Meneguhkan Pancasila sebagai Dasar Bernegara – Aspiratif News

Views: 25
Read Time:4 Minute, 11 Second

Meneguhkan Pancasila sebagai Dasar Bernegara – Aspiratif News

Di tengah-tengah pandemi yang menghantui dunia, tiba-tiba saja DPR mengusulkan rancangan undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang akhirnya jadi kontroversi karena bagian pasalnya mengekstraksi Pancasila jadi trisila dan kemudian ekasila sebagai pemaknaan ke Pancasila. Nahdlatul Ulama bareng dengan ormas Islam lainnya menentang hilangnya sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang secara substansi dapat dimaknai pengubahan Indonesia dari negara religius jadi sekuler. 


5 sila yang jadi dasar dalam kehidupan bernegara ini Ialah hasil abstraksi pemikiran dan dialog panjang para pendiri bangsa (founding father) yang berasal dari bermacam back-ground. Semenjak awal 1900-an, di Nusantara telah muncul bermacam organisasi yang punya maksud untuk memperjuangkan kemerdekaan: Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Budi Utomo, PNI, dan lainnya. Masing-masing organisasi mewakili agama atau ideologi tertentu. 


Zaman itu Ialah masa bersemainya usaha kemerdekaan bermacam bangsa yang selama ratusan tahun mengalami kolonisasi. Masing-masing pejuang kebangsaan berusaha mencari prinsip-prinsip dasar yang jadi visi bareng dalam berbangsa. Agama, humanisme, sosialisme, dan bermacam ideologi lain yang berkembang berusaha menawarkan jalan keluar atas bermacam problem yang muncul. Para pemikir kebangsaan di Indonesia pun tidak ketinggalan, mengaji bermacam konsep tersebut. 


Waktu itu ummat Islam menginginkan negara yang akan dibentuk Ialah negara agama. Kelompok sekuler liberal menginginkan pemisahan full antara kehidupan agama, sementara pihak sosialis menginginkan sebuah negara yang Mengatakan dengan tegas prinsip keadilan sosial sebagai yang paling Utama. Pada akhirnya, dialog intens yang diselenggarakan oleh para pendiri bangsa tersebut akhirnya menghasilkan konsensus berupa Pancasila yang memasukkan prinsip-prinsip dasar agama dan ideologi besar yang berkembang di dunia, seperti ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan. Ummat Islam bersedia berkompromi terkait penghapusan redaksi pada sila ke-1 dalam Piagam Jakarta yang berbunyi Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya jadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini untuk menyatukan bermacam pandangan dan pihak yang amat bermacam di Indonesia. 

READ  Indonesia Legal Jadi Tuan Ruah Kompetisi Filateli Dunia 2020 - Warta Batavia


Akan tetapi bukan artinya langkah seterusnya berlangsung dengan mudah sesudah kemerdekaan dideklarasikan. Bermacam Bughot di daerah yang terjadi selama Orde Lama, perdebatan dalam sidang Dewan Konstituante, sampai dengan kejadian 1965, bahkan amandemen UUD 1945 yang berlangsung pada periode 1998-2002 mencerminkan pertarungan konsep bernegara antar-berbagai pihak dan ideologi. Tekad bulat-kesepakatan dasar tersebut belum sepenuhnya diterima. 


Apa yang terjadi waktu ini Ialah pertarungan lanjutan dari kontestasi ideologi yang telah muncul semenjak sebelum kemerdekaan. Ummat Islam arus Utama telah menerima Pancasila, akan tetapi beberapa pihak Islam masih mengampanyekan jargon-jargon negara agama seperti sistem khilafah, NKRI bersyariah atau nama lainnya yang intinya ingin merubah Indonesia jadi negara agama. Kelompok sekuler dengan bermacam variannya, baik liberal, sosialis atau lainnya juga tetap memperjuangkan pemisahan agama dengan kehidupan bernegara. Bermacam pandangan dan kepentingan ini mungkin tidak akan pernah hilang dan perebutan pengaruh terus berlangsung dalam produk bermacam undang-undang dan aturan turunan di bawahnya. 


Dalam tataran yang lebih operasional, pemaknaan ke nilai-nilai Pancasila juga mengalami Pergantian sesuai dengan rezim yang berkuasa. Yang masih melekat dalam ingatan banyak orang, khususnya yang lahir di era 80-an ialah keputusan taktik Orde Baru terkait dengan Pancasila, yaitu Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dengan butir-butir Pancasila-nya. Akan tetapi, waktu rezim tersebut tumbang, program-program yang diusungnya sudah tidak lagi populer di penduduk.

READ  Penunjukan Boy Kepala BNPT Sesuai Prosedur - Aspiratif News


Sekalipun melelahkan, jikalau menengok perjalanan panjang dalam menentukan arah kita berbangsa, maka bentuk kenegaraan kita makin mengalami kristalisasi. Akan selalu ada perbedaan pandangan dalam sebuah problem, tetapi dalam hal-hal yang sifatnya mendasar, Tekad bulat tersebut sebaiknya tidak Penting lagi pro kontra. 


NU dan organisasi Islam lainnya menerima Pancasila sebagai dasar berorganisasi sesudah memastikan bahwa Pancasila tidak dapat menggantikan Islam sebagai agama. Karena itu, wajar jikalau terjadi penolakan keras waktu muncul usaha memeras Pancasila jadi trisila, apalagi ekasila yang menghilangkah prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. Perdebatan soal trisila dan ekasila Ialah bagian dari ide-ide para pendiri bangsa yang kemudian masing-masing menyepakati yang the best bagi bangsa ini. 


Jika hal-hal prinsip tersebut terus saja pro kontra, maka usaha implementasi dari nilai-nilai tersebut akan jauh dari apa yang kita harapkan.Nilai-nilai dalam Pancasila Ialah prinsip universal yang baik yang diterima semua bangsa. Saatnya kita bergerak maju untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut. Korupsi, ketimpangan sosial, polarisasi politik, ujaran kebencian, dan lain-lain yang masih marak di Indonesia Ialah cerminan dari jauhnya implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. 

READ  Satgas NU Peduli NTB Soroti Tingginya Anak Terpapar Covid-19 - Aspiratif News


Keberhasilan sebuah pemerintahan atau partai politik yang berkuasa, jangan lagi didasarkan pada merubah konsep-konsep yang sudah disepakati para pendiri bangsa. Jika usaha merubah itu terus ditunaikan, maka penguasa seterusnya berkemungkinan akan kembali melakukan Pergantian sesuai dengan perspektifnya sendiri. Dengan sedemikian, kita akan jadi sebuah bangsa yang tidak pernah selesai dalam menentukan jati dirinya. 


Penerimaan Pancasila di penduduk, akan ditetapkan oleh sejauh mana keberhasilan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Jika sekedar jadi jargon yang diteriakkan dalam bermacam perjumpaan atau dituliskan di papan-papan pengumuman yang tidak dibaca, maka cita-cita untuk merubah konsep dasar negara akan selalu hidup. Itulah tugas kita sekarang, untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila. (Achmad Mukafi Niam)

 

Meneguhkan Pancasila selaku Dasar Bernegara – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *