Lagi, Problem Radikalisme Agama di Tubuh Telkomsel – Aspiratif News

Views: 1127
Read Time:4 Minute, 20 Second

Lagi, Problem Radikalisme Agama di Tubuh Telkomsel – Aspiratif News

sumber: www.wartabuana.com

Aspiratif News—Parasit radikalisme yang menempel di tubuh telkomsel nyatanya sungguh sulit sekali dibersihkan. Seperti noda di pakaian yang masih utuh walaupun sudah dituang pemutih sekalipun. Padahal, tahun lalu jagat Indonesia sudah heboh akibat Masjid Al-Muta’arof, di Menara Multimedia Telkom yang dianggap keterlaluan dekat dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Para penceramah yang diundang seperti Felix Siauw, Tengku Zulkarnaen, Haikal Hassan, dan Weemar Aditya ialah mereka-mereka yang masuk dalam kategori penceramah Islam garis keras. Bahkan Felix Siauw begitu getol dengan ide khilafah dan perlunya menegakkan gagasan itu di Indonesia.

foto Bachtiar Nasir bersama-sama dengan para pengurus MTT. Sumber foto: Indonesiakininews.com

sebagian besar (52,09%)  saham telkomsel ialah milik BUMN, karena itu pantas saja rakyat marah jika aset negara dipakai sebagai lahan berkembangbiaknya ide-ide anti-pancasila dan pro-khilafah. Tahun lalu, rakyat marah pada telkomsel dan tagar #TelkomProRadikalis naik kepermukaan dan jadi viral. Sebagian mengambil aksi yang lebih tegas, langsung memutuskan servis IndiHome.

Baca:  Denny Siregar dan Benih Radikalisme dalam Tubuh Telkomsel).

Kali ini problem serupa muncul lagi. Tagar #boikotTelkomsel menduduki posisi tertinggi di twitter dan ancaman untuk berhenti mempergunakan servis telkomsel kembali menguat. Penyebabnya sama, bagian karyawan telkomsel bernama Febriansyah Puji Handoko merasa kesal dengan Denny Siregar dan memutuskan untuk mengungkap data pribadi Denny ke publik. Jelas, ini menabrak aturan. Febriansyah pun telah digelandang aparat ke kantor polisi. Akan tetapi mengapa Febriansyah benci Denny Siregar?

Siapatah Febriansyah Puji Handoko?

Febriansyah ialah karyawan outsourcing di GraPARI Telkomsel Rungkut Surabaya. Sebagian warganet menyebutnya sebagai bagian Kadrun. Singkatan dari kadal gurun yang menggambarkan watak orang yang “ke-arab-araban”. Sebutan ini muncul lantaran foto Febriansyah terpampang dengan jenggot. “Ini gaya standar Kadrun” kata sebagian warganet.

Menduga keyakinan seseorang berdasar jenggotnya sungguh kurang ilmiah. Akan tetapi, rekam jejak pemikiran Febriansyah yang ia posting di twitternya dengan akun @Brians_AFC telah memperkuat Sangkaan bahwa ia amat tidak suka NU, Banser, GP Ansor, pemerintah Jokowi, anti-Syiah dan anti dengan pemimpin non-Muslim. Ciri-ciri ini sungguh ciri-ciri umum yang melekat pada mereka yang berlabel kadrun.

Pada postingan twitter pada tanggal 5 Juli 2017 ia mecatat:

“Saya NU semenjak lahir, tp banser yang sekrang bukanlah yg dulu. Banser yg sekarang Cuma Bani Serbet yang amar munkar nahi ma’ruf”

Postingan tanggal 12 Juli 2019:

“Hadits ini kalo dibaca banser, ansor n “aNUS” pasti udah dibilang “Wahabi/khawarij dst” karena dibilang suka mengkafir2kan orang. Sama kayak waktu kita sampaikan ayat memilih pemimpin kafir waktu itu. Padahal ayat dr Allah SWT, dan hadits ialah perkataan Nabi SAW”

Postingan tanggal 24 juli 2019:

“Jikalau Anus Jelas menuding Saudi, karena NU sendiri sekrang sudah disusupi Syiah (laknatullah). Bahkan Muhammadiyah saja ada yang difitnah Wahabi, pdhl dr dulu Muh juga mendakwah larangan problem bidah, tp sekrang mereka ikut dituduh macem2.”

Beberapa postingan Febriansyah melalui akun twitternya cukup memberikan gambaran untuk kita siapa Febriansyah dan Ada dikubu mana dia. Pemikiran Febriansyah mirip dengan pemikiran para pendakwah yang tahun lalu aktif mengisi ceramah di masjid Al-Muta’arof.

Jika radikalisme agama dimaknai sebagai usaha formalisasi ajaran Islam melalui pemahaman literal untuk teks, dan cenderung mudah mempergunakan cara-cara ilegal dalam memaksakan pemahaman mereka, maka Febriansyah—karyawan telkomsel itu—dapat kita menyebut telah perpapar radikalisme. Cara dia memaknai teks soal kepemimpinan non-muslim secara tekstual, kebenciannya untuk NU yang mengedepankan keberagaman dan lokalitas, serta membobol data pribadi Denny Siregar—yang  sering mengkritik HTI dan kelompok muslim tekstual—untuk melakukan teror Jelas membuktikan bahwa Febriansyah sungguh telah terpapar radikalisme. Terpaparnya Febriansyah oleh virus radikalisme ini erat kaitannya dengan keberadaan Majlis Telkomsel Taqwa (MTT), sebagai forum dakwah yang hidup di dalam lindungan telkomsel.

Soal hal Majlis Telkomsel Taqwa (MTT)

Ini ialah majlis dakwah yang berperan dalam penyebaran wawasan keagamaan di tengah karyawan telkomsel. Peran ini begitu vital. Majlis ini ialah wadah yang menampung ceramah-ceramah Felix Siauw, publik figur khilafah HTI itu. Wawasan keislaman para karyawan telkomsel mulai dari pusat sampai kecabang-cabangnya telah dipengaruhi oleh materi-materi keislaman yang disajikan melalui MTT.

Bahkan, MTT diadukan pernah bekerjasama dengan ACT untuk menyampaikan sokongan ke Suriah. Sokongan yang pada ujungnya diperuntukkan untuk para teroris untuk melawan pemerintah Suriah. (baca: Lanjutan Perseteruan Denny Siregar vs Telkomsel: Melacak Sokongan MTT ke Suriah).

Struktur kepengurusan MTT. Sumber: www.mtt.or.id

Tahun lalu, pemikiran keislaman ketua umum MTT pusat bernama Wawan Budi Setiawan telah berhasil terungkap ke publik. Jejak digital Wawan pun membuktikan bahwa dirinya ialah seorang publik figur Islam garis keras dan penyokong HTI.

Sekarang, meski kepemimpinan MTT telah diganti oleh Ade Muzawir, keadaan tidak berubah. Pergantian ketua mungkin Dilakukan cuma untuk memberikan Image untuk publik bahwa MTT telah mempunyai keinginan untuk membersihkan noda radikalisme ditubuhnya. Ceramah-ceramah Ade Muzawir yang terunggah di You Tube memberikan isyarat bahwa dia masih 1 visi dengan Wawan. Cuma saja, ia menghindari isu-isu sensitif agar tidak memicu keributan. (HA/Aspiratif News)

 


Lagi, Problem Radikalisme Agama di Tubuh Telkomsel – Aspiratif News

READ  Bersatu Buru Joko Tjandra - Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *