,

Berkat takwa, sabar dan tawakal serta ketundukan total yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan Isma’il, Allah lalu memberikan jalan keluar dan mengganti Isma’il dengan seekor domba jantan yang besar dan berkelir putih yang dibawa malaikat Jibril dari surga. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

READ  Ini Argumentasi Berat Badan Malah Naik Waktu Puasa   - Aspiratif News

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ، وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (سورة الصافات: ١٠٦-١٠٧)


Maknanya: “Sesungguhnya ini sungguh-sungguh suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus Isma’il dengan seekor sembelihan yang agung” (QS ash-Shaffat: 106-107)


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mari kita renungkan bareng, hadirin sekalian. Di tengah pandemi covid-19 dan bermacam problem hidup, marilah kita meneladani apa yang diteladankan oleh Nabi Ibrahim dan Isma’il saat diuji oleh Allah dengan ujian yang amat berat tersebut. 

  

Berkat ketakwaan, sikap sabar, tawakal, keteguhan hati dalam menjalankan perintah Allah dan ketundukan yang total kepada-Nya, Nabi Ibrahim dan Isma’il pada akhirnya memperoleh jalan keluar dan pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala


Kita mesti percaya bahwa di tiap-tiap kerepotan pasti ada kemudahan, kalau kita bersabar. Kita mesti percaya bahwa di tiap-tiap musibah pasti ada hikmah, kalau kita bertawakal. Kita mesti percaya bahwa di tiap-tiap problem, pasti akan kita temukan jalan keluar, kalau kita bertakwa. Dan kita percaya bahwa di tiap-tiap kesusahan pasti ada kebahagiaan, kalau kita tunduk total ke Allah subhanahu wa ta’ala.


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Akhirnya kita berdoa, semoga Allah menghindarkan negara kita secara spesial dan semua negeri ummat Islam secara umum dari segala bala’, musibah, wabah, melambungnya harga, kemungkaran, keburukan, kekejian, bermacam kerepotan dan kesusahan. Amin ya Rabbal ‘alamin.  

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اللَّهُ أَكْبَرُ  اللَّهُ أَكْبَرُ  اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ  وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. 

أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ، 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللَّهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Ustadz Nur Rohmad, Pemateri/Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Ketua Bidang Peribadatan & Hukum, PD Dewan Masjid Indonesia Kab. Mojokerto

Kurban dan Solidaritas Kita di Masa Pandemi – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *