Rizieq-a-696x392.jpg

Mengapa Ada Anggota FPI Jadi Teroris? Penelusuran Pemikiran Habib Rizieq

Diposting pada

Habib Rizieq dipengaruhi oleh Sayyid Qutb, terutama dalam doktrin Judgeiyyah (kedaulatan di tangan Tuhan). Demikian ulasan singkat pemikiran Habib Rizieq dalam disertasinya di Malaysia.

FPI disebut-sebut dalam penangkapan tersangka teroris yang terkait dengan jaringan terduga pelaku bom bunuh diri di Makassar. Pasalnya, ditemukan seragam KTA dan FPI di lokasi razia. Selain itu, tersangka teror diketahui pernah menyaksikan persidangan Habib Rizieq dalam dua persidangan terakhir. Penemuan ini menambah daftar panjang hubungan antara IPF dan kelompok ekstremis.

Hubungan FPI dengan kelompok ekstremis seperti Jamaah Anshorut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS dibantah oleh Munarwan. Juru bicara FPI. Munarman mengatakan, FPI tidak ada hubungan dengan JAD karena “berbeda dengan manhaj”. Apa yang dimaksud Munarman dengan “Manhaj yang berbeda” sehingga tidak mungkin menghubungkan FPI dan JAD dan ISIS di belakang mereka?

Sebelumnya, muncul cerita bahwa FPI adalah penganut Ahlus Sunnah Wal Jamaah Islam, yang secara iman dan amaliyah sama dengan organisasi tradisionalis Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tampaknya yang dimaksud Munarman dengan “Manhaj yang berbeda” adalah perbedaan pendapat tentang masalah keimanan dan amalan ibadah. Dimana, JAD dan ISIS dikenal sangat menganut pandangan Sunni-Wahhabi yang sangat puritan, menentang semua yang direduksi dan sesat, sedangkan FPI memiliki orientasi tradisionalis yang menganut mazhab dalam urusan keimanan, fiqh dan tasawuf mereka cenderung menerima tradisi Islam. yang sedang populer di masyarakat.

Ini ada benarnya. Memang benar FPI lebih dekat dengan PBB dalam hal keyakinan dan praktik keagamaan, serta sikap terhadap tradisi Islam populer. Benar, FPI didukung oleh sejumlah pemuka agama dengan latar belakang tradisional ala UN. Namun yang perlu ditekankan adalah FPI dan PBB berbeda dalam pemikiran dan gerakan nasionalnya.

FPI, sebagaimana terlihat dalam pemikiran Habib Rizieq dalam disertasinya, sangat dipengaruhi oleh doktrin yang berkembang antara Ikhwanul Muslimin dan Wahabisme. Dove, ISIS dan JAD, kelompok kelahiran al-Qaeda yang menggabungkan pandangan politik pan-Islam dari Ikhwanul Muslimin dan teologi Wahhabisme.

Baca Juga :  Kecam Pelaku Ledakan Bom di Gereja Katedral Makassar, MUI: Itu Bukan Mati Syahid, Tapi Mati Sangit

Habib Rizieq adalah tokoh intelektual yang berhasil menghadirkan FPI dalam kompetisi Indonesia kontemporer; Dari pendirian pemikiran hingga gerakan organisasi, Habib Rizieq telah menjadi seorang pemikir. Tanpa Habib Rizieq, FPI akan segera kehilangan tajinya, seperti yang terlihat saat Habib Rizieq ditahan bertahun-tahun di Arab Saudi. Habib Rizieq adalah pemikir utama, jika bukan satu-satunya, di antara FPI. Karena itu, ideologi FPI adalah pendapat Habib Rizieq.

Jika dikatakan FPI dalam hal ini tercermin dalam pemikiran Habib Rizieq Syihab yang memiliki tingkat pengaruh antara Ikhwanul Muslimin dan Wahabisme dalam pemikiran politiknya, apa sebenarnya itu?

Doktrin Hakimiyyah

Hakimiyyah artinya negara hukum ada di tangan Tuhan Doktrin ini dikembangkan oleh pemikir Islam Pakistan, Abul A’la Al-Maududi, kemudian dikembangkan oleh Sayyid Qutb di Mesir. Beberapa intelektual Wahhabi telah mengembangkan konsep Tauhid Hakimiyyah. Dimana konsep kedaulatan Tuhan merupakan bentuk tauhid yang harus dianut oleh umat Islam, pelanggaran doktrin tauhid akan mengakibatkan politeisme yang dapat mengeluarkan seseorang dari identitas Islam. Hal ini misalnya dikembangkan oleh Amin Sinqithi dalam Tafsir Adhwa’ul Bayan Fi Tafsir Al-Quran Bi Al-Qur’an, dan dielaborasi oleh Abdurrahman bin Abdul Aziz As-Sudais dalam disertasinya yang berjudul Al-Hakimiyyah Fi Tafsir Adhwa ‘Al -Bayan. Karya terbaru yang digunakan oleh pendukung ISIS menyebarkan propagandanya dan diterjemahkan oleh Aman Abdurrahman. Dalam beberapa versi Wahabisme, model tauhid Hakimiyyah ditolak.

Habib Rizieq mengutip dan tampaknya mendukung konsep Hakimiyyah, khususnya yang dikembangkan oleh Sayyid Qutb. Habib Rizieq yang dalam disertasinya berbicara tentang penerapan hukum Islam di bawah naungan Pancasila, menginginkan agar hukum Islam menjadi rujukan dalam konstitusi dengan memaknai sila pertama sebagai sila yang fundamental dan sebagai acuan untuk menafsirkan asas-asas lain dalam Pancasila.

Habib Rizieq dalam komentarnya tentang kewajiban menegakkan hukum Islam, mengutip Qs. Al-Maidah: 44-47, dimana dikatakan kata demi kata bahwa mereka yang tidak menerapkan hukum Allah dikutuk sebagai orang kafir, fasik dan pelanggar. Untuk memperkuat pandangannya tentang ayat tersebut, Habib Rizieq mengutip Sayyid Qutb;

Baca Juga :  Didampingi Rano Karno, Jaja Miharja dan Sekjen PSI Muhamad-Saraswati Optimis Unggul dalam Debat

“Kafir karena mereka menolak Ketuhanan Allah yang tercermin dalam penolakan Syariah-Nya. Ini adalah kejahatan karena membawa orang ke sesuatu selain Syariah Allah dan menyebarkan bahaya dalam hidup mereka. Seperti Fasiq karena dia keluar dari aturan Allah dan mengikuti jalan yang berbeda dari-Nya ”(Fi Zhilal Al-Qur’an, chap 6, hal 901).

Habib Rizieq, setelah mengutip Sayyid Qutb, Habib Rizieq mengutip penjelasan ahli fiqh Mustafa Hin dan Mustafa Dib Syria, serta tafsir Hamka dan Quraish Shihab; yang berbicara tentang bentuk ketidakpercayaan. Penjelasan Habib Rizieq dalam disertasinya secara gamblang mengarah pada pembahasan tentang kemungkinan zina oleh umat Islam yang tidak menerapkan syariat Islam. Perselingkuhan merupakan kata kunci penting karena kegagalan dalam menerapkan hukum Islam.

Habib Rizieq juga menyatakan bahwa hukum di luar Syariah adalah hukum jahiliyyah; pinjam nomenklatur Alquran. Penjelasan konsep jahiliyyah mengacu pada Sayyid Qutb. Untuk menunjukkan otoritas Sayyid Qutb dalam tafsirnya, Habib Rizieq mengutip penerimaan Syekh Ali As-Shobuni, sosok yang dihormati oleh umat Islam tradisional. Habib Rizieq juga memuji Sayyid Qutb sebagai “As-Syahid”.

Kecenderungan Habib Rizieq dalam studinya adalah menambah referensi yang mendukung tokoh intelektual modern yang terkadang diterima oleh kalangan tradisional. Namun, Habib Rizieq tampaknya jarang merujuk pada tafsir klasik atau tafsir yang disusun oleh para sarjana sektarian.

Di sini Anda bisa melihat sekilas bahwa Habib Rizieq memiliki kecenderungan mendukung pemikiran Sayyid Qutb tentang doktrin Judgeiyyah. Namun, jika Anda ingin merujuk pada karya eksegesis klasik, Anda akan menemukan berbagai pendapat tentang ayat ini.

Qs. Al-Maidah: 44-47 adalah ayat yang menjadi gagasan utama Khawarij pada abad pertama Islam. Ini mulai digunakan kembali di abad modern ini untuk mendukung agenda pembentukan negara Islam. Meski aktivis berbeda istilah, mereka ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara. Habib Rizieq ingin berkompromi dengan realitas, mengakui Pancasila sebagai dasar negara; Namun dalam imajinasi Habib Rizieq, Pancasila ditafsirkan sesuai dengan doktrin Hakimiyyah.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Cabut Lampiran Perpres 10/2021 soal Miras

Habib Rizieq merasa dibenarkan dengan praktik para penguasa di Indonesia selama perjalanannya ke Indonesia. Padahal, meskipun penguasa mengatasnamakan Pancasila, dalam praktiknya penafsiran Pancasila berbeda-beda sesuai dengan kecenderungan Presiden. Di era Soekarno, Pancasila dimaknai sebagai kecenderungan Marxis kiri. Di era Soeharto, Pancasila diartikan sebagai trend orang Jawa. Habib Rizieq memanggilnya “Kejawen”. Pasca reformasi, Megawati dan SBY memiliki kecenderungan yang berbeda. Artinya tafsir Pancasila sangat ditentukan oleh pemegang kekuasaan. Jika mereka yang sekuler dari sudut pandang Habib Rizieq dapat menafsirkan Pancasila, maka kelompok Islam dapat memaknainya dari sudut pandang mereka. Artinya formalisasi hukum Islam sangat dimungkinkan dalam konteks Pancasila. Inilah yang membedakan Habib Rizieq dengan pengikut ISIS seperti Aman Abdurrahman dan JAD.

Namun bagi sebagian anggota jaringan JAD, ternyata FPI memiliki misi dan agenda yang sama, sehingga mereka merasa tidak ada masalah bergabung di bawah bendera FPI. Terlepas dari konteks infiltrasi atau agenda bersama, akhirnya ada beberapa jaringan JAD yang menggantungkan harapan pada FPI dan bergabung. Inilah mengapa anggota FPI setia kepada pemimpin ISIS di Sulawesi pada 2015 dan ditangkap hari ini karena diduga terlibat dalam jaringan teroris.

M Khoirul Huda

Sumber: https://harakah.id/mengapa-ada-anggota-fpi-jadi-teroris-pen”-pemikiran-habib-rizieq/

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *