Toleransi-anak-696x464.jpeg

Memutus Mata Rantai Radikalisme-Terorisme Sejak Dini di Lingkungan Keluarga

Diposting pada
Toleransi masa kecil memutus rantai radikalisme-terorisme sejak tahap paling awal dalam lingkungan keluarga
Misalnya, siswa TK Santo Bernardus memeluk siswa dari Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) saat kegiatan love sharing di TK ABA, Kota Madiun, Jawa Timur. Diantaranya foto / Siswowidodo.

Data yang ditemukan di lapangan menunjukkan bahwa teror yang terjadi terhadap bangsa Indonesia saat ini adalah terorisme jenis serigala tunggal. Istilah ini merujuk pada aksi teror yang dilakukan oleh satu atau dua orang dan / atau oleh satu keluarga. Hal itu terjadi beberapa hari terakhir ini, seperti pemboman Katedral Makassar oleh seorang pengantin baru. Tak lama kemudian, teror pecah di Polda Metro Jaya dari seorang perempuan berusia 20 tahun.

Di sisi lain, aksi teror saat ini lebih banyak dilakukan oleh generasi muda. Berbagai analisis menunjukkan bahwa generasi muda ini sangat rentan terhadap radikalisme. Yang lebih canggih adalah ideologi radikalisme ditransfer melalui media sosial. Generasi muda sangat intens dengan media sosial dan jarang dibarengi dengan perilaku kritis. Sehingga mereka dengan mudah menyerap informasi radikal.

Dari situ, ada yang bertindak dan ada yang menyimpannya sebagai ideologi. Hal itu pula yang dianalisis bos BNPT Boy Rafli Amar.

Fenomena ini membuat khawatir banyak orang, termasuk para orang tua. Tak sedikit dari mereka yang kaget saat mengetahui bahwa anak-anak mereka dipukuli dalam aksi terorisme. Itu juga mempengaruhi banyak keluarga yang harus menanggung beban moral dari tindakan ini. Jadi, apa yang bisa dilakukan keluarga?
Untuk merespon model terorisme ini, diperlukan peran aktif keluarga dalam pencegahan terorisme dari lingkungan keluarga sejak dini. Keluarga memastikan bahwa anak-anak mereka tidak terkena radikalisme. Cara praktisnya adalah dengan mempelajari gejala dan indikator radikalisme. Gejala dan narasi yang dimaksud dapat dipelajari dari surat wasiat Zakia Aini yang ditulisnya untuk keluarganya.

Baca Juga :  Innalillah! Petugas KPPS Tangsel Curang Bagikan Bingkisan Paslon Nomor Tiga di Masa Tenang

Salah satu gejalanya adalah terorisme biasanya menjangkau banyak orang. Mereka lebih suka sendirian dengan gadget atau laptop karena menurut mereka lebih mulia mendengarkan ceramah radikal daripada bergaul dengan orang-orang yang mendukung pemerintah Thagut. Orang yang terkena radikalisme biasanya sangat agresif dengan praktik seperti pemilihan umum, upacara, penghormatan bendera, berinteraksi dengan bank, dan keterlibatan dalam program pemerintah. Jika keluarganya melakukannya, dia biasanya dengan tegas melarang mereka meninggalkan studio. Nah, biasanya mereka yang mengaji di media sosial merasa lebih Islami daripada keluarga dan orang terdekatnya.

Sedangkan narasi yang biasanya muncul yaitu demokrasi, pancasila, undang-undang dan pemilu tidak sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan sunnah. Namun, ini adalah ajaran orang kafir yang harus ditolak keras. Cerita lain, bahwa pemerintahan yang tidak menerapkan syariat Islam adalah benar dan harus ditantang. Penerapan hukum Islam adalah harga mati. Dia biasanya juga sangat sering mengucapkan jihad, hijrah dan dongeng lainnya.

Dari informasi yang beredar, ibu Zakia telah memperhatikan adanya perubahan pada bayinya. Zakia juga sangat sering melarang praktek seperti pemilu dan lain sebagainya. Indikasi pertama adalah mendapat respon aktif dari keluarga. Keluarga harus bertindak jika melihat anaknya termasuk dalam indikator di atas. Diantara tindakan yang dapat dilakukan adalah menasihati dengan ajaran Islam yang bersahabat, penuh cinta kasih dan menghargai keberadaan orang lain. Jika tidak memungkinkan, berkonsultasilah dengan ustad-ustad yang mengusung Islam yang ramah dan welas asih. Jika Anda tidak bisa, mintalah bantuan pihak berwenang.

Baca Juga :  Risma Sempat ke Mampang Jaksel Kemarin, Bertemu Penjual Jas Hujan-Pemulung

Ya, orang tua harus memotong benang merah terorisme sejak dini dimulai dari lingkungan keluarga. Mengiringi peran aktif ini, keluarga menjadi agen pencegah terorisme dan penyelamatan negara dari kehancuran. Mari kita cegah keluarga kita dari ideologi dan praktik radikalisme dan terorisme.[]

Penulis: Beta Firmansyah, Alumni STFI Sadra Jakarta.

Sumber: https://www.nuansanet.id/2021/04/memutus-mata-rantai-radikalisme.html

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *