Majalah-Pro-Erdogan-Panen-Kecaman-karena-Ajak-Kembali-ke-Khilafah-Islamiyah.jpg

Majalah Pro-Erdogan Panen Kecaman sebab Ajak Kembali ke Khilafah Islamiyah

Diposting pada

Majalah Turki Pro-Erdogan Panen Kecaman Rakyat Turki sebab menyerukan Tegaknya Kekhalifahan Islam

ANKARA – Majalah berita Turki Gercek Hayat, milik kubu media pro-pemerintah panen kecaman sesudah menyerukan deklarasi ulang kekhalifahan Islam di negara itu. Himbauan ini muncul sesudah Presiden Recep Tayyip Erdogan mejadikan Hagia Sophi kembali jadi masjid.

Gercek Hayat yang dipunyai oleh kubu media Yeni Safak yang pro-pemerintah, menampilkan bendera kekhalifahan kelir merah dari Kekaisaran Ottoman di sampulnya dan menanyakan dalam bahasa Turki, Arab, dan Inggris; “Berkumpul untuk kekhalifahan. Kalau tidak sekarang kapan? Kalau bukan Anda, siapa?”.

Majalah itu juga menjelaskan bahwa Turki sekarang bebas sesudah Presiden Recep Tayyip Erdogan mengembalikan Hagia Sophia jadi masjid pada awal bulan Juli 2020 ini.

Gercek Hayat majalah Turki garis keras mempunyai 10.000 kastemer

Gercek Hayat Adalah majalah yang berhaluan garis keras Islamis yang mempunyai kisaran 10.000 kastemer. Tetapi sampul itu memancing respons keras dari Jubir Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) Omer Celik. AKP ialah partainya Presiden Erdogan sendiri.

“Republik Turki ialah negara demokratis, sekuler dan sosial yang diatur oleh aturan hukum,” tulis Celik di Twitter, menggemakan artikel ke-1 dari konstitusi Turki.

Baca Juga :  Pemilihan presiden AS: Momen di Mana Dukun-dukun Peru Adu Kesaktian

“Ialah salah untuk menciptakan polarisasi politik berkenaan dengan rezim politik Turki. Republik kita ialah biji mata kita dengan seluruh atributnya. Debat dan polarisasi yang tidak sehat di media sosial semenjak kemarin Soal rezim politik kita bukanlah agenda
Turki,” lanjut dia, seperti dikutip Middle East Eye, Rabu (29/7/2020).

Sebuah bar di Ankara sudah mengusulkan pengaduan pidana kepada majalah tersebut, dengan menjelaskan bahwa publikasi itu menabrak hukum yang mencegah Bughot bersenjata kepada Republik Turki dan menghasut orang-orang.

Beberapa surat berita Turki pada hari Selasa mengkritik keras sampul depan majalah itu. Gara-gara menyerukan bangkitnya kekhalifahan, media itu jadi tending tropic di Twitter, di mana para penyokong dari pihak oposisi melaksanakan kampanye perlawanan secara online.

Debat seperti itu amat artinya bagi warga Turki semenjak pemerintah Erdogan mengkonversi Hagia Sophia kembali jadi masjid, sebuah langkah yang membatalkan bagian gebrakan Mustafa Kemal Ataturk tatkala dia mendirikan Turki modern sesudah Perang Dunia I.

Selama khotbah di Hagia Sophia yang baru saja diubah kembali jadi masjid, Kepala Direktorat Urusan Islam (Diyanet) Ali Erbas membacakan kutukan yang dikaitkan dengan Mehmed II, yang menargetkan siapa saja yang akan mencoba merubah bentuk Hagia Sophia dari masjid.

Baca Juga :  Vaksin Covid-19 Jadi Ajang Persaingan Sengit Antar Negara Adidaya

Ataturk menghapus kekhalifahan nyaris 100 tahun yang lalu

Oposisi sekuler melihat khotbah itu selaku serbuan kepada Ataturk, yang merubah bangunan itu jadi museum sekuler pada 1934.

Ataturk menghapus kekhalifahan nyaris 100 tahun yang lalu selaku bagian dari rakit reformasi sekuler. Selama berabad-abad, Kekaisaran Ottoman sudah “mengenakan jubah”khalifah, pemimpin dunia Muslim dan gelar yang diklaim oleh para penguasa semenjak
kelahiran Islam pada abad ke-7.

Kaum konservatif religius Turki senantiasa menyaksikan gerakan Ataturk selaku sesuatu yang menentang persatuan ummat Islam di semua dunia, sebab di mata mereka, khalifah—seperti Paus di Vatikan—ialah wakil Inti dari Islam yang hidup.

Bagi Ataturk, menghapus khilafah atau kekhalifahan sama halnya menghapuskan pusat power saingan di dalam negara, tetapi hukum yang diratifikasi oleh Majelis Nasional Agung Turki mengalihkan kekuasaannya ke parlemen itu sendiri daripada perdana menteri atau presiden.

Beberapa pihak Islamis Turki semenjak itu menjelaskan bahwa parlemen sekarang mempunyai power untuk mendeklarasikan seorang khalifah baru, kalau diinginkan.

Devlet Bahceli, politisi dari Partai Gerakan Nasionalis (MHP), bagian sekutu Inti Erdogan, juga menentang dialog kekhalifahan dalam pidatonya awal Minggu ini.

Baca Juga :  Masjid yang Dijadikan Gereja dan Hagia Sophia yang Dijadikan Masjid

“Perkara ini sudah ditutup,” kata Bahceli, dalam pidatonya di depan kubu parlementernya. “Kebangkitan kekhalifahan artinya konflik baru dan gangguan domestik yang tidak terduga. Tidak ada yang berhak melakukannya.”

Kemal Ozer, editor Gercek Hayat, menjelaskan dalam serangkaian tweet bahwa kekhalifahan ialah persatuan ummat Islam dan bukan lawan Republik Turki.

“Sebaliknya, ini ialah tanah yang akan memperkuat Turki,” katanya. “Kenapa mereka yang Tidak mau Uni Islam berjuang untuk menjadikan Turki bagian dari Uni Eropa?.”

Baca juga : Urgensi Jihad Media dan Stop Share Konten Propaganda Khilafah

Tetapi, sebuah jajak pandangan yang dikerjakan tahun lalu memperlihatkan bahwa kebanyakan masyarakat Turki tidak berlebihan bersemangat soal kemungkinan kembalinya kekhalifahan. Nyaris 59 % dari 2.500 masyarakat di 12 provinsi menjelaskan penghapusan kekhalifahan ialah keputusan yang bagus. (ra/aspiratif)

Majalah Pro-Erdogan Panen Kecaman sebab Ajak Kembali ke Khilafah Islamiyah

Majalah Pro-Erdogan Panen Kecaman sebab Ajak Kembali ke Khilafah Islamiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *