Mendalami Motif Polisi yang “Baperan” dengan Joke Gus Dur – Aspiratif News

Views: 19
Read Time:3 Minute, 26 Second

Mendalami Motif Polisi yang “Baperan” dengan Joke Gus Dur – Aspiratif News

foto Almarhum Gus Dur. Sumber foto: Bangka Pos

Aspiratif News—Beberapa hari lalu, seorang masarakat asal Maluku Utara bernama Ismail Ahmad diperiksa oleh pihak kepolisian karena postingannya berupa kutipan Gus Dur yang berbunyi, “ Cuma ada 3 polisi jujur di Indonesia: Patung Polisi, Polisi tidur, dan Jend. Hoegeng”.

Entah mengapa, polisi menganggap postingan itu sebagai penghinaan dan Polres Kepulauan Sula bahkan mengancam akan memidanakan Ismail dengan Pasal 45 ayat (3) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Soal hal Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Tindakan pihak kepolisian ini sudah keterlaluan keterlaluan dan tidak pas sasaran. Ke-1, karena Ismail cuma mengutip kata-kata Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dianggap sebagai lelucon oleh publilk. Ke-2, jika sungguh polisi keberatan dengan kalimat itu, harusnya yang diperiksa ialah pembuat kalimat atau almarhum Gus Dur, bukan Ismail.

Sikap yang ditunjukkan pihak kepolisian terkesan begitu keterlaluan. Banyak figur publik yang menilai, seharusnya polisi tidak melakukan itu. Alissa Wahid, putri sulung Almarhum Gus Dur menilai sikap itu ialah bentuk intimidasi institusi negara untuk warganya yang mengekspresikan pandangan melalui media. Bahkan, Alissa menantang, apakah polisi akan memeriksanya juga jika ia ikut memposting joke serupa.

Tidak cuma Alissa, Staf Spesial Presiden Joko Widodo Bidang Hukum, Dini Purwono juga menilai postingan Ismail tidak bermasalah dari sisi hukum. Apa yang ditunaikan polisi memanggil dan memeriksa Ismail sungguh keterlaluan keterlaluan.

Joke Almarhum Gus Dur ini pada dasarnya telah muncul beberapa tahun lalu dan bahkan tercantum dalam sejumlah buku, di antaranya buku ‘Mati Tertawa Bareng Gus Dur’ karya Bahrudin Achmad, ‘Koleksi Humor Gus Dur’ karya Guntur Wiguna, dan buku ‘Tertawa Ala Gus Dur, Humor Sang kyai’ karya Imron Nawawi. Tetapi mengapa sekarang polisi jadi sensitif dengan Joke tua ini?

Tentu saja ada sebabnya. Jikalau sungguh polisi merasa joke ini memuat unsur penghinaan, harusnya sudah dari dulu dipersoalkan, bukan sekarang.

Integritas Polisi yang Makin Terkikis

Kita tau, akhir-akhir ini kepercayaan publik pada polisi sudah makin turun, lebih-lebih sesudah viralnya Perkara penyiraman air keras untuk penyidik KPK Novel Baswedan yang ternyata ditunaikan oleh 2 orang polisi aktif.

Perkara ini memperlihatkan publik bahwa polisi telah menghalang halangi kerja KPK dalam memberantas korupsi di Indonesia. Dalam konteks ini, polisi seakan terkesan sebagai koruptor yang tidak sudi kebusukannya diungkap ke publik.

Jikalau mereferensi pada hasil survei Lembaga survei Indikator, seperti yang dikatakan peneliti Indikator, Burhanuddin Muhtadi pada Minggu (7/6) lalu, kepercayaan publik pada institusi kepolisian telah meluncur turun dari yang awalnya 85,6 % jadi 79,4 %. Hasil survei ini belum lagi ditunaikan pasca berlangsungnya persidangan Perkara Novel Baswedan yang kemungkinan akan menyebabkan turunnya kepercayaan publik pada institusi Polri di bawah angka 79, 4 %.

Di waktu institusi Polri dibayang-bayangi stigma sebagai sarang koruptor oleh masyarakat. Humor yang diposting Ismail lalu muncul dan seakan menanyakan, “ Adakah polisi yang masih dapat kita percaya sekarang?”. Humor yang awalnya biasa-biasa saja, akhirnya jadi tidak biasa lagi bagi polisi. Tetapi sikap polisi bahkan menarik. Pemeriksaan yang ditunaikan oleh pihak kepolisian untuk Ismail bahkan menjelaskan dengan tegas bahwa polisi pada dasarnya mengakui stigma ini. Polisi seakan merasa dirinya sudah tidak lagi jujur, sehingga cepat tersinggung jika ketidakjujuran ini diungkap ke publik, bahkan oleh kalimat-kalimat humor seperti joke Gus Dur.

Padahal, jika saja polisi mau berbaik sangka, postingan ini pada dasarnya ialah teguran halus masyarakat untuk para polisi agar kembali untuk jalurnya, sebagai pengayom dan pelindung rakyat. Para polisi harusnya membenahi citranya di mata publik dengan cara menghukum sekeras-kerasnya oknum-oknum polisi tidak bertanggung jawab yang telah mencederai nama baik kepolisian, bukan bahkan menjaga dan membela mereka. Seharusnya, rakyat seperti Ismail diberikan penghargaan dari kepolisian atas jasanya Mengingatkan institusi ini untuk berbenah dan membenahi diri. Atau jika tidak dalam bentuk penghargaan, polisi dapat sekadar membalas postingan itu dengan ucapan, “ Terimakasih ya, udah ngingetin.” (HA/Aspiratif News)


Mendalami Motif Polisi yang “Baperan” dengan Joke Gus Dur – Aspiratif News

READ  Berhasil Gelar Haji di Tengah Pandemi, Saudi Mulai Persiapkan Umroh – Warta Batavia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *