Juli 14, 2020

ASPIRATIF

Aspiratif Situs Web Berbagi Aspirasi dan Berita Indonesia Terkini, Update Setiap Hari ….

Mengenal Makna Bid’ah Dari 5 Penjelasan – Warta Batavia

img
13 Views
Read Time:5 Minute, 47 Second
Makna bid’ah dalam islam. Foto: istimewa

Islam Nusantara – Ada sekelompok golongan yang suka membid’ah-bid’ahkan (sesat) bermacam aktifitas yang baik di masyarakat, seperti warning maulid, isra’ mi’raj, yasinan mingguan, tahlilan dll. Kadang mereka berdalil dengan dalih “Agama ini telah sempurna” atau dalih “Jikalau perbuatan itu baik, niscaya Nabi Saw telah mencontohkan lebih dulu” atau menerangkan “Itu bid’ah” karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Saw atau “jikalau hal tersebut dibenarkan, maka pasti Nabi Saw memerintahkannya. Apa engkau merasa lebih pandai dari Rasulullah?”


Memvonis bid’ah sesat suatu amal perbuatan (baru) dengan argumen di atas ialah lemah sekali. Ada bermacam amal baik yang Baginda Nabi Saw. tidak mencontohkan ataupun memerintahkannya. Teriwayatkan dalam bermacam hadits dan dalam fakta sejarah.

1. Hadis riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Sawberkata untuk Bilal waktu shalat fajar (shubuh), “Hai Bilal, ceritakan kepadaku amalan apa yang paling engkau ingin pahalanya yang pernah engkau amalkan dalam masa Islam, sebab saya menguping suara terompamu di surga. Bilal berkata, “Saya tidak mengamalkan amalan yang paling saya harapkan lebih dari saban kali saya bersuci, baik di malam maupun siang hari kecuali saya shalat untuk bersuciku itu”. 

Dalam riwayat at Turmudzi yang ia shahihkan, Rasulullah Sawberkata untuk Bilal,
‘Dengan apa engkau mendahuluiku masuk surga? ” Bilal berkata, “Saya tidak mengumandangkan adzan melainkan saya shalat 2 rakaat, dan saya tidak berhadats melainkan saya bersuci dan saya mewajibkan atas diriku untuk shalat (sunnah).” Maka Rasulullah Sawbersabda “dengan keduanya ini (engkau mendahuluiku masuk surga).

Hadist di atas juga diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia berkata, “Hadist shahih berdasar syarat keduanya (Bukhari dan Muslim).” Dan adz Dzahabi mengakuinya.


Hadist di atas menerangkan secara mutlak bahwa sahabat ini (Bilal) melakukan sesuatu dengan maksud ibadah yang sebelumnya tidak pernah ditunaikan atau ada perintah dari Nabi SAW.

2. Hadis riwayat Bukhari, Muslim dan para muhaddis lain pada kitab shalat, bab Rabbanâ laka al Hamdu,

Dari riwayat Rifa’ah ibn Râfi’, ia berkata, “Kami shalat dibelakang Nabi SAW, maka waktu beliau mengangkat kepala beliau dari ruku’ beliau membaca, sami’allahu liman hamidah (Allah maha menguping orang yang memnuji-Nya), lalu ada seorang dibelakang beliau membaca, “Rabbanâ laka al hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fîhi (Tuhan kami, cuma untuk-Mu segala pujian dengan pujian yang banyak yang indah serta diberkahi). 

sesudah selesai shalat, Rasulullah Sawbersabda “Siapa orang yang membaca kalimat-kalimat tadi?” Ia berkata, “Saya.” Nabi bersabda, “Saya menyaksikan 3 puluh lebih malaikat berebut mecatat pahala bacaaan itu.”

Ibnu Hajar Memberi komentar, “Hadist itu dijadikan hujjah/dalil dibolehkannya berkreasi dalam dzikir dalam shalat selain apa yang diajarkan (spesial oleh Nabi SAW) jikalau ia tidak bertentang dengan yang diajarkan. Ke-2 dibolehkannya mengeraskan suara dalam berdzikir selama tidak menggangu.”

Makna Bid’ah Dalam Islam

3. Imam Muslim dan Abdur Razzaq ash Shan’ani meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata,

Ada seorang lali-laki Datang sementara orang-orang tengah menunaikan shalat, lalu waktu sampai shaf, ia berkata:

اللهُ أكبرُ كبيرًا، و الحمدُ للهِ كثيرًا و سبحانَ اللهِ بكْرَةً و أصِيْلاً.

sesudah selesai shalat, Rasulullah Sawbersabda, “Siapa yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi ?. Orang itu berkata, “Saya wahai Nabi Saw, saya tidak mengucapkannya melainkan berkeinginan kebaikan.”  Nabi Saw bersabda, “Saya sungguh-sungguh menyaksikan pintu-pintu langit terbuka untuk menyambutnya.” Ibnu Umar berkata, “Semenjak saya mendengarnya, saya tidak pernah meninggalkannya.”  Dalam riwayat an Nasa’i dalam bab ucapan pembuka shalat, cuma saja redaksi yang ia riwayatkan: “Kalimat-kalimat itu diambil paksa oleh 2 belas malaikat.”. Dalam riwayat lain, Ibnu Umar berkata: “Saya tidak pernah meningglakannya semenjak saya

menguping Rasulullah saw. bersabda seperti ini

Disini diterangkan secara Jelas bahwa seorang sahabat menambahkan kalimat dzikir dalam i’tidâl dan dalam pembukaan shalat yang tidak atau belum pernah dicontohkan atau diperintahkan oleh Nabi Saw dan reaksi Nabi Saw pun membenarkannya dengan pembenaran dan kerelaan yang luar biasa. Al hasil, Nabi Saw telah men-taqrîr-kan (membenarkan) sikap sahabat yang menambah bacaan dzikir dalam shalat yang tidak pernah beliau ajarkan.

4. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya, pada bab menggabungkan antara 2 surah dalam 1 raka’at dari Anas, ia berkata “Ada seorang dari suku Anshar memimpin shalat di Masjid Quba’, saban kali ia shalat mengawali bacaannya dengan membaca Surah Al Ikhlash sampai selesai kemudian membaca surah lain bersamanya. 

Sedemikian pada saban raka’atnya ia berbuat. Temen-temannya menegurnya, mereka berkata, “Engkau selalu mengawali bacaan dengan surah itu lalu engkau tambah dengan surah lain, jadi sekarang engkau pilih, apakah membaca surah itu saja atau membaca surah lainnya saja.” Ia menjawab, “Saya tidak akan meninggalkan apa yang biasa saya kerjakan. Jikalau Anda seluruh tidak keberatan saya mau mengimami Anda seluruh, kalau tidak carilah orang lain untuk jadi imam.” 

Sementara mereka meyakini bahwa orang ini paling layak jadi imam shalat, akan tetapi mereka keberatan dengan apa yang ditunaikan.

Waktu mereka mendatangi Rasulullah Sawmereka melaporkannya. Nabi menegur orang itu seraya bersabda, “hai fulan, apa yang mencegahmu melakukan apa yang diperintahkan teman-temanmu? Apa yang mendorongmu untuk selalu membaca surah itu (Al Ikhlash) pada saban raka’at? Ia menjawab, “Saya mencintainya.”


Maka Rasulullah Sawbersabda, “Kecintaanmu kepadanya memasukkanmu ke dalam surga.”

Demikianlah sunnah dan jalan Rasulullah Sawdalam menyikapi kebaikan dan amal keta’atan walaupun tidak diajarkan secara spesial oleh beliau, akan tetapi selama amalan itu sejalan dengan ajaran kebaikan umum yang beliau bawa maka beliau selalu merestuinya. Respon orang tersebut membuktikan motifasi yang mendorongnya melakukan apa yang baik kendati tidak ada perintah spesial dalam problem itu, akan tetapi ia menyimpulkannya dari dalil umum dianjurkannya berbanyak-banyak berbuat kebajikan selama tidak bertentangan dengan dasar tuntunan spesial dalam syari’at Islam.

Kendati seperti ini, tidak seorangpun dari ulama Islam yang menerangkan bahwa mengawali bacaan dalam shalat dengan surah Al Ikhlash kemudian membaca surah lain ialah sunnah yang tetap! Sebab apa yang kontinyu ditunaikan Rasulullah Sawialah yang seharusnya dipelihara, akan tetapi ia memberikan kaidah umum dan bukti nyata bahwa praktik-prakti seperti itu dalam ragamnya yang bermacam-macam walaupun seakan secara lahiriyah tidak sama dengan yang ditunaikan Rasulullah Sawtidak artinya ia bid’ah (sesat).

5. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab at Tauhid, dari Ummul Mukminin Aisyah ra. bahwa Nabi SAW. Mengutus seorang memimpin sebuah Serdadu, selama perjalanan orang itu apabila memimpin shalat membaca surah tertentu kemudian ia menutupnya dengan Surah Al Ikhlash (Qulhu). Waktu pulang, mereka melaporkannya untuk Nabi SAW, maka beliau bersabda, “Tanyakan kepadanya, mengapa ia melakukannya?” Waktu mereka menanyakan kepadanya, ia menjawab “Sebab surah itu (memuat) sifat Ar Rahman (Allah), dan saya suka membacanya.” Lalu Rasulullah Sawbersabda, “Beritahukan kepadanya bahwa Allah mencintainya.” (Hadist Muttafaqun Alaihi).

Apa yang ditunaikan sahabat itu tidak pernah ditunaikan oleh Nabi SAW, akan tetapi kendati seperti ini beliau membolehkannya dan menyokong pelakunya dengan menerangkan bahwa Allah mencintainya. [dutaislam/ka]



Mengenal Makna Bid’ah Dari 5 Penjelasan – Warta Batavia

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %