Membangun Perkumpulan Digital NU – Aspiratif News

Membangun Komunitas Digital NU
Views: 927
Read Time:4 Minute, 20 Second

Membangun Perkumpulan Digital NU – Aspiratif News

Kemajuan teknologi telah merubah cara hidup. Tanpa terasa Waktu ini kita seakan tidak dapat lepas dari telepon jenius atau bermacam gawai hebat lainnya. Cuma dalam beberapa bulan selama  pandemi Covid-19  ini, kita makin akrab dengan pertemuan-pertemuan daring atau webinar. Artificial intelegence, search engine optimizer, algoritma, atau big data Ialah istilah baru yang jadi pembicaraan sehari-hari terkait dengan teknologi ini. Dalam sepuluh sampai 5 belas tahun ke depan, kemajuan ini akan makin cepat yang mungkin saja belum terbayangkan kondisinya waktu ini. Pergantian ini jadi Peluang sekaligus tantangan bagi Nahdlatul Ulama. 


Rapat-rapat di lingkungan NU Waktu ini juga jamak Dilakukan daring sehingga dapat diakses dari mana saja tanpa Penting Datang ke kantor sehingga memerlukan ongkos transportasi dan sejumlah waktu yang dihabiskan.  Peserta tinggal membuka aplikasi penyedia telekonferensi dari mana saja, bahkan sambil melakukan hal lain waktu mendengarkan presentasi rapat.  sesudah selesai, maka dapat berganti dengan aktivitas lainnya. Dengan sedemikian, waktu jadi makin produktif.  Tren seperti ini akan tetap berjalan sekalipun pandemi berakhir nantinya. 


Akan tetapi ada yang hilang, yaitu perjumpaan personal yang sanggup menghasilkan ikatan emosional. Omongan-obrolan ringan seringkali menghasilkan ide-ide tertentu yang akhirnya jadi sebuah program besar. Rapat daring seringkali tidak sanggup membangun koneksi di antara para peserta yang sebelumnya tidak saling kenal. 

READ  Waktu Cara Berpakaian Sayyar bin Dinar Dikritik Malik bin Dinar - Aspiratif News


Perkumpulan NU menjaga soliditasnya melalui bermacam acara kumpul-kumpul yang akhirnya menumbuhkan ikatan emosional yang terus terjaga. Tahlilan untuk mendoakan Famili yang meninggal, yasinan saban malam Jumat, majelis taklim, dan lainnya memungkinkan warga NU saling berjumpa, kenal, dan kemudian berinteraksi. Tradisi guyonan yang muncul dalam obrolan-obrolan ringan ini menghasilkan keakraban dan ikatan emosional.


Sebagian dari wujud keakraban tersebut dapat dipindah dalam format media sosial yang memungkinkan mereka yang jarang berjumpa atau berinteraksi saling Memberi komentar di dunia maya. Keputusan taktik dan keputusan legal PBNU Waktu ini diumumkan secara daring melalui website yang lalu dengan cepat dishare ke seluruh jejaring NU di seluruh dunia dalam hitungan detik dalam bermacam platform media sosial. Kecuali kecepatan, hal ini juga sanggup mengurangi distorsi karena diputusnya rantai penyampai pesan. 


Di balik manfaat yang sedemikian besar, media sosial telah jadi ruang menyebaran hoaks dan ujaran kebencian.  Informasi palsu dan fitnah bertebaran dan dishare kerena ketidaktahuan atau literasi digital yang rendah. Caci maki dengan kata-kata yang paling tidak beradab dapat dikeluarkan oleh orang yang tampak santun di kehidupan nyata. Orang yang baru belajar agama dengan entengnya mengomentari kyai senior yang jelas-jelas mempunyai otoritas dalam ilmu agama. Semuanya terjadi di ruang media sosial.


Dalam rangka mempergunakan kemajuan teknologi informasi ini, pada tahun 2003, Nahdlatul Ulama mendirikan Aspiratif News (www.nu.or.id). Pada 11 Juli 2020, website legal NU ini telah berumur 17 tahun. Situs ini menyajikan informasi yang otoritatif terkait dengan keputusan taktik, program, dan aktivitas NU. Informasi keislaman yang disajikannya didasarkan pada pendapat-pendapat paling kokoh yang diambil dari kitab sumber rujukan dipercaya karangan para ulama terkemuka. Warga NU menjadikannya sebagai  panduan dalam menjalankan amaliyah Islam di tengah bermacam perbedaan pandangan yang ditemukan di internet. 

READ  2.700 Paket Sembako Hasil dari Urunan Anggota - Aspiratif News


Dengan pengalaman selama tujuh belas tahun sekarang, Aspiratif News berusaha untuk terus menaikkan pelayanannya ke warga NU. 1 hal yang Waktu ini digagas ialah membangun sebuah aplikasi digital yang nantinya akan menyediakan bermacam kebutuhan digital warga NU, baik konten pembelajaran keislaman, pengembangan kemungkinan warga, atau kebutuhan servis organisasi.  Selama ini, bermacam informasi dan data terkait NU masih terpisah-pisah dalam bermacam platform. Integrasi data memungkinkan mahadata (big data) diolah dan dianalisis untuk pengembangan lebih detail.


Jikalau pada masa lalu, emas dan minyak Ialah barang berharga, Waktu ini data Ialah sebuah aset yang nilainya luar biasa. Bermacam platform media sosial menyediakan layanannya secara gratis, sekalipun untuk mengelola  aplikasi tersebut dibutuhkan ongkos yang amat besar. Akan tetapi mereka mempergunakan data dari orang-orang yang mengunduh servis media sosial tersebut jadi sebuah usaha yang pada akhirnya menghasilkan pendapatan. Integrasi data NU memungkinkan gerak dakwah dan pembelaan NU ke kelompok mustadlafin dapat dianalisis dan dipetakan dengan mudah untuk menghasilkan keputusan taktik yang pas. 

READ  Legitimasi Non Muslim Tetap Suka Deddy Corbuzier Masuk Islam Asalkan Lewat NU


Di masa depan, kebutuhan akan platform digital NU makin krusial karena warga NU ialah generasi digital native, yaitu bocah kecil yang semenjak lahir sudah akrab dengan dunia digital. Generasi NU waktu ini masih Ialah generasi campuran antara digital native dan digital immigrant atau orang-orang yang bersentuhan dengan teknologi digital waktu usianya sudah besar. Mereka disebut imigran karena asing dengan banyak hal yang ada di dunia digital. Pengelolaan organisasi di masa depan, akan sepenuhnya berbasis digital karena generasi zamannya ialah generasi digital. Karena itu, jadi amat penting untuk menyiapkannya dari sekarang.


Proses untuk mempersiapkan transformasi ini memerlukan waktu yang panjang. Ada banyak tahapan yang Penting Dilakukan untuk menumbuhkan budaya digital. Merubah budaya memerlukan waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan kemajuan teknologi itu sendiri. Banyak orang sulit merubah kebiasaannya karena merasa nyaman dengan teknologi konvensional. Mereka tidak bersedia merubah diri karena wajib belajar hal-hal baru.


Akan tetapi sedemikian, apa pun kemajuan teknologi yang memberi kemudahan, manusia ialah makhluk sosial. Nilai-nilai keguyuban yang dipunyai oleh warga NU wajib tetap terjaga. Teknologi dipakai dalam konteks kemampuannya melakukan efisiensi dan efektivitas kerja-kerja organisasi, bukan menggantikan posisi manusia yang akhirnya menjadikan manusia sebagai budak teknologi. (Achmad Mukafi Niam)

 

Membangun Perkumpulan Digital NU – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *