Memahami Pengembangan Madrasah Digital – Aspiratif News

Memahami Pengembangan Madrasah Digital
Views: 2033
Read Time:2 Minute, 3 Second

Memahami Pengembangan Madrasah Digital – Aspiratif News

Tahun 2019 lalu, Badan Pemeriksaan dan Pengembangan dan Pendidikan dan Pelatihan​ (Balitbang Diklat) Kementerian Agama RI menyusun dan mempublish buku Panduan penyelenggaraan Madrasah Digital. Maksud penyusunan panduan Panduan penyelenggaraan Madrasah Digital ialah untuk memberikan pemahaman untuk seluruh stakeholders dan penyelenggara pendidikan di madrasah Soal hal penyelenggaraan madrasah digital.

 

Kecuali itu, untuk mengarahkan penyelenggara pendidikan madrasah dalam menyelenggarakan program madrasah digital secara sistematis; memberikan landasan untuk para pembuat keputusan taktik di Kementerian Agama untuk membikin keputusan taktik penyokong madrasah digital; dan memberikan landasan untuk masyarakat dalam menyokong program madrasah digital.


Dalam panduan tersebut disebutkan perlunya pembelajaran sinkronus untuk menyokong penyelenggaraan madrasah digital. Pembelajaran sinkronus terjadi waktu bersamaan antara guru dan peserta didik baik tatap muka secara langsung di tempat yang sama (live synchronous), mempergunakan metode ceramah, presentasi, dialog pihak, praktik dan lain-lain atau dapat terjadi secara maya (virtual synchronous) melalui konferensi (video atau audio), text-based conference (chatting atau chat room) dan sejenisnya. 

READ  Kemenag Lengkapi Aplikasi Quran Dengan Fitur Baru - Aspiratif News


Sementara, pembelajaran asinkronus terjadi tidak pada waktu bersamaan dengan tempat berbeda-beda. Pembelajaran asinkronus dapat Dilakukan secara mandiri (self-paced asynchronous) atau secara kolaboratif. Pembelajaran secara mandiri peserta didik mempelajari objek belajar berupa teks, audio, video, animasi, simulasi yang tersedia pada LMS atau di luar LMS. Adapun pembelajaran secara kolaboratif (collaborative asynchronous) melalui forum dialog, mailing list, e-mail, tugas projek dan lain-lain sejenisnya. 

 

Fase ini cukup efektif Dilakukan waktu sebuah perusahaan masih beradaptasi dengan penerapan sistem e-learning. Metode ini juga memungkinkan adanya kombinasi dengan metode kelas tradisional, adapun komposisinya tergantung dari hasil analisa. Sebagai contoh, untuk pelatihan yang awalnya durasinya 3-4 hari, karena dikombinasikan dengan e-learning, dapat diefisienkan jadi cuma 1-2 hari.

 

Madrasah disarankan memilih model campuran (blended learning) yang mengkombinasikan antara sinkronous dengan pembelajaran tatap muka, belajar mandiri (belajar dengan bermacam sumber atau media cetak (offline) yang telah disediakan) dan belajar mandiri secara online dengan bermacam pilihan media (teks, gambar, suara, video) yang dapat diakses oleh guru dan peserta didik dari internet. Peran guru dalam pembelajaran model blended learning ialah sebagai fasilitator dan mediator yang mengelola unsur-unsur tersebut.

READ  Pemikiran Pak Wiranto Menggiring pada Framing Buruk Untuk Islam - Warta Batavia

 

Model lain yang disarankan ialah Flipped Classroom atau Kelas Terbalik. Pada model ini, peserta didik diminta mengakses informasi melalui teknologi dalam jaringan di luar kelas kemudian berdiskusi, berlatih, atau melakukan pendalaman pemahaman dengan difasilitasi oleh guru di kelas. Interaksi tatap muka dalam pendekatan pembelajaran ini dibantu dengan belajar mandiri melalui digital.

 

Editor: Kendi Setiawan

 

Memahami Pengembangan Madrasah Digital – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *