Ledakkan Mercon di Tangan, PBM Jember ‘Ancam’ Begundal Bangsa Tidak Sakiti Gus Dur – Aspiratif News

Ledakkan Mercon  di Tangan, PBM  Jember  ‘Ancam’  Begundal  Bangsa Tak  Sakiti  Gus Dur
Views: 1789
Read Time:3 Minute, 3 Second

Ledakkan Mercon di Tangan, PBM Jember ‘Ancam’ Begundal Bangsa Tidak Sakiti Gus Dur – Aspiratif News

Jember, Aspiratif News

Jangan pernah meremehkan nyali  NU.  NU tidak mencari musuh tapi jikalau pimpinan  kami (Gus Dur) didzolimi, maka kami wajib membela meski nyawa taruhannya. Kalimat tersebut sering terlontar dari lisan para kyai yang mendampingi  latihan Serdadu Bernyali Mati (PBM) di bawah komando H Fathorrozi waktu  Gus Dur akan  digulingkan dari  kursi presiden RI, Juli 2001.


Menurut H Rozi, sapaan akrabnya, ungkapan tersebut bukan cuma gertak sambal, apalagi omong kosong. Nyali kader NU sudah teruji dan terbukti.  Sejarah mecatat  NU tidak pernah takut kapada siapapun jikalau pimpinannya disakiti. Perjalanan panjang  Indonesia  tidak sunyi  dari ‘bukti’ keberanian NU dalam berhadapan dengan begundal-begundal bangsa yang coba menyakiti pimpinan dan kyai NU.


“Banyaklah contohnya semenjak orde lama sampai orde baru, misalnya waktu berhadapan dengan penjajah maupun PKI, kader NU berani,” jelasnya.


Maka waktu Gus Dur digoyang dari kursi  RI-1,  kader-kader NU Jember  bangkit, mengaum.  Apalagi  semua tahu bahwa Gus Dur tidak salah, cuma  diopinikan dan dipaksakan bersalah  dengan mempergunakan Perkara Buloggate dan Bruneigate. Itu semua cuma ulah para petualang  politik karena kepentingan ekonomi dan politikya merasa terusik dengan kahadiran Gus Dur di Istana.

READ  Pramuka SMA Ma'arif NU dan Pagar Nusa Tegal Baksos ke Masarakat Terdampak Covid-19 - Aspiratif News


“Kami kami cepat berembug dengan para kyai untuk membela Gus Dur. Dan dicapai Tekad bulat untuk membentuk PBM. Pesertanya juga banyak,  mencapai 1000 lebih,” jelasnya.


Kecuali PBM yang dikomandani oleh H Rozi, juga terbentuk PBM di di bawah koordinator  Saiful Bahri (Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Jember),  dan PBM  pimpinan KH  Muzakki Abdul Aziz (Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Asyhariyah, Desa Curahlele, Kecamatan  Balung, Jember ). Total anggota dari ketiga PBM itu mencapai kisaran 3.500 orang.


PBM yang dipimpin H Rozi, latihannya tidak terpusat di 1 tempat karena dibentuk koordinator daerah. Namun  sebagian yang dekat dengan kota menggelar latihan di sebuah gumuk di Desa Antirogo, Kecamatan Sumbersri, Jember.


Materi latihannya menitikberatkan pada penggemblengan fisik dan jiwa. Salah satunya ialah latihan ketahanan untuk ledakan granat. Waktu itu latihannya mempergunakan media petasan. Petasan yang sesungguhnya amat berbahaya itu, tapi oleh PBM diangap biasa. Bahkan pernah petasan seukuran betis orang dewasa, diletakkan di tangan anggota PBM. Dan begitu meledak, tidak sedikitpun tangan dia cedera. Padahal ledakannya memekakkan telinga. Kejadian tersebut sempat diabadikan oleh awak media, dan masuk headline di Jawa Pos keesokan harinya. Foto pria dengan petasan yang tengah meledak di tangan, terpampang besar di halaman 1 koran tersebut.

READ  Yorrys Raweyai Klarifikasi, Tuntutan Pembubaran Banser di Papua Hoaks


“Itu cuma warning saja bagi pihak-pihak yang mencoba mengganggu Gus Dur,”  tambah H Rozi.


Sementara itu, Hafit al-Izza yang waktu itu jadi Sekretaris Pagar Nusa Mayang, Jember, sekaligus  koordinator lapangan di daerah Mayang  menceritakan bahwa  selain latihan rutin menggembleng fisik dan jiwa yang terpusat di lereng sebuah  gumuk,  pihaknya juga meminta ijazah ke publik figur Pagar Nusa, KH Suharbilah, selain juga memperoleh ijazah dari KH Khotib Umar.


“Segala usaha  kita lakukan, kami bulat akan membela Gus Dur apapun risikonya,” terangnya.


Walaupun dicegah untuk berangkat ke Jakarta oleh Gus Dur, tapi karena cintanya begitu besar ke sang idola, PBM Jember tetap berangkat  mempergunakan bus. Tetapi patut disyukuri tidak terjadi apa-apa meski akhirnya Gus Dur juga lengser.  Sebab Gus Dur  sendiri tidak menginginkan ada darah mengalir  setetespun cuma untuk mempertahankan kekuasaan. walaupun seperti ini,  Hafit dan anggota PBM yang lain tetap ghirah untuk berdoa dan memberikan sokongan  moral ke Gus Dur waktu MPR menggelar sidang istimewa  untuk mencopot dia tanggal 23 April 2001.

READ  Sowan ke Lirboyo, Kenangan Tidak Pernah Hilang - Warta Batavia


“Kami semua anggota PBM jalan kaki ke Monas dari Pondokgede, tempat kami berkumpul,” pungkasnya.


Pewarta: Aryudi AR

Editor: Ibnu Nawawi

Ledakkan Mercon di Tangan, PBM Jember ‘Ancam’ Begundal Bangsa Tidak Sakiti Gus Dur – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *