05-696x391.jpg

Mantan Bomber Bali: Polisi Tak Pernah Usik Ulama Kecuali Lakukan Pidana

Diposting pada
05 Mantan Pembom Bali: Polisi tidak pernah menggunakan ulama kecuali mereka melakukan kejahatan

Mantan pembom Bali Ali Imron mengatakan polisi tidak akan pernah mengkriminalisasi dan melecehkan ustaz, penceramah dan ulama jika mereka tidak melakukan kejahatan. Dia mencontohkan, ditangkap, diadili, dan mendekam di penjara selama 18 tahun karena penyerangan di Bali pada Oktober 2002.

“Kami ustaz tidak pernah diganggu polisi, bahkan saat kami membantu jihad di Ambon dan Poso,” kata Ali Imron dalam program eksplisit yang disiarkan detik.com, Senin (4/5/2021).

Ia merasa perlu mengungkapnya lagi karena masih ada rumor yang beredar bahwa polisi telah memenjarakannya karena profesinya sebagai ustaz dan pernah bertempur di Ambon, Poso, dan bahkan sebelumnya di Afghanistan.

Oleh karena itu, aksi teror yang diincar oleh polisi dan kantor polisi muncul sebagai pembalasan.

“Ini tidak relevan. Kenapa kita targetkan polisi? Kalau tidak mau tertangkap, tidak harus neko-neko,” kata Ali Imron.

Sebagai orang pertama yang melakukan serangan teroris di Indonesia, dia mengaku sangat menyesal. Ali Imron mengeluhkan tindakannya di Bali pada 12 Oktober 2002 karena diyakini telah menginspirasi teror berikut.

Baca Juga :  Pemerintah Trump Hobi Klaim Kecurangan Pemilu, Kali Ini di Venezuela

“Saya merasa bersalah atas setiap serangan di Indonesia. Karena saya termasuk orang yang menyulut semangat melakukan aksi jihad yang kami maksudkan saat itu, ”sesalnya.

Sebelum meledakkan bom di Bali yang menewaskan lebih dari 200 orang, dia mengaku telah melakukan penyerangan terhadap gereja-gereja. Namun, bom rakitan itu sengaja direduksi dan ditempatkan di ruang kosong. Pasalnya, ledakan bom itu dimaksudkan sebagai peringatan bagi non-Muslim tentang konflik yang terjadi di Ambon dan Poso.

“Jadi ketika saya melihat jemaahnya terdiri dari banyak perempuan dan anak-anak, ya, bom ditempatkan di ruang kosong, supaya tidak banyak korban,” kata Ali Imron.

Ia juga mengecam keras aksi teror yang melibatkan perempuan dan anak-anak dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun tidak ada ulama yang mengizinkan jihad terhadap wanita, istri dan anak-anak.

“Jika perempuan, anak-anak, orang tua dan yang lemah berlindung dalam jihad sejati. Jadi apa gunanya adab atau jihad jihad? “Gereja.

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *