Makna Nuzul Ayat dalam Kitab Iljamul Awam (إلجام العوام) PDF Download - Imam Ghazali

Makna Nuzul Ayat dalam Kitab Iljamul Awam (إلجام العوام) PDF Download – Imam Ghazali

Diposting pada
Isi kitab Iljamul Awam karya Imam Al-Ghazali. Foto: Aspiratif News.

Oleh M Abdullah Badri

Aspiratif News – Kitab berjudul Iljamul Awam an Ilmil Kalam (Melarang orang awam dari “pembicaraan” Ilmu Kalam), Imam Ghazali seperti membela keyakinan ulama’ salaf yang disebut beliau selaku yang “haqq” (benar) serta “sharih” (gamblang). Kenapa? Sebab ada kaitannya menjaga keimanan kalangan awam. 

Untuk membicarakan Ilmu Kalam bersama-sama orang awam, ada beberapa hal yang wajib diperhatikan. Kita wajib paham soal target bertauhid untuk Allah Swt. Sebab itu, kata Imam Ghazali, kita wajib memahami makna Taqdis, lalu baru tahapan seterusnya, yaitu Tashdiq, I’tiraf Ajz, Sukut, Imsak, Kaff dan terakhir, Taslim li Ahlil Ma’rifah.

Imam Ghazali sungguh kaliber dalam menerangkan istilah-istilah yang sulit ditolak dan bahkan disanggah oleh para pembaca karyanya. Dalam kitab ini, beliau menerangkan rinci berserta detailnya. Saya ambil pengertiannya saja dulu yah.

Baca: Download Kitab Kuning PDF Aujazul Masalik Ila Muwattha’ Malik (أوجز المسالك إلى موطأمالك) 

1. Taqdis (Menyucikan), sebagaimana dimaksud oleh Imam Ghazali ialah sikap tanzih (melepas prasangka) untuk Allah Swt dari penyamaan dzat-Nya dengan apapun yang bersifat jasmani, atau sifat-sifat lainnya, yang tidak patut.

2. Tashdiq (Membenarkan), yaitu iman atas apapun yang diucapkan oleh Nabi Muhammad Saw. Artinya, apapun yang dituturkan oleh Kanjeng Nabi Saw ialah sesuai (haqq) dan benar. Bahwa apapun yang dikatakan oleh beliau, sungguh benar adanya dan sesuai dengan yang beliau inginkan.

2. I’tiraf Bil Ajz (mengakui kelemahan diri). Artinya, dalam menafsir dalil syariat, wajib ada penetapan diri bahwa apa yang kita maknai dari teks-teks syar’i belum tentu sesuai dengan hakikat makna yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Mengklaim lemah.

3. Sukut (berdiam). Ialah tidak mempersoalkan maknanya, mendalaminya, dan wajib mengetahui jikalau pertanyaan itu Adalah tindakan bid’ah. Mendalami, menyelam dalam uraian soal ayat-ayat musyabbihat dapat membahayakan keyakinan agama. Bahkan dapat menjerumuskan diri pada kekafiran tanpa terasa.

4. Imsak (menahan diri). Maksudnya menahan diri dari usaha merubah teks-teks soal tauhid untuk Allah dengan, misalnya, merubah (tashrif), mengganti bahasa asli (Arab) ke bahasa lain, menambahinya, menguranginya, mengkompilasinya atau Melepaskan ujaran lafalnya. Telah sepantasnya berdiam diri, mengimani pengucapan lafal ayat atau hadits sesuai apa adanya, dari segi murad, i’rab, tahsrif maupun shighatnya.

5. Kaff (melarang diri) kebatinan kita dari usaha membicarakan soal Allah dan berpikir soal Dia.

6. Taslim Liahlihi (menyerahkan problem untuk ahlinya). Artinya, kita tidak Penting menjadikan tafsiran selaku aqidah.

Enam hal itulah yang menurut Imam Ghazali disebut selaku cara beraqidah para generasi salaf. Dan wajib bagi orang awam mengikutinya. Orang awam juga tidak patut menduga adanya golongan salaf yang tidak beraqidah dengan cara-cara seperti ini.

——-
Judul: Iljamul Awam an Ilmil Kalam (إلجام العوام عن علم الكلام)
Penulis: Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali
Tebal: 44 halaman (PDF)
Penerbit: –
Link: Download
Berat: 1,58 MB
——-

Kebiasaan ulama salaf dalam sikap taqdis misalnya ialah waktu mereka menafsirkan makna tanzil (turun) dalam sebuah hadits yang berbunyi:

ينزل الله تعالى فى كل ليلة إلى سماء الدنيا

Artinya:
Allah Ta’ala tiap malam turun ke langit dunia. 

Kita wajib paham, nuzul/turun (نزول) ialah isim musytarak (kata bermakna ambigu), yang bila dimutlakkan maka ia dapat bermakna:

1. Bentuk jisim yang ada di atas (جسم عال)
2. Bentuk jisim yang ada di bawah (جسم سافل)
3. Jisim yang berpindah dari bawah ke atas, atau dari atas ke bawah.

Bila dari bawah ke atas, namanya naik (صعود, عارج, رقيا), yang ketiganya bermakna naik. Bila dari atas ke bawah, namanya down. Dalam bahasa Arab disebut نزول dan هبوط. Atas pembagian makna inilah, maka, makna nuzul amat variatif. Bila nuzul dimaknai dengan 1 makna saja, misalnya intiqol/berpindah (إنتقال), lalu bagaimana memaknai Al-Qur’an yang berbunyi:

وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ

Artinya:
Dia menurunkan untuk engkau delapan ekor yang berpasangan dari hewan ternak. (QS. Az-Zumar: 6).

Bagi golongan yang memaknai nuzul dengan intiqol/berpindah (إنتقال) dan harakah/bergerak (حركة), mereka akan kerepotan memahami ayat di atas. Bagaimana mungkin ada sapi turun dari langit. Bergerak atau berpindah dari atas ke bawah. Sementara kita tahu, lafal ayat di atas gamblang mempergunakan lafal nuzul (أنزل).

Baca: Download Kitab Kuning PDF Al-Ishobah fi Tamyizis Shahabah (الإصابة فى تمييز الصحابة)

Memahami onta dapat turun dari langit saja tidak sanggup, lalu bagaimana Anda sanggup memahami makna hakikat nuzul-Nya Allah dalam hadits Rasulullah Saw di atas. Ini bukan kemampuan dan kemampuanmu. Sibuklah dengan ibadah.

Inilah bagian bentuk pembelaan Imam Ghazali untuk aqidah salaf, yang bukan musyabbihah (menyerupakan Allah dengan yang lain), apalagi mujassimah (menggambarkan Allah dalam bentuk jisim makhluk). Innalillah.

Orang awam wajib tetap menanyakan untuk ahlinya. Begitu kesimpulan saya membaca Iljamul Awam Al-Ghazali. Saya cuma iseng mecatat terjemah bebas 1 halaman saja. Bab awal. Bergizi isinya, tapi capek menulisnya. [Aspiratif News/ab]

kitab kuning pdf iljamul awam karya imam al-ghazali


Makna Nuzul Ayat dalam Kitab Iljamul Awam (إلجام العوام) PDF Download – Imam Ghazali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *