Sumanto-Al-Qurtuby.jpg-786128.jpg

Manusia dan Setan | The Truly Islam

Diposting pada
Sumanto Al Qurtuby.jpg 786128 Manusia dan Setan |  Islam Sejati
Prof. Dr. H. Sumanto Al Qurtuby, Dosen di King Fahd University for Petroleum and Gas, Arab Saudi.

Hubungan antara manusia dan setan itu unik dan terkadang ironis. Oleh kebanyakan manusia, Setan digunakan sebagai obyek yang najis, dipermalukan dan dihina, dan sebagai sasaran kambing hitam. Manusia sering berkata, “Karakter dan perilakunya seperti setan ragengan”, “Raimu pancen Setan tenan,” Setan adalah sosok kowe yo cuk. ”

Sesungguhnya setan adalah makhluk yang hutannya tidak jelas, keberadaannya tidak jelas atau tidak karena tidak terlihat oleh mata. Tetapi manusia sangat percaya bahwa setan itu ada.

Beberapa ilmuwan dan sarjana bahkan mengklaim bahwa kisah kemunculan nama-nama “Setan” dan “Tuhan” sebenarnya adalah cerminan, cermin, lambang atau gambaran tentang karakter, perilaku atau status dan kelas sosial manusia itu sendiri.

Jadi, misalnya Tuhan adalah representasi atau cermin dari manusia yang baik hati, mulia, kelas atas (raja, anak besar), pahlawan, penguasa. Sedangkan setan adalah simbol kejahatan dan keburukan, bajingan, pecundang, pemberontak, anti status quo dan sebagainya.

Dulu, sebelum semua kelompok / komunitas sosial memiliki akses pendidikan, yang bisa menulis adalah “literati”, kelompok elit media atau penyair yang biasanya bekerja atau dipekerjakan (dikooptasi) oleh pihak berwenang.

Baca Juga :  Sri Mulyani: Rupiah Cenderung Stabil dan IHSG Tembus 6.000

Oleh karena itu, wajar jika teks sejarah (termasuk kisah Tuhan dan Setan) sangat elitis (maksud saya membangun elit, baik politik maupun agama).

Sampai saat ini Tuhan dan Setan belum dapat dibuktikan secara empiris karena keberadaannya tidak perlu dibuktikan dan dibuktikan secara ilmiah serta tidak memerlukan verifikasi akademis. Dengan kata lain, ini adalah pertanyaan tentang “iman” (iman).

Mari kita kembali ke masalah dunia ini. Meski banyak yang mengkritik Setan, ada yang mendukung dan memujinya untuk kepentingan politik, ekonomi atau lainnya. Dengan kata lain, iblis itu ditendang tetapi juga dicintai pada saat yang bersamaan.

Ada yang menyediakan makanan (snack, nasi), minuman dan lain-lain seperti bunga, makanan, rokok dll. (Apakah setan juga merokok?

Setan bahkan telah membangun rumah seperti di daerah Mina, Mekah, kompleks “rumah setan” dibangun dengan cukup indah sekarang. Rumah Tulkiyem dan Tulkijo telah menghilang. Tidak terlalu jauh (hanya beberapa kilometer) dari “rumah Tuhan” (Ka’bah).

Menariknya, setan telah membangun rumah-rumah yang indah, tetapi setiap tahun selama musim haji mereka ditaburi kerikil oleh jutaan orang. Saya juga melemparkan kerikil kepada mereka sambil berpikir, “Setan mati ketika dia melemparkan kerikil ke arahnya. Pakai bom atau kendi supaya cespleng ”.

Baca Juga :  Cerita Jenderal Moeldoko Betapa Sulit Menuju BBM Satu Harga

Itu sebabnya dia dipukuli setiap tahun karena melempar kerikil agar doksi tidak mati. Kini, akibat Covid-19, para iblis dapat “beristirahat” sejenak dan menghela napas lega bahwa manusia tidak lagi terpengaruh oleh kerikil tersebut. Mungkin mereka bermain terbuka lebar sekarang atau melempar lemparan manusia secara bergantian?

Jika ada setan, manakah yang sebenarnya lebih jahat dari pada manusia dan iblis? Meskipun manusia membawa batu, Setan tidak marah dan tidak membalas. Meski dihina, Setan tetap teguh dan tidak pernah membalas dendam. Meskipun dia adalah kambing hitam, Setan juga sabar. Luar biasa. Semoga Setan menahan godaan manusia yang terhukum.

Sumanto Al Qurtuby

Sumber: https://www.facebook.com/Bungmanto/posts/10165153786975523

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *