Juli 9, 2020

ASPIRATIF

Aspiratif Situs Web Berbagi Aspirasi dan Berita Indonesia Terkini, Update Setiap Hari ….

Mengintip Usaha Jamur Merang Limbah Sawit Warga NU di Pringsewu – Aspiratif News

5 Views
Read Time:2 Minute, 35 Second

Mengintip Usaha Jamur Merang Limbah Sawit Warga NU di Pringsewu – Aspiratif News

Pringsewu, Aspiratif News

Di tengah pandemi Covid-19 yang sampai waktu ini belum mereda, bermacam usaha Dilakukan masarakat NU untuk memperkuat ketahanan ekonomi. Bagian usaha yang patut dicontoh ialah usaha budi daya jamur merang dengan mempergunakan limbah sawit.


Seperti yang Dilakukan Irsadul Ibad, pengurus NU yang juga seorang guru di Desa Keputran Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu, Lampung. Ia menekuni usaha ini semenjak Covid-19 mewabah. Ia mengakui, situasi pandemi ini menjadikan waktu Ada di rumah lebih banyak, sehingga ia berinisiatif untuk menambah penghasilan dari usaha ini.


“Prosesnya mempergunakan Tankos (Tandan Kosong) buah sawit sebagai media semai jamur merang,” kata laki-laki yang juga Ketua Majelis Wakil Cabang NU Kecamatan Sukoharjo ini untuk Aspiratif News, Rabu (3/6).


Proses awal diawali dari pembuatan kumbung atau gubuk untuk tempat tankos yang sudah difermentasi. Kumbung ini mempergunakan bahan bambu yang di dalamnya dibuat semacam rak-rak untuk media tumbuh jamur. Untuk menjaga kelembaban udara dan menghindari cahaya matahari, dinding kumbung ditutup mempergunakan plastik hitam.


Seterusnya, disiapkan media tanam jamur berupa tankos yang sebelumnya diproses dengan cara direndam. setelah direndam dan tankos sudah kelihatan membusuk, Dilakukan pengomposan ialah memberi nutrisi dan menetralisir media sebelum difermentasi.


“Bahan Utama yang dibutuhkan untuk fermentasi diantaranya katul sebagai nutrisi. Fermentasi Dilakukan selama lebih kurang 8 hari sambil membalik media dan menambahkan air kalau tankos kering,” Jelas Irsad.


setelah itu, media tanam pun siap ditata dalam rak-rak yang ada dalam kumbung. Proses ini dilanjutkan dengan pemberian uap atau pengopenan sehingga suhu dalam ruangan berkisar 60-70 derajat celcius. Proses penguapan ini mempergunakan drum yang diisi air dan dipanaskan mempergunakan tungku kayu.


“Saatnya menyemai bibit jamur dengan merata. Pada hari ke-4 penyemaian, akan mulai tumbuh spora dan hari kedelapan benih-benih jamur mulai muncul. Dan 4 hari kedepannya sudah siap dipanen,” katanya.


Alhamdulillah panen perdana, saya memperoleh 2,5 kwintal. Perkilonya waktu ini berkisar 20 ribu rupiah,” tambahnya.


Untuk pemasarannya, Irsad tidak mengalami kerepotan karena sudah ada pembeli spesial yang menampung panenannya dan dipasarkan di luar Lampung seperti ke Jakarta. Dari usahanya ini, Irsad mengakui memperoleh keuntungan seratus % lebih dari modal yang dikeluarkannya.


“Jikalau pas bagus tumbuhnya, panen dapat beberapa kali dan keuntungan dapat berlipat-lipat,” ungkapnya.


Untuk media tankos yang sudah tidak maksimum menumbuhkan jamur, akan dijadikan pupuk yang dapat menyuburkan lahan perkebunan seperti perkebunan coklat dan kopi.


Melihat kemungkinan ini, Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Kabupaten Pringsewu juga tengah mengkaji usaha ini untuk dikembangkan dan ditularkan pada masarakat NU lainnya di Kabupaten Pringsewu.

 

Waktu melakukan Lawatan ke tempat budi daya, Rabu (3/6) bagian pengurus LPNU Pringsewu Rasino menilai usaha ini cukup prospektif dikembangkan sebagai alternatif penghasilan tambahan masarakat NU.


“Di masa kondisi ekonomi yang kian melemah, masarakat NU Penting mencari jalan penyelesaian pendapatan untuk memperkuat ekonomi Famili. Budi daya ini dapat jadi alternatif. LPNU tengah melakukan pengkajian, mudah-mudahan dapat dikembangkan bagi masarakat NU,” harapnya.


Pewarta: Muhammad Faizin

Editor: Aryudi AR

 

Mengintip Usaha Jamur Merang Limbah Sawit Penduduk NU di Pringsewu – Aspiratif News

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %