Connect with us

Artikel

Mengenal Masjid Raya Al-Mashun, Tradisi Sultan Masih Dipegang Teguh

Published

on

SUMUT, ASPIRATIF.com – Masjid Raya Al-Mashun adalah salah satu cagar budaya di Medan, Sumatera Utara (Sumut). Pembangunan masjid ini dipimpin oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam sebagai pemimpin Kesultanan Deli waktu itu, pada 12 Agustus 1906 dan rampung pada 10 September 1909.

Masjid ini merupakan masjid Kesultanan Deli. Lokasinya berdekatan dengan Istana Maimun, pusat otoritas kerajaan Deli yang berdiri kokoh sampai saat ini.

Masjid ini memiliki banyak sekali keistimewaan, terutama pada saat hari besar agama Islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Tradisi Kesultanan Melayu masih dipegang teguh di masjid ini pada Hari Raya.

Ada satu tradisi yang masih diterapkan tiap kali menjelang salat Id, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Sultan atau perwakilan pihak kesultanan akan dipayungi saat hendak memasuki masjid.

Advertisement

Payung kerjaan ini berwarna kuning. Sejak zaman kerjaan, payung memang melambangkan status sosial.

Dalam tradisi ini, ada seorang pengawal istana yang berdiri tepat di belakang sultan untuk memegang payung berwarna kuning setinggi 1,5 meter yang sudah berusia ratusan tahun.

Sultan dan rombongannya kemudian berjalan perlahan dengan menggunakan busana khas Melayu Deli untuk menuju masjid.

“Sultan ataupun Pemangku Sultan itu nanti akan dipayungi dari mulai pintu gerbang sampai ke atas, dilepas payungnya terus masuk, nah baru salat dimulai. Nah Salat Idul Fitri dan Idul Adha itu menunggu Sultan datang baru salat dimulai dan itu dilakukan sampai sekarang tapi walaupun beliau ditunggu, tapi biasanya tepat waktu. Kita janjikan umpamanya jam 08.00, sebelum waktunya itu beliau sudah sampai. Jadi pas dengan waktu yang sudah ditentukan,” ungkap pengurus Masjid Raya Medan

See also  Cerita Hari Raya Idul Fitri di Negara ASEAN

Tradisi pemayungan sultan ataupun pemangku sultan ini terus dilaksanakan hingga saat ini. Hamdan menyebutkan pemayungan kesultanan dilakukan ini demi melestarikan tradisi yang sudah dilakukan sejak dulu.

Advertisement

“Ini coba kita lestarikan terus, Insha Allah bisa kita pertahankan agar juga generasi muda ke depan mereka tahu tradisi yang ada di kesultanan Deli. Tentu dalam hal ini beliau sultan tentu menghormati beliau. Walaupun sudah NKRI tapi ini tradisi yang bagus untuk dipertahankan untuk generasi muda paham sejarah dulu, walaupun tidak sesempurna dulu. Kalau dulu sultan ini dipayungi saat jalan kaki sekarang sudah naik mobil. Sampai di depan baru dipayungi,” jelasnya.

Ternyata, tradisi kehadiran raja ke masjid itu selalu ditunggu oleh masyarakat tiap Idul Fitri. Hal ini turut dirasakan Mbok Miyah, lansia 70 tahun yang rumahnya tak terlalu jauh dari Masjid Raya.

Mbok Miyah sudah menyaksikan tradisi ini sejak era Kesultanan Sultan Azmy Perkasa Dunia Alhaj. Setiap salat hari raya keagamaan seperti Idul Fitri dan Idul Adha, ia turut melihat tradisi ini.

Mbok Miyah rutin melaksanakan salat di masjid itu. Terlebih saat momen Ramadan, ia lebih banyak menghabiskan hari-harinya di masjid, baik itu salat maupun tadarusan.
Keterikatan batin dengan Masjid Raya membuat Mbok Miyah selalu antusias apabila sultan datang dengan sejumlah tradisinya.

Sesaat, ia mengingat sosok Sultan Azmy dulu yang melaksanakan salat Idul Fitri di Masjid Raya. Samar, Mbok Miyah menceritakan sosok Sultan Azmy yang gagah dan memiliki kewibawaan.

Advertisement

“Lihat kalau mau salat Lebaran. Mukanya itu tegas, wibawa orangnya. Apalagi udah pakai baju Melayu itu, bagus sekali, kayak di kerajaaan-kerajaan dululah,” kenang Mbok Miyah.

See also  Ganjar Jadi Capres, Ini Daftar Partai Yang Mendukungnya Selain PDI-P

Sejarawan UINSU Hendri Dalimunthe menilai tradisi pemayungan Kesultanan Deli di Masjid Raya ini memiliki beberapa prosesi dan ternyata masih disambut antusias oleh jamaah di masjid tersebut.

“Di masa kesultanan dulu, Sultan waktu salat Jumat itu ada diiringi penjaga-penjaganya. Banyak masyarakat di wilayah kesultanan Deli itu menunggu sultan berdiri di atas tangga masjid. Kadang beberapa saat, Sultan melambaikan tangan dan menyapa masyarakatnya. Namun ada juga di hari besar keagamaan, Sultan selalu menyampaikan pidato kebesarannya di hadapan masyarakat di Masjid. Sering sultan seperti itu, kalau kita lihat konteks seperti itu tidak jauh berbeda,” pungkasnya.

Source: detiksumut
Dok : Masjid Raya Medan. (Foto: Ichwan Noor/d’Traveler)

Advertisement
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *